Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Evaluasi Program BBQ: Membaca Al-Qur’an di Tengah Krisis Spiritualitas Generasi Muda

Iklan Landscape Smamda
Evaluasi Program BBQ: Membaca Al-Qur’an di Tengah Krisis Spiritualitas Generasi Muda
Imroatul ‘Afifah. Foto: Istimewa
Oleh : Imroatul ‘Afifah Guru Pendidikan Agama Islam
pwmu.co -

Membaca Al-Qur’an adalah keterampilan esensial yang seharusnya menjadi identitas generasi Muslim. Ia bukan sekadar kemampuan teknis melafalkan huruf hijaiyah, melainkan fondasi spiritual yang membentuk karakter, moral, dan arah hidup seorang Muslim.

Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi, keterampilan ini justru mengalami krisis.

Fenomena ini tampak jelas dalam program BBQ (Baca-Baca Al-Qur’an) di SMK Muhammadiyah 1 Jakarta.

Program yang sejatinya dirancang untuk memperkuat kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, justru memperlihatkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi dunia pendidikan Islam.

Observasi di kelas menunjukkan masih banyak siswa yang kesulitan membaca sesuai kaidah tajwid, memahami makharijul huruf, hingga menjaga konsistensi hafalan.

Krisis ini tidak bisa dilepaskan dari konteks zaman. Generasi muda kini lebih akrab dengan layar gawai ketimbang mushaf Al-Qur’an. Waktu belajar di rumah semakin berkurang, digantikan oleh aktivitas hiburan digital.

Akibatnya, pembelajaran Al-Qur’an di sekolah sering kali menjadi satu-satunya ruang interaksi siswa dengan kitab suci. Padahal, tanpa pembiasaan di luar kelas, mustahil keterampilan membaca Al-Qur’an bisa berkembang optimal.

Era globalisasi dan derasnya arus teknologi membuat banyak siswa kehilangan waktu untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Wawancara dengan koordinator program menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas X masih kesulitan membaca sesuai kaidah tajwid.

Lebih memprihatinkan lagi, mereka jarang mengulang materi di rumah, seolah-olah belajar Al-Qur’an cukup dilakukan di sekolah.

Apakah ini sekadar masalah teknis? Menurut saya, tidak. Ini adalah cermin dari krisis spiritual yang lebih dalam: kurangnya kesadaran diri dan disiplin dalam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kondisi ini menegaskan bahwa pembelajaran Al-Qur’an tidak bisa hanya dipandang sebagai aktivitas formal di sekolah. Ia membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lingkungan digital yang sehari-hari diakses siswa.

Tanpa keterlibatan orang tua dalam membiasakan anak membaca Al-Qur’an di rumah, maka sekolah akan kesulitan menanamkan kebiasaan yang berkelanjutan.
Dengan kata lain, pembelajaran Al-Qur’an harus menjadi budaya bersama, bukan sekadar program kurikulum.

Selain itu, krisis spiritual yang muncul di kalangan generasi muda juga menuntut pendekatan pembelajaran yang lebih humanistik.

Guru tidak cukup hanya mengajarkan kaidah tajwid atau teknik hafalan, tetapi juga harus mampu menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an melalui motivasi, teladan, dan pembiasaan nilai-nilai religius.

Ketika siswa merasakan bahwa membaca Al-Qur’an adalah kebutuhan batin, bukan sekadar kewajiban akademik, maka proses belajar akan lebih bermakna dan berkelanjutan.

Di era digital, integrasi teknologi menjadi salah satu solusi yang patut dipertimbangkan.

Aplikasi Al-Qur’an interaktif, audio murattal, hingga platform pembelajaran daring dapat menjadi media yang relevan untuk menarik minat siswa.

Dengan memanfaatkan teknologi, pembelajaran Al-Qur’an dapat dikemas lebih kreatif dan sesuai dengan gaya hidup generasi muda.

Hal ini sekaligus menjadi jawaban atas tantangan globalisasi: menjadikan teknologi bukan sebagai penghalang spiritualitas, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat identitas Qur’ani generasi Muslim.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu