Program BBQ: Harapan dan Realitas
Program BBQ hadir dengan visi mulia: mencetak lulusan Qur’ani yang tidak hanya mahir membaca, tetapi juga mampu menghafal juz 30.
Perencanaan sudah cukup sistematis, mulai dari tes penempatan, pembagian kelompok berdasarkan kemampuan, hingga pembiasaan salat duha dan kultum.
Namun, realitas menunjukkan bahwa tujuan besar ini belum sepenuhnya tercapai.
Guru sudah berusaha dengan berbagai metode sorogan, talaqqi, tutor sebaya, hingga muraja’ah.
Tetapi, motivasi internal siswa masih menjadi titik lemah. Banyak yang hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah, tanpa kesadaran untuk mengulang di rumah. Akibatnya, capaian hafalan dan kualitas bacaan berjalan lambat.
Hasil wawancara dengan koordinator program menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelas X masih kesulitan membaca sesuai kaidah tajwid. Lebih memprihatinkan lagi, mereka jarang mengulang materi di rumah.
Observasi kelas pun memperlihatkan bahwa pemahaman makharijul huruf, panjang-pendek bacaan, hingga penggunaan harakat masih jauh dari sempurna.
Kondisi ini bukan sekadar masalah teknis. Ia adalah refleksi dari krisis spiritual yang lebih dalam: kurangnya kesadaran diri dan disiplin dalam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Kelemahan motivasi internal siswa dalam program BBQ menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an tidak bisa hanya bergantung pada pendekatan struktural dan metodologis.
Kurikulum yang sistematis memang penting, tetapi tanpa kesadaran spiritual yang tumbuh dari dalam diri peserta didik, capaian pembelajaran akan sulit maksimal.
Hal ini menegaskan perlunya pendekatan humanistik yang menekankan pada pembentukan makna, nilai, dan kesadaran religius, bukan sekadar pencapaian teknis hafalan.
Selain itu, keterlibatan keluarga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa jarang mengulang bacaan di rumah, padahal lingkungan keluarga adalah ruang utama pembiasaan.
Kurikulum integratif seharusnya tidak berhenti di sekolah, melainkan diperluas ke rumah melalui kolaborasi dengan orang tua.
Dengan demikian, pembelajaran Al-Qur’an dapat menjadi budaya yang hidup dalam keseharian, bukan hanya aktivitas formal di ruang kelas.
Di sisi lain, integrasi teknologi juga perlu dipertimbangkan sebagai solusi kontekstual. Generasi digital lebih akrab dengan gawai daripada mushaf, sehingga aplikasi Al-Qur’an interaktif, audio murattal, maupun platform pembelajaran daring dapat menjadi media yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa.
Dengan memanfaatkan teknologi, pembelajaran Al-Qur’an dapat dikemas lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan gaya belajar generasi muda, sehingga visi mencetak lulusan Qur’ani dapat lebih realistis diwujudkan.






0 Tanggapan
Empty Comments