Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dr Danang Baskoro Tekankan Pentingnya Mendengar Anak Tanpa Menghakimi

Iklan Landscape Smamda
Dr Danang Baskoro Tekankan Pentingnya Mendengar Anak Tanpa Menghakimi
Dr Danang Baskoro MPsi Psikolog dalam Parents’ Forum Grade IX SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik (Spemdalas), Ahad (27/9/2026). Foto: Ain Nurwindasari.
pwmu.co -

Membangun kepercayaan dengan remaja tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat.

Orangtua perlu memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan cerita, mendengarkan hingga selesai, serta memahami perasaan yang menyertainya.

Hal itu disampaikan Dr Danang Baskoro MPsi Psikolog dalam Parents’ Forum Grade IX SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik (Spemdalas).

Forum yang bertajuk “The Art of Building Trust with Our Teens” tersebut berlangsung di Hotel Horison Gresik, Ahad (27/9/2026).

Dalam materinya, Danang membahas pentingnya mendengar aktif sebagai bagian dari upaya membangun hubungan yang terbuka antara orangtua dan remaja.

Ia menjelaskan, ketika anak mulai bercerita, orangtua perlu meletakkan telepon seluler, mendengarkan sampai selesai, menangkap perasaannya, kemudian memantulkan kembali cerita dengan kata-kata sendiri.

Orangtua juga perlu memberikan ruang kepada anak untuk melanjutkan ceritanya dan dapat menanyakan apakah anak ingin didengarkan saja atau membutuhkan bantuan untuk mencari jalan keluar.

Jangan Terburu-buru Memberi Nasihat

Danang mencontohkan percakapan ketika anak mengatakan, “Aku malas sekolah. Guru matematikanya nyebelin.”

Dalam situasi tersebut, orangtua tidak langsung memberikan solusi, menceramahi, mengkritik, atau menginterogasi anak.

Menurut materi yang disampaikan Danang, nasihat dan solusi bukan sesuatu yang salah, tetapi persoalannya adalah waktu penyampaiannya.

“Remaja ingin dimengerti dulu, baru mau mendengar” demikian pesan yang disampaikan dalam materi tersebut.

Ia juga memperkenalkan konsep active listening dengan merespons perasaan anak terlebih dahulu. Misalnya, ketika anak bercerita bahwa dirinya ditegur di depan kelas, orangtua dapat merespons dengan memahami bahwa anak sedang merasa kesal atau kecewa.

Dengan demikian, percakapan tidak langsung berubah menjadi sesi pemberian nasihat.

12 Penghalang Komunikasi

Dalam materi tersebut, Danang juga membahas 12 penghalang komunikasi yang dikaitkan dengan konsep Thomas Gordon.

Beberapa di antaranya adalah memerintah, mengancam, menceramahi, langsung memberikan solusi, berdebat, mengkritik, memuji untuk menghibur, melabeli, menganalisis, menenangkan secara berlebihan, menginterogasi, dan mengalihkan pembicaraan.

Pola komunikasi tersebut dapat membuat anak menghentikan ceritanya ketika orangtua langsung memberikan respons yang membuat mereka merasa dihakimi atau tidak didengarkan.

Danang juga memberikan contoh percakapan ketika seorang anak mengatakan pernah mencoba vape. Respons orangtua yang langsung marah dan menghakimi dapat membuat percakapan berhenti.

Sebaliknya, respons yang membuka ruang komunikasi dapat membuat anak melanjutkan cerita sehingga orangtua dapat mengetahui persoalan yang sebenarnya terjadi.

SMPM 5 Pucang SBY

Validasi Emosi Anak

Selain mendengarkan, Danang menekankan pentingnya validasi emosi.

Ia membedakan respons yang cenderung menutup komunikasi, seperti “Gitu aja kok sedih”, “Jangan lebay”, atau “Kamu terlalu sensitif”, dengan respons yang mengakui perasaan anak.

Salah satu prinsip yang ditampilkan dalam materi adalah “Name it to tame it”, yaitu perasaan yang diberi nama akan lebih mudah dikelola.

Ketika anak menyampaikan perasaan, orangtua dapat terlebih dahulu mengenali dan menyebutkan emosi yang sedang dialami anak sebelum masuk pada pembahasan mengenai solusi.

Memilih Waktu dan Tempat

Lebih lanjut, Danang juga menjelaskan bahwa percakapan dengan remaja tidak selalu harus dilakukan dalam situasi formal.

Beberapa kesempatan yang dapat digunakan untuk membangun komunikasi. Antara lain ketika berada di mobil atau motor, saat memasak atau mencuci piring, ketika berjalan atau menunggu antrean, saat melakukan hobi bersama, hingga menjelang tidur.

Ia menekankan pentingnya posisi berdampingan dalam percakapan karena dinilai lebih nyaman dibandingkan berhadapan secara langsung.

Dalam menghadapi cerita yang mengejutkan, orangtua juga perlu mengendalikan respons awal.

Materi yang disampaikan Danang menyarankan orangtua menarik napas dan memberi jeda, menghargai kejujuran anak terlebih dahulu, menggali informasi dengan tenang, kemudian menyampaikan kekhawatiran tanpa menyerang anak.

Respons Orangtua Membentuk Kepercayaan Anak

Danang juga menunjukkan sejumlah perilaku orangtua yang dapat merusak kepercayaan anak.

Seperti marah atau panik setiap kali anak bercerita, membocorkan cerita anak, mengungkit kesalahan lama, membandingkan anak, serta mendengarkan sambil memainkan telepon seluler.

Dalam materi tersebut ditegaskan bahwa anak belajar dari cara orangtua merespons ceritanya.

Ketika cerita anak selalu direspons dengan kemarahan, anak dapat belajar untuk menyembunyikan cerita.

Ketika rahasianya dibocorkan, anak dapat merasa bahwa orangtuanya tidak mampu menjaga kepercayaan.

Danang juga menjelaskan bahwa kecenderungan orangtua mudah menghakimi dapat dipengaruhi rasa takut dan cemas, naluri melindungi, maupun pola asuh yang diterima orangtua ketika masih kecil.

Karena itu, dalam membangun komunikasi dengan remaja, orangtua perlu memperhatikan bukan hanya apa yang dikatakan kepada anak. Tetapi juga bagaimana merespons ketika anak memilih untuk bercerita.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 28/09/2026 01:32
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu