Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah At-Tin ayat 4: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Makna ayat ini mencakup kesempurnaan jasmani maupun rohani yang telah Allah berikan. Penciptaan yang sempurna inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.
Sebagai penunjang kesempurnaan tersebut, Allah memberikan anugerah luar biasa berupa akal untuk berpikir, menganalisis, serta membedakan antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah).
Memasuki abad ke-21, perkembangan teknologi informasi terjadi sangat pesat. Teknologi seharusnya menjadi instrumen yang memudahkan proses belajar dan manusia dituntut untuk mampu beradaptasi dengannya.
Namun, pola pikir yang dangkal sering kali memicu kesalahpahaman dan kekeliruan logika (logical fallacy). Untuk mencegah hal tersebut, manusia memerlukan metode berpikir yang terstruktur.
Al-Qur’an mendorong manusia untuk mengoptimalkan akal sehat, bukan sekadar melalui perintah, melainkan dengan menyediakan metode berpikir yang sistematis dan bertingkat.
Proses berpikir inilah yang menjembatani akal dan hati, sehingga informasi yang diterima tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga sarana transformasi diri.
Dalam Al-Qur’an, terdapat empat pilar berpikir, yaitu:
1. Tadzakkur
Tadzakkur merupakan tahap awal dalam proses berpikir. Secara etimologi, tadzakkur berasal dari kata dzikr yang berarti ingat.
Maknanya adalah mengingat kembali kebenaran yang telah Allah firmankan dalam Al-Qur’an atau memanggil kembali memori tentang ilmu kebaikan.
Tahap ini merupakan bentuk kesadaran untuk bangkit dari kelalaian yang sering menyelimuti kehidupan manusia.
Hal ini sejalan dengan berbagai ayat di mana Allah menyebutkan urgensi tadzakkur.
اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰٓئِفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِ ذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).“(QS. Al-A’raf 7: Ayat 201)
Seseorang yang sempat terbayang untuk melakukan kemaksiatan, namun seketika teringat bahwa Allah SWT selalu mengawasinya, merupakan cerminan orang bertakwa yang dimaksud dalam ayat ini.
Istilah tadzakkur sering disematkan kepada mereka yang tersadar setelah menerima peringatan, sekaligus menjadi penghubung antara fenomena yang disaksikan dengan keagungan Allah SWT.
2. Tafakkur
Tafakkur menandai aktifnya peran akal dalam memahami dan mengolah ilmu pengetahuan.
Ini merupakan proses intelektual dan analisis mendalam yang menggunakan nalar untuk merenungkan alam semesta, hukum-hukum alam, serta hubungan sebab-akibat.
Proses ini sering dikaitkan dengan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta).
Melalui tafakkur, manusia mengolah akal untuk membedah aspek “bagaimana” dan “mengapa” sesuatu terjadi demi membuktikan kemahabesaran Sang Pencipta.
Dalam Al-Qur’an Allah firman:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّارِ
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)
Saat manusia mampu mengingat Allah dalam segala postur —baik ketika berdiri, duduk, maupun berbaring— serta memikirkan penciptaan langit dan bumi beserta isinya, sejatinya mereka tidak akan mengkufuri-Nya.
Sebaliknya, mereka justru akan memanjatkan doa kepada Allah yang telah menciptakan alam semesta secara sempurna dan tidak sia-sia.
3. Tadabbur
Tadabbur adalah proses merenungi dan mendalami makna setelah memahami suatu keilmuan.
Ini mencakup perenungan dan pemaknaan konsekuensi dari sebuah peristiwa atau ayat-ayat Al-Qur’an.
Jika “tafakkur” berfokus pada penalaran dan analisis suatu peristiwa, maka “tadabbur” berfungsi untuk mencari serta mengambil hikmah dan pesan moral di baliknya.
Proses refleksi mendalam untuk mengambil pelajaran yang menyentuh hati ini sering digunakan dalam konteks memahami ayat-ayat Al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah An-Nisa:
اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰ نَ ۗ وَلَوْ كَا نَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَا فًا كَثِيْرًا
“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an? sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 82)
Seseorang yang memiliki kedalaman ilmu akan menyadari bahwa jika Al-Qur’an bukan berasal dari Allah, niscaya akan ditemukan banyak kontradiksi di dalamnya.
Proses menyadari hal ini disebut tadabbur, yaitu upaya menghayati dan merenungi ayat-ayat-Nya untuk memetik hikmah yang mendalam.
4. Ta’aqqul
Ta’aqqul adalah puncak proses berfikir yang membuat tindakan mengarah kebijaksanaan.
Istilah ta’aqqul berasal dari kata al-‘aql yang secara harfiah artinya “tali pengikat”.
Maknanya yaitu sebagai pengikat ilmu yang telah didapatkan —melalui tadzakkur, tafakkur, tadabbur— agar tidak lepas. Berikutnya dapat menjadi pedoman dalam bertingkah-laku.
Kata ta’aqqul didalam Al-Quran sering digunakan sebagai pertanyaan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـکُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
“Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 242)
Ta’aqqul adalah pengendali diri agar menjadi pribadi yang baik, dan pengikat inilah yang akan membuat kebijaksanaan.
Tujuan utamanya ketika orang bisa mengendalikan dirinya dari hawa nafsu dan mengambil hikmah yang telah dipahami maka orang itu disebut ulul albab.***






0 Tanggapan
Empty Comments