Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), obsesi adalah ide atau perasaan yang sangat merasuki pikiran. Jika obsesinya masih dalam taraf wajar, tentu tidak terlalu berpengaruh terhadap kehidupan. Namun bila sudah mendominasi pikiran, maka ia akan mewarnai seluruh tindakan seseorang baik dalam urusan dunia maupun akhirat.
Dunia adalah tempat singgah sementara. Semua yang ada di dalamnya tidak kekal, pada akhirnya akan rusak dan binasa. Justru di dunia inilah seseorang menentukan keadaannya di akhirat kelak: menjadi bahagia atau celaka. Karena itu, manusia perlu mempersiapkan bekal untuk hari yang sangat panjang, yakni hari kiamat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini secara terang mengajak setiap mukmin untuk menanamkan kesadaran akhirat dalam setiap langkah hidup. Dari sinilah tumbuh obsesi terhadap akhirat yang bukan hanya bermanfaat di kehidupan akhirat, tetapi juga memberikan efek positif dalam kehidupan dunia.
Tiga Nikmat bagi Orang yang Berobsesi pada Akhirat
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang niat hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina.
Dan barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Ahmad)
Dari hadits ini, terdapat tiga nikmat bagi orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama hidupnya:
Satu, Dilancarkan Seluruh Urusannya
Allah melapangkan urusan hamba yang memprioritaskan akhirat. Ketenteraman, kedamaian, keselamatan, dan keharmonisan keluarga menjadi anugerah baginya. Sebab orang yang mengingat akhirat akan terdorong melakukan ketaatan, amal saleh, keikhlasan, serta menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan inilah yang membuka pintu kelapangan hidup.
Dua, Kaya Hati
Kaya hati adalah nikmat besar. Ia tidak diukur oleh jumlah harta, tetapi oleh rasa cukup.
Nabi bersabda:
“Kaya bukanlah diukur dari banyaknya harta. Kaya adalah hati yang merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah menasihati Abu Dzar bahwa kekayaan sejati bukan pada banyaknya kepemilikan, tetapi pada hati yang tidak pernah merasa kurang.
Orang yang kaya hati selalu bersyukur, menerima pembagian Allah, tidak tamak, dan tidak menggantungkan kebahagiaan pada dunia. Berbeda dengan banyak orang kaya yang hatinya tetap merasa miskin karena tidak pernah puas.
Tiga, Dunia Datang Kepadanya
Orang yang memprioritaskan akhirat akan diberi jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Allah berfirman:
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka…” (QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Janji Allah ini pasti benar. Bila seorang hamba fokus pada ketakwaan, Allah sendiri yang mengurus kebutuhan dunianya.
Tiga Akibat Bila Dunia Menjadi Obsesi
Sebaliknya, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidup akan merasakan tiga akibat:
Satu, Urusannya Kacau
Allah mengacaukan urusan orang yang melupakan akhirat. Hatinya gelisah, pikirannya kusut, dan segala ikhtiarnya terasa sulit. Keluarga tidak harmonis, harta menjadi fitnah, dan musibah datang dari berbagai arah.
Dua, Selalu Tidak Puas
Ia selalu merasa miskin meski hartanya berlimpah. Ketamakan menguasai dirinya sehingga ia rela menempuh cara yang dilarang agama demi menambah harta. Ia lupa pesan Nabi, lupa batasan halal-haram, karena pikirannya hanya dipenuhi ambisi dunia.
Tiga, Dunia Lari darinya
Ia mengejar dunia, tetapi dunia menjauh darinya. Kesibukan mengejar materi membuatnya lupa kepada Allah, lalu Allah membiarkannya tersesat dalam urusan dunia.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa orang yang melupakan hak-hak Allah akan dibuat lupa terhadap hak yang seharusnya menyelamatkan dirinya. Ia dikelompokkan sebagai orang fasik yang keluar dari ketaatan.
Orang yang melupakan Allah karena mengejar dunia akan merasakan penderitaan di dunia dan siksaan pedih di akhirat. Sebaliknya, orang yang obsesi hidupnya tertuju pada akhirat akan menjadi hamba yang selamat di dunia dilapangkan, di akhirat dibahagiakan.
Maka berbahagialah orang yang menjadikan akhirat sebagai orientasi utama hidupnya. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments