Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kondisi terbaru dua kapal kargo minyak milik PT Pertamina (Persero) yang masih berada di kawasan Selat Hormuz.
Bahlil menjelaskan, kedua kapal tersebut saat ini memilih bersandar sambil menunggu situasi yang lebih aman di tengah ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS). Pemerintah juga terus melakukan komunikasi serta negosiasi agar kapal tersebut dapat melanjutkan perjalanan dengan aman.
“Sambil kita melakukan negosiasi dan komunikasi yang lebih baik agar bisa menemukan solusi,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (5/3/2026).
Sembari menunggu perkembangan situasi, pemerintah menyiapkan langkah alternatif untuk memastikan pasokan minyak tetap terjaga. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mencari sumber impor dari Amerika Serikat.
Menurut Bahlil, langkah tersebut dilakukan untuk menutup potensi kekurangan pasokan akibat tertahannya dua kargo minyak yang melewati Selat Hormuz.
“Kita mencari alternatifnya di Amerika untuk menutupi kekurangan dari dua kargo tersebut,” jelasnya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM dan Pertamina, sekitar 19 persen impor minyak Indonesia berasal dari Timur Tengah atau melalui jalur Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut saat ini terdampak situasi keamanan setelah Iran menutup wilayah perairan tersebut.
Meski demikian, Bahlil memastikan pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario untuk menjaga ketersediaan energi nasional.
Ia menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pasokan BBM maupun LPG. Pemerintah, kata Bahlil, telah menyiapkan sejumlah strategi agar kebutuhan energi tetap terpenuhi.
“Saya meyakinkan masyarakat bahwa meskipun kondisi geopolitik sedang tidak baik, pemerintah sudah menyiapkan berbagai alternatif agar ketersediaan BBM dan LPG tetap aman,” tegasnya.
Namun demikian, Bahlil tidak menampik bahwa situasi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi yang berdampak pada besaran subsidi pemerintah.
“Yang mungkin terjadi adalah kenaikan harga yang berpengaruh pada subsidi. Saat ini kami sedang menghitungnya dengan cermat,” tambahnya.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron membenarkan bahwa pasokan minyak mentah dari Timur Tengah menyumbang sekitar 19 persen dari total impor energi Indonesia.
Baron mengatakan Pertamina telah menjalankan skema distribusi melalui jalur alternatif, baik dalam kondisi reguler maupun darurat, untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Saat ini kami sudah menjalankan proses distribusi melalui sistem reguler alternatif maupun sistem emergensi agar kebutuhan nasional tetap terpenuhi,” ujar Baron di Grha Pertamina, Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan, Pertamina masih terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan pasokan energi bagi masyarakat tetap terjaga.
“Alternatif yang sedang dilakukan masih dalam proses karena situasinya baru berkembang beberapa hari terakhir. Kami akan menyampaikan pembaruan kepada media terkait perkembangan langkah-langkah tersebut,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments