Di balik setiap prestasi besar, selalu ada proses panjang yang jarang terlihat. Begitu pula kisah Muhammad Adib, siswa SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik, yang tahun ini menorehkan dua capaian nasional sekaligus: finalis Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025 bidang Astronomi dan finalis Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025 bidang Ilmu Pengetahuan Terapan (IPT).
Keberhasilan ini tidak lahir begitu saja, tetapi merupakan hasil pembinaan sekolah yang matang, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan potensi setiap siswa. Smamsatu tidak hanya menyiapkan siswanya untuk berkompetisi, tetapi juga membentuk mereka menjadi pembelajar sejati yang mampu berpikir kritis, berinovasi, dan rendah hati.
OSN dan OPSI: Dua Jalan, Satu Visi
Menjadi finalis OSN dan OPSI di tahun yang sama bukan hal mudah. OSN menuntut penguasaan teori yang mendalam dan ketelitian dalam berpikir ilmiah. Sementara itu, OPSI menekankan kemampuan meneliti, menguji, dan menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata.
Bagi Adib, keduanya bukan hal yang bertentangan. Ia melihat OSN dan OPSI sebagai dua jalan menuju tujuan yang sama: memahami alam semesta dan memberi manfaat bagi lingkungan.
Dalam OPSI, Adib bersama rekannya, Faalih Naufal Athaillah, meneliti “Pemanfaatan Pasir Silika sebagai Adsorben Alami untuk Penyisihan Timbal (Pb) dalam Air”. Tema ini berangkat dari kepedulian mereka terhadap kondisi lingkungan di sekitar Gresik, di mana air yang tampak jernih ternyata menyimpan kandungan logam berat.
“Penelitian ini bukan hanya soal eksperimen laboratorium, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial anak muda terhadap bumi yang mereka tinggali,” ujar Adib.
Pembinaan yang Terarah Sejak Awal
Smamsatu Gresik telah menerapkan sistem pembinaan terpadu, terencana, dan berkelanjutan untuk menghadapi ajang-ajang ilmiah nasional seperti OSN dan OPSI. Sejak pengumuman pendaftaran dibuka, sekolah langsung menyeleksi, membimbing, dan mendampingi calon peserta.
Dispensasi akademik diberikan agar siswa dapat fokus belajar dan melakukan riset tanpa terbebani tugas harian sekolah. Sekolah juga menugaskan guru pembimbing sesuai bidang riset siswa. Dalam kasus Adib, pembimbing OPSI-nya memiliki latar belakang teknik lingkungan.
“Dengan bimbingan beliau, kami mampu menyusun konsep, proposal, hingga melakukan riset dan menyusun laporan dengan baik. Semua itu berperan besar dalam keberhasilan kami lolos ke tahap final,” ungkap Adib.
Kolaborasi Guru, Sekolah, dan Orang Tua
Smamsatu Gresik memperkuat sistem pembinaan unggulan melalui sinergi antara guru, siswa, dan orang tua. Tidak heran, pada tahun 2025 ini Smamsatu mencatat dua capaian nasional atas nama siswa yang sama—sesuatu yang jarang terjadi di tingkat sekolah menengah.
Tidak ada prestasi tanpa dukungan tiga pilar utama: siswa, guru, dan orang tua. Kemauan dan kerja keras Adib menjadi fondasi utama. Namun, dorongan moral dari guru pembimbing serta doa tulus orang tua membuat perjuangan ini utuh.
Adib menceritakan momen saat ibunya berdoa di malam hari menjelang seleksi OSN tingkat provinsi. “Itu momen sederhana yang justru menjadi sumber kekuatan luar biasa,” ujarnya.
Bukti Kualitas Pembinaan Smamsatu
Tahun 2025 menjadi catatan penting bagi Smamsatu Gresik. Capaian ganda yang diraih Muhammad Adib membuktikan bahwa pembinaan yang terarah dan dukungan penuh sekolah mampu melahirkan prestasi besar.
Smamsatu Gresik menunjukkan bahwa dengan bimbingan yang tepat, siswa mampu berprestasi lintas disiplin—dari astronomi hingga riset lingkungan. Smamsatu tidak menunggu siswa berprestasi untuk dibina, melainkan membina siswa agar berprestasi.
Guru menjadi mentor, siswa menjadi peneliti muda, dan sekolah menjadi rumah tumbuhnya potensi.
Harapan ke Depan
Menjelang final OPSI di Universitas Surabaya pada 10–15 November 2025, seluruh keluarga besar Smamsatu Gresik menyatukan doa dan harapan. Apa pun hasilnya, perjuangan ini telah menjadi bukti bahwa pembinaan yang terarah dapat mengantarkan siswa melangkah lebih jauh dari sekadar prestasi di atas kertas.
Muhammad Adib hanyalah satu contoh dari banyak siswa yang dibentuk oleh semangat pembinaan berkelanjutan. Dari ruang kelas Muhammadiyah, lahir generasi ilmuwan muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kepedulian lingkungan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments