Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Dulu Melawan Penjajah, Sekarang Melawan Apa?

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Dulu Melawan Penjajah, Sekarang Melawan Apa?
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Akhmad Hasbul Wafi Anggota Bidang KDI PW IPM Jawa Timur

Pada 22 Oktober 1945, ulama dan santri menyerukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. KH Hasyim Asy’ari bersama ulama menggelorakan Resolusi Jihad. Mereka menempatkan pembelaan tanah air sebagai tanggung jawab keagamaan. Semangat tersebut menggerakkan rakyat melawan kembalinya kekuasaan kolonial.

Delapan puluh satu tahun berlalu, Indonesia tidak lagi menghadapi penjajahan serupa. Namun, peringatan Hari Santri Nasional 2026 menghadirkan pertanyaan penting. Jika dahulu santri melawan penjajah, apa yang mereka lawan sekarang?

Pertanyaan ini penting karena perjuangan tidak boleh berhenti sebagai kenangan sejarah. Kita harus mengisi kemerdekaan dengan membangun kehidupan bangsa lebih baik.

Kini, masyarakat masih menghadapi kemiskinan, ketimpangan pendidikan, disinformasi, dan kemerosotan etika digital. Persoalan tersebut bukan penjajahan kolonial, tetapi tetap menghambat kehidupan bermartabat.

Jihad Ilmu Pengetahuan dan Semangat Islam Berkemajuan

Perjuangan santri menunjukkan bahwa agama berkaitan erat dengan tanggung jawab kebangsaan. Keimanan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah individual. Keimanan juga menuntut kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Dalam konteks sekarang, ilmu pengetahuan menjadi salah satu medan perjuangan terpenting.

Kebodohan dan rendahnya literasi membuat masyarakat rentan terhadap manipulasi informasi. Keduanya juga memperbesar risiko ketertinggalan. Karena itu, pendidikan bermutu menjadi bagian penting perjuangan mengisi kemerdekaan.

Pandangan ini sejalan dengan semangat tajdid Muhammadiyah. Sejak mendirikan Muhammadiyah pada 1912, KH Ahmad Dahlan menempatkan pendidikan sebagai jalan pembaruan umat.

Islam Berkemajuan mengajarkan keselarasan antara keimanan dan ilmu pengetahuan. Santri masa kini perlu memahami teks keagamaan sekaligus menguasai teknologi. Mereka juga perlu berpikir kritis dan memahami persoalan sosial.

Dahulu, perjuangan membutuhkan keberanian menghadapi senjata. Kini, perjuangan menuntut keberanian belajar, berpikir, dan menciptakan perubahan.

Spirit Al-Ma’un dan Perjuangan Kemanusiaan

Selain kebodohan, kemiskinan dan ketidakadilan sosial masih menantang bangsa. Dalam kondisi tersebut, keberagamaan tidak boleh berhenti pada simbol dan ritual.

KH Ahmad Dahlan mengajarkan spirit Surah Al-Ma’un kepada warga Muhammadiyah. Pesannya menegaskan bahwa keimanan harus melahirkan kepedulian sosial. Kepedulian itu menyasar anak yatim, masyarakat miskin, dan kelompok rentan.

Muhammadiyah menerjemahkan semangat tersebut melalui berbagai gerakan nyata. Gerakan itu mencakup pendidikan, pelayanan kesehatan, dan panti asuhan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Muhammadiyah juga mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat.

Nilai tersebut relevan untuk merefleksikan peran santri masa kini. Apakah ilmu agama mendorong kepedulian sosial? Apakah pengetahuan membantu menyelesaikan persoalan masyarakat?

Dahulu, santri mempertahankan tanah air. Kini, mereka dapat memperluas akses pendidikan dan membantu masyarakat miskin. Mereka juga dapat memperjuangkan keadilan sosial.

Santri dan Tantangan Peradaban Digital

Perkembangan teknologi menghadirkan medan perjuangan baru. Media sosial membuka peluang menyebarkan pengetahuan. Namun, media sosial juga memicu disinformasi, ujaran kebencian, dan perpecahan.

Di sinilah santri perlu menjadi penggerak literasi digital. Tradisi keilmuan mengajarkan adab, ketelitian, dan prinsip tabayyun. Bekal tersebut membantu santri menghadapi derasnya arus informasi.

Dalam perspektif Islam Berkemajuan, teknologi bukan sesuatu yang harus ditolak. Santri perlu memanfaatkannya secara bertanggung jawab demi kemaslahatan manusia.

Karena itu, santri tidak cukup menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu menciptakan inovasi dan menyebarkan pengetahuan. Mereka juga perlu menggerakkan perubahan sosial.

Hari Santri bukan sekadar momentum mengenang perjuangan masa lalu. Momentum ini juga mengajak generasi sekarang mengevaluasi kontribusinya.

Dahulu, santri berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan. Kini, mereka harus membantu masyarakat melawan kebodohan dan kemiskinan. Mereka juga harus memperjuangkan keadilan bagi seluruh masyarakat.

Menjadi pewaris perjuangan bukan sekadar lantang mengenang sejarah. Pewaris sejati bersungguh-sungguh menghadirkan perubahan nyata.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 22/10/2026 18:49
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu