Agenda Darul Arqam hari kedua di SD Muhammadiyah 6 (SD Musix) Surabaya berlangsung semarak. Sekolah menghadirkan narasumber dari Penerangan Kodam (Pendam) V/Brawijaya untuk mengupas bahaya bullying (perundungan) kepada siswa kelas 1–3, Selasa (24/2/2026).
Hadir dengan seragam lengkap TNI Angkatan Darat, Kapten Inf Muhammad Ismail dan Pelda Yayan Setiawan disambut antusias para siswa. Sejumlah anak bahkan tampak akrab karena keduanya pernah menjadi guru tamu di sekolah tersebut.
“Om Ismail, kita ketemu lagi!” seru salah satu siswa sambil menghampiri pintu masuk. Antusiasme itu membuat kedua prajurit sempat kesulitan memasuki ruang kegiatan.
Suasana semakin cair ketika Kapten Ismail, yang berdomisili di Sidoarjo, memenuhi permintaan siswa untuk memperlihatkan otot lengannya. Aksi spontan tersebut disambut tepuk tangan meriah peserta.
Bahaya Perundungan bagi Masa Depan
Mengawali materi, Kapten Ismail yang telah lebih dari 20 tahun berdinas sebagai prajurit TNI memaparkan sejumlah faktor pemicu bullying. Menurutnya, perundungan kerap dipicu rasa kurang percaya diri, keinginan mencari perhatian, dendam, hingga pengaruh negatif media sosial.
Ia berpesan agar siswa bijak dalam memilih lingkungan pertemanan.
“Berbaurlah dengan teman-teman yang membuat kalian percaya diri dan selalu berpikir positif. Jika mengalami bullying di sekolah, kalian harus berani melapor kepada guru atau pihak yang berwenang,” tegasnya.
Kapten Ismail juga menjelaskan dampak serius perundungan, mulai dari trauma psikis, munculnya rasa dendam, hingga risiko kehilangan nyawa.
“Akibat perundungan, korban bisa merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Kalian tahu apa itu mengakhiri hidup?” tanyanya.
“Bunuh diri, Om!” jawab para siswa serempak.
Mengenal Jenis-Jenis Perundungan
Dalam pemaparannya, Kapten Ismail menjelaskan beberapa jenis bullying, yakni fisik, verbal, dan relasional. Ia menekankan bahwa perundungan relasional sering kali tidak disadari.
“Perundungan relasional itu seperti mengabaikan, mengucilkan, atau mengasingkan teman dari kelompok. Tindakan seperti itu sangat berbahaya bagi kondisi psikologis teman kalian,” jelasnya.
Sebagai penutup, Kapten Ismail membagikan doorprize kepada siswa yang mampu menjawab pertanyaan. Sesi tersebut sekaligus menjadi evaluasi untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan.
Melalui kegiatan ini, sekolah berharap para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang berani, kompak, dan saling menghargai satu sama lain. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments