Catatan Kritis terhadap Evaluasi Pembelajaran Program BBQ
Evaluasi terhadap program BBQ (Baca-Baca Al-Qur’an) di SMK Muhammadiyah 1 Jakarta menunjukkan bahwa meskipun struktur kurikulum telah dirancang dengan sistematis, terdapat sejumlah aspek yang masih perlu diperkuat agar tujuan pembelajaran benar-benar tercapai.
Catatan kritis ini menyoroti tiga dimensi utama yang menjadi kunci keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an, yaitu motivasi internal siswa, keterlibatan orang tua, dan integrasi teknologi.
Pertama, motivasi internal siswa. Pembelajaran Al-Qur’an tidak boleh dipandang sekadar rutinitas yang berlangsung di ruang kelas. Ia harus tumbuh menjadi kesadaran spiritual bahwa membaca Al-Qur’an adalah kebutuhan mendasar bagi seorang Muslim.
Tanpa motivasi intrinsik, metode pembelajaran sehebat apa pun akan kehilangan daya guna. Oleh karena itu, strategi pembelajaran perlu diarahkan pada penguatan nilai-nilai religius, pemberian teladan, serta pembiasaan yang menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an.
Kedua, keterlibatan orang tua. Sekolah memang memiliki peran penting dalam membimbing siswa, tetapi pembiasaan membaca Al-Qur’an tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan.
Lingkungan keluarga harus menjadi bagian integral dari kurikulum integratif. Orang tua dapat berperan sebagai fasilitator pembiasaan di rumah, misalnya dengan menyediakan waktu khusus untuk tadarus bersama atau mendampingi anak dalam mengulang hafalan.
Sinergi antara sekolah dan keluarga akan memperkuat internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, integrasi teknologi. Generasi muda saat ini hidup dalam ekosistem digital. Maka, pembelajaran Al-Qur’an perlu beradaptasi dengan memanfaatkan aplikasi digital, audio murattal, maupun platform interaktif.
Media ini dapat menjadi jembatan yang efektif untuk meningkatkan minat dan keterlibatan siswa.
Dengan pendekatan yang kreatif, teknologi bukan lagi ancaman bagi spiritualitas, melainkan sarana untuk memperkuat keterampilan membaca dan menghafal Al-Qur’an.
Catatan kritis ini menegaskan bahwa keberhasilan program BBQ tidak hanya bergantung pada struktur kurikulum, tetapi juga pada dimensi motivasi, dukungan keluarga, dan adaptasi teknologi.
Ketiganya saling melengkapi dalam membentuk ekosistem pembelajaran yang holistik.
Dengan penguatan aspek-aspek tersebut, program BBQ berpotensi menjadi model pembelajaran Al-Qur’an yang bukan hanya menghasilkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk identitas spiritual generasi Muslim di era globalisasi.
Program BBQ adalah langkah baik, tetapi evaluasi menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an tidak bisa hanya mengandalkan struktur kurikulum. Dibutuhkan sinergi antara guru, siswa, orang tua, dan lingkungan.
Jika tidak, BBQ hanya akan menjadi program administratif tanpa ruh spiritual. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments