Melihat fenomena generasi Alpha yang banyak dititipkan dan diasuh oleh kakek dan nenek di rumah, Ustadz Imam Sapari SHI MPdI, Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya, menekankan pentingnya peran mereka dalam mendampingi cucu secara bijak. Pesan ini ia sampaikan dalam kajian di Masjid Masjidillah pada Ahad (10/8/2025) yang dihadiri puluhan jamaah ibu-ibu.
Ustadz Imam Sapari, yang juga Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya, mengutip sebuah pepatah:
“Janganlah kalian mendidik anak-anak kalian dengan akhlak (perilaku) kalian, karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang bukan zaman kalian.”
Menurutnya, mendidik anak harus menyesuaikan kebutuhan dan konteks zaman.
Dampak Pola Asuh yang Kurang Tepat
Dalam kajiannya, ia memaparkan beberapa dampak buruk dari pola asuh kakek-nenek yang kurang tepat. Pola asuh yang terlalu permisif dapat membuat cucu mudah marah, tantrum, egois, dan sulit berempati. Rasa tidak tega yang berlebihan, seperti selalu menyuapi, membereskan mainan, atau mengerjakan PR cucu, bisa membuat mereka terlambat mandiri dan memiliki minat belajar rendah. Perbedaan pandangan antara orang tua dan kakek-nenek terkait penggunaan gawai atau mainan juga kerap memicu konflik dan ketidakharmonisan keluarga.
Perilaku yang Perlu Dihindari Kakek-Nenek
Ustadz Imam Sapari menegaskan beberapa perilaku dan ucapan yang harus dihindari oleh kakek dan nenek:
- Menentang aturan orang tua cucu (membangkang), yang melemahkan otoritas orang tua dan membuat anak bingung.
- Mengkritik orang tua cucu di depan mereka, yang dapat merusak hubungan keluarga dan menurunkan rasa hormat anak.
- Mengungkit jasa dan pengorbanan terhadap orang tua cucu, yang menimbulkan rasa berutang dan mengurangi ketulusan kasih sayang.
- Membandingkan cucu dengan anak atau saudara lain, yang menurunkan rasa percaya diri dan memicu persaingan tidak sehat.
- Mengancam atau menakut-nakuti cucu, yang dapat memicu kecemasan berlebihan dan tidak membentuk kesadaran moral yang kuat.
- Menceritakan aib orang tua cucu, yang merusak otoritas orang tua, memicu konflik antargenerasi, dan menimbulkan rasa malu pada anak.
Tips Menjadi Kakek-Nenek Hebat
Agar bisa menjadi kakek-nenek yang hebat, ia memberikan beberapa tips:
- Memahami dunia generasi Alpha.
- Menanamkan nilai kebijaksanaan dan iman melalui cerita.
- Menjadi panutan yang menyenangkan.
- Membangun komunikasi terbuka.
- Menjadi “penjaga gerbang digital” dengan mengatur waktu dan mendampingi cucu saat menggunakan perangkat.
- Bersikap terbuka untuk belajar bersama cucu demi keseimbangan dunia digital dan manual.
Pesan Penutup
Menutup kajiannya, Ustadz Imam Sapari membacakan sebuah kutipan:
“Kehebatan itu mengalir dalam darah dan didikan, dari generasi ke generasi. Jika engkau melihat cucu yang berani, itu hasil didikan orang tua yang kuat. Jika engkau melihat orang tua yang kuat, itu adalah jejak langkah kakek-nenek yang hebat.”
Ia menegaskan bahwa setiap generasi adalah fondasi bagi generasi berikutnya, membangun menara kehebatan yang tak pernah runtuh. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments