Muhammadiyah kembali menorehkan sejarah baru di kancah kemanusiaan dunia. Sabtu (19/10/2025) menjadi hari bersejarah bagi Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah. Bertempat di Aula Masjid KH Sudja’, PKU Muhammadiyah Gamping, Bantul, tim medis kebanggaan Persyarikatan ini secara resmi dinyatakan lulus verifikasi oleh World Health Organization (WHO).
Dengan pengakuan ini, EMT Muhammadiyah ditetapkan sebagai EMT Type 1 Fixed—yakni tim medis yang memberikan pelayanan dasar dan penanganan kegawatdaruratan secara menetap di satu lokasi. Pencapaian tersebut menobatkan EMT Muhammadiyah sebagai tim medis darurat pertama dari Indonesia yang mendapatkan pengakuan internasional dan resmi tergabung dalam Global EMT Network dengan nomor urut ke-63 di dunia.
Awal Jejak dan Kiprah Internasional

Kiprah EMT Muhammadiyah bukanlah perjalanan instan. Komitmen kuat itu mulai tampak sejak awal 2010, dan semakin nyata ketika mereka berpartisipasi dalam Health Care in Danger Workshop yang diselenggarakan International Committee of the Red Cross (ICRC) di Mesir, serta I-MIREX oleh Malaysian Society for Traumatology and Emergency Medicine (MASTEM) di Malaysia pada 2012.
Tahun itu menjadi fondasi awal keterlibatan Muhammadiyah dalam jejaring global tanggap darurat kebencanaan. Langkah-langkah besar kemudian berlanjut dengan partisipasi di berbagai WHO EMT Global Meetings—Panama (2015), Hong Kong (2016), dan Thailand (2017).
Dalam pertemuan di Thailand tersebut, Muhammadiyah resmi terdaftar sebagai EMT internasional. Sejak saat itu, nama Muhammadiyah semakin diperhitungkan di tingkat global sebagai representasi Indonesia dalam forum-forum kemanusiaan dunia.
Konsistensi dan Kolaborasi Dunia
Tak berhenti di situ, EMT Muhammadiyah terus aktif di berbagai forum internasional lain: UNISDR Summit Meeting di Bangkok (2016), OCHA-INSARAG Workshop di Yogyakarta (2016), serta program Build Back Better yang diinisiasi oleh International Medical Corps, USAID, dan OKI di Malaysia.
Keterlibatan itu berlanjut hingga 2025. EMT Muhammadiyah tercatat hadir dalam 4th EMT Mentors Workshop di Jenewa (2019), 5th EMT Global Meeting di Armenia (2022), dan 6th EMT Global Meeting di Abu Dhabi (2024). Sejak 2022, EMT Muhammadiyah juga menjadi bagian dari program Emergency Medical Teams Twinning, Training, and Transfer Knowledge (EMT TTT) bersama Robert Koch Institute (Jerman) dan ISAR Germany.
Semua langkah itu menegaskan posisi EMT Muhammadiyah sebagai duta kemanusiaan global yang mewakili masyarakat sipil Indonesia.
Tampil di Garda Terdepan Misi Kemanusiaan
Kiprah internasional EMT Muhammadiyah tidak hanya berhenti di ruang konferensi. Mereka hadir langsung di lapangan dalam berbagai misi kemanusiaan: dari Gaza (2009), Filipina (2013), Nepal (2015), hingga membantu pengungsi Rohingya di Bangladesh (2016–2017).
Tahun 2022, EMT Muhammadiyah menjadi satu-satunya tim medis non-pemerintah dari Indonesia yang dikirim ke Pakistan. Tim beranggotakan lima perempuan ini menjadi bukti nyata keberanian dan profesionalisme kader Muhammadiyah di kancah global. Tahun berikutnya, mereka juga bergabung dalam misi kemanusiaan di Turki pascagempa besar yang mengguncang negara itu.
Apresiasi Nasional dan Capaian Nyata
Pemerintah Indonesia melalui BNPB memberikan apresiasi tinggi atas peran EMT Muhammadiyah dalam misi di Turki pada 2023. Dalam operasi itu, 23 personel EMT Muhammadiyah bergabung dengan Indonesia Emergency Medical Team (INA-EMT) dan bertugas di Distrik Hassa, Provinsi Hatay.
Selama 12 hari layanan lapangan (15–26 Februari 2023), EMT Muhammadiyah mengoperasikan rumah sakit darurat dengan standar Type 2 WHO EMT. Mereka menangani 2.953 pasien dengan berbagai penyakit seperti hipertensi, diabetes, pneumonia, kolera, dan gangguan kulit.
Capaian ini menjadi modal berharga bagi proses verifikasi WHO yang akhirnya membawa EMT Muhammadiyah pada pengakuan internasional sebagai EMT Type 1 Fixed.
Menjaga Standar Dunia, Melatih dan Memperkuat Tim
Menurut Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus Koordinator Bidang Pelatihan Penanggulangan Bencana MDMC PP Muhammadiyah, timnya kini fokus melengkapi dokumen dan menyinkronkan SOP agar sesuai dengan standar WHO.
“Masih ada beberapa catatan kecil seperti sinkronisasi antarbagian dan penyediaan logistik medis. Sebagian perlengkapan sebelumnya masih kami pinjam dari beberapa RSMA terdekat. Ke depan, semuanya akan kami siapkan sendiri agar sewaktu-waktu siap diberangkatkan,” ujarnya.
Zakarija menegaskan bahwa EMT Muhammadiyah wajib melaksanakan latihan lapangan minimal sekali setahun, kecuali jika mendapatkan penugasan resmi dari WHO. Latihan ini kerap dilakukan bersamaan dengan kegiatan besar, seperti pada Muktamar ke-48 di Solo saat EMT menggelar rumah sakit lapangan di lokasi Muktamar.
Selain itu, EMT Muhammadiyah juga tengah menambah jumlah roster list (daftar lengkap tim untuk satu masa penugasan). Saat ini mereka memiliki dua setengah roster list dari standar minimal dua yang ditetapkan WHO.
“Beberapa personel memang sudah tidak aktif. Karena itu, kita terus membuka rekrutmen baru agar regenerasi berjalan dan kesiapan tetap terjaga,” tambahnya.
Menuju Type 2 dan Terus Berkhidmat
Zakarija berharap EMT Muhammadiyah dapat terus meningkatkan kapasitas dan memperkuat standar yang telah dicapai. Ia juga membuka peluang agar suatu saat EMT Muhammadiyah bisa naik ke Type 2 EMT, yang menuntut kemampuan lebih tinggi dan fasilitas yang lebih kompleks.
“Naik ke Type 2 tentu menantang. Tapi dengan semangat, disiplin, dan sinergi seluruh komponen Persyarikatan, bukan hal yang mustahil,” tuturnya.
Dengan pengakuan WHO ini, Muhammadiyah kembali membuktikan diri sebagai pelopor dalam kemanusiaan global. Dari semangat tajdid hingga rahmatan lil-‘alamin, EMT Muhammadiyah menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya di mimbar, tetapi juga di medan bencana dan krisis kemanusiaan dunia.






0 Tanggapan
Empty Comments