Cetak Sejarah di Ujung Timur: Panti Asuhan Al-Kautsar Merauke Lahirkan Angkatan Perdana Dai Pelajar Muhammadiyah.
Fajar baru bagi regenerasi dakwah Islam di Bumi Cenderawasih resmi menyingsing.
Di bawah langit Papua Selatan, sebuah tonggak sejarah penting bagi persyarikatan Muhammadiyah berhasil ditancapkan.
Panti Asuhan Al-Kautsar Muhammadiyah Merauke, berkolaborasi dengan Dai Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sukses menginisiasi Pelatihan Dai Pelajar Muhammadiyah 1 (PDPM 1).
Kegiatan yang berlangsung pada 6–8 Maret 2026 ini bukan sekadar agenda rutin tahunan.
Bertempat di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Merauke, acara ini mencatatkan sejarah sebagai perkaderan dai pelajar pertama di Merauke yang terafiliasi langsung secara struktural dengan Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Merauke.
Dengan mengusung tema bernas “Ilmu Amaliyah, Dakwah Ilmiyah”, pelatihan ini menjadi jawaban atas tantangan zaman dalam mencari wajah baru pendakwah muda di wilayah timur Indonesia.
Langkah strategis ini lahir dari kesadaran mendalam akan pentingnya menjaga estafet nilai-nilai Islam berkemajuan.
Fokus utamanya jelas: memastikan bahwa semangat dakwah tidak hanya berhenti di generasi tua, tetapi terus mengalir kuat di nadi generasi Z dan Alfa.

Keseriusan agenda ini terbukti dengan hadirnya para petinggi organisasi yang memberikan dukungan moril dan struktural, mulai dari Sekretaris Umum PWM Papua Selatan, Ketua PWA Papua Selatan, hingga jajaran PDM dan PDA Merauke serta kepala sekolah Muhammadiyah se-Kota Merauke.
Sosok di balik gerakan masif ini adalah Dolly Riri Ramadhanu Jamel Sutiyan, S.Ag., seorang Dai LDK PP Muhammadiyah.
Melalui tangan dinginnya, potensi lokal pelajar di Merauke dikelola menjadi sebuah gerakan dakwah yang terstruktur.
Ketua PDM Merauke dalam sambutannya memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inovasi tersebut.
“Acara ini sangat baik sebagai penunjang regenerasi dai ke depannya.
Inisiasi dari Mas Ustadz Dolly ini berharap mampu memberikan hasil signifikan bagi persyarikatan, melahirkan kader yang tidak hanya cakap bicara, tapi juga kuat secara ideologi,” tegas beliau dengan nada optimis.
Selama tiga hari intensif, para peserta memperoleh gemblengan untuk memiliki kedalaman ilmu (ilmiyah) sekaligus ketangkasan dalam berbuat (amaliyah).
Mereka tidak hanya diajarkan teknik retorika di atas podium, tetapi juga dibekali karakter teladan agar mampu menjadi kompas moral di tengah masyarakat.
Dengan berakhirnya PDPM 1, Merauke kini memiliki tunas-tunas baru yang siap menyebarkan pesan Islam yang damai dan mencerahkan.
Peristiwa ini membuktikan bahwa dari ujung timur Indonesia, semangat dakwah Muhammadiyah terus berkibar, memastikan cahaya ilmu tetap menyala terang di tanah Papua.***





0 Tanggapan
Empty Comments