Mendidik anak dengan cinta bukan berarti memenuhi semua keinginannya. Kasih sayang perlu disertai keteladanan, pembiasaan, komunikasi yang hangat, dan disiplin positif agar anak tumbuh mandiri serta berkarakter.
Pesan tersebut disampaikan Dra. Aya Sophia, Sekretaris Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Probolinggo, dalam kegiatan Kasih (Keluarga Aisyiyah Dua, Sakinah, Inspiratif, dan Harmonis) yang diselenggarakan PAUD Aisyiyah II Kota Probolinggo, Sabtu (17/10/2026).
Bertema “Membentuk Anak Hebat dengan Cinta dan Keteladanan”, kegiatan parenting ini diikuti orang tua atau wali murid jenjang TK dan Kelompok Bermain. Para peserta diajak memahami kebutuhan anak dan pentingnya peran keluarga dalam pendidikan sejak usia dini.
Cinta dan Keteladanan dalam Pengasuhan
Dra. Aya Sophia menjelaskan bahwa anak masa kini menghadapi lingkungan dan tantangan yang berbeda dari generasi orang tuanya. Karena itu, orang tua perlu memahami perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai agama dan akhlak.
Kasih sayang dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti memeluk anak, mengungkapkan rasa sayang, serta meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritanya. Orang tua juga perlu membangun komunikasi dua arah dan memahami perasaan anak sebelum memberikan nasihat.
Dalam menanamkan nilai agama, orang tua dapat mengenalkan kebesaran Allah melalui lingkungan sekitar, membiasakan salat secara bertahap, serta memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter juga dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti berkata jujur, berbagi, mengembalikan barang yang dipinjam, dan memahami kepemilikan. Menurutnya, kebiasaan yang dilakukan secara konsisten menjadi fondasi pembentukan karakter anak.
Ia menegaskan bahwa cinta bukan berarti selalu mengabulkan keinginan anak. Orang tua perlu memberikan penjelasan sesuai usia agar anak memahami batasan, tanggung jawab, dan konsekuensi tindakannya.
Mencari Akar Masalah, Bukan Menyalahkan
Dalam sesi tanya jawab, peserta membahas persoalan anak yang memukul atau mengalami tindakan pemukulan. Menanggapi hal itu, Dra. Aya Sophia menekankan pentingnya komunikasi antara anak, orang tua, dan guru untuk mengetahui kejadian sebenarnya sebelum mengambil kesimpulan.
Anak perlu diarahkan bahwa memukul bukan perilaku yang dibenarkan. Orang tua juga perlu mengevaluasi contoh perilaku yang dilihat anak di lingkungan keluarga. Karena itu, penyelesaian masalah perlu melibatkan kerja sama keluarga dan sekolah demi memberikan arahan yang tepat serta lingkungan yang aman bagi anak.
Persoalan lain berkaitan dengan pengasuhan anak ketika kedua orang tua bekerja dan melibatkan nenek serta pengasuh. Ia mengingatkan pentingnya menyelaraskan pola asuh agar anak tidak bingung menghadapi perbedaan aturan. Komunikasi dengan pengasuh dan sekolah dapat membantu menanamkan nilai kebaikan secara konsisten.
Parenting sebagai Ruang Belajar Bersama
Dra. Aya Sophia mengapresiasi program parenting yang dilaksanakan secara berkala sebagai ruang bagi orang tua untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mencari solusi pengasuhan.
Menurutnya, pendidikan anak membutuhkan keterlibatan keluarga dan sekolah. Orang tua dapat menumbuhkan kemandirian dengan memberi kesempatan kepada anak melakukan kegiatan sesuai usianya, seperti makan sendiri, memakai sepatu, dan merapikan barang miliknya.
Ia mengajak orang tua terus belajar, memperbaiki pola asuh, serta memohon pertolongan Allah agar mampu mendidik generasi yang saleh dan salehah.
Melalui kegiatan Kasih, PAUD Aisyiyah II Kota Probolinggo menegaskan bahwa pendidikan anak bukan hanya tentang kecerdasan, melainkan juga pembentukan iman, akhlak, kemandirian, dan tanggung jawab melalui cinta, keteladanan, serta kerja sama keluarga dan sekolah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments