Kajian kitab Nashaihul Ibad kembali diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jalen setelah salat Subuh pada Kamis (5/3/2026) di Masjid Al-Falah Pusdamu PRM Jalen, Genteng, Banyuwangi. Kajian yang diasuh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng, Taslim, M.Pd., tersebut pada pertemuan kali ini memasuki kajian ke-13 dengan materi tentang hujah Allah Swt. pada Hari Kiamat terhadap empat golongan manusia.
Dalam pengantar kajian, Ustadz Taslim menyampaikan bahwa pembahasan pada pertemuan tersebut masih berada pada Bab III kitab Nashaihul Ibad. Materi yang dikaji berkaitan dengan hadis Rasulullah Saw mengenai empat golongan manusia yang dijadikan hujah oleh Allah Swt. pada Hari Kiamat.
Mengawali kajiannya, ia menyampaikan pengantar sebagai berikut. “Pada kajian pagi ini kita akan sama-sama membahas akhbar atau hadis Rasulullah Saw. Masih pada Bab III sesuai judul aslinya, yaitu Empat Golongan Manusia dengan Empat Nabi.”
Dari Nabi Muhammad Saw, bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. berhujah pada Hari Kiamat dengan empat orang atas empat orang lain, yaitu terhadap kaum hartawan Allah mengemukakan Nabi Sulaiman bin Dawud; terhadap hamba sahaya Allah mengemukakan Nabi Yusuf; terhadap orang-orang sakit Allah mengemukakan Nabi Ayub; dan atas orang-orang fakir Allah mengemukakan Nabi Isa.”
Selanjutnya, Ustadz Taslim menjelaskan bahwa setelah kehidupan dunia berakhir dan terjadi kiamat, manusia akan memasuki kehidupan akhirat. Pada saat itu, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya selama hidup di dunia, termasuk dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt.
Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari sering kali manusia memiliki berbagai alasan untuk meninggalkan ibadah. Namun, menurut keterangan hadis tersebut, Allah Swt. akan memberikan hujah dengan menghadirkan teladan para nabi yang tetap melaksanakan ibadah meskipun berada dalam kondisi yang sulit.
Ia kemudian menjelaskan beberapa contoh sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut. Allah menanyai orang kaya tentang sebab dia meninggalkan ibadah. Orang tersebut menjawab, “Kami sibuk dengan urusan harta dan kerajaan kami.” Allah kemudian membantah, “Lebih besar mana kerajaan Sulaiman dan lebih banyak mana harta Sulaiman, tetapi dia tidak meninggalkan ibadah.”
Hamba sahaya yang meninggalkan ibadah dengan alasan sibuk melayani tuannya juga mendapat bantahan. Allah berfirman, “Hamba-Ku, Yusuf, juga menjadi hamba yang melayani penguasa Mesir, tetapi dia tidak meninggalkan ibadah.”
Bagi orang yang meninggalkan ibadah karena sakit, Allah memberikan hujah dengan kisah Nabi Ayub. Hamba-Ku Ayub mengalami sakit yang menggerogoti seluruh kulitnya hingga tinggal jantung, hati, dan tulang, tetapi ia tetap beribadah.
Adapun bagi orang-orang fakir yang meninggalkan ibadah, Allah memberikan teladan Nabi Isa. Hamba-Ku Isa hidup dalam keadaan sederhana di dunia. Ia tidak memiliki rumah, harta, maupun istri, tetapi ia tidak meninggalkan ibadah.
Di akhir kajian, Ustadz Taslim menyampaikan pesan penutup, “Semoga hadis Rasul di atas dapat menambah keteguhan iman kita untuk terus memupuk ibadah sehingga Allah meridai kita.”
Kajian kitab Nashaihul Ibad tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setelah salat Subuh di Masjid Al-Falah Pusdamu PRM Jalen, Genteng, Banyuwangi, dan diikuti oleh jamaah dari lingkungan sekitar. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments