Jabatan dalam organisasi hanyalah amanah, bukan kesempatan untuk menikmati fasilitas.
Orang yang berfokus pada fasilitas akan mudah kecewa saat masa jabatannya berakhir.
“Kalau kita fokus pada fasilitas, begitu lepas jabatan, yang kita rasakan hanyalah kehilangan. Tapi kalau fokus pada amanah, selesai menjabat pun hati kita tetap tenang,” ujar drh. Zainul Muslimin, Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, seperti dikutip dari kanal Youtube Baitul Arqom Joss.
Zainul menuturkan, amanah dalam Muhammadiyah adalah tanggung jawab moral dan spiritual. Karena itu, setiap pimpinan, guru, maupun kepala sekolah harus mengelola tugas dengan cara terbaik, sungguh-sungguh, dan istiqamah.
Zainul juga menyampaikan bahwa Allah tidak akan menitipkan rezeki besar kepada orang yang tidak amanah.
“Selama kita tidak rapi dan sulit dipertanggungjawabkan, Allah tidak akan menitipkan jumlah yang besar,” ujarnya.
Dia juga menyinggung fenomena banyaknya orang yang ingin kaya, tetapi belum siap secara moral dan administratif.
“Banyak yang berdoa ingin rezeki besar, tapi belum memantaskan diri untuk dikelola dengan benar,” lanjutnya.
Zainul menegaskan betapa pentingnya budaya memberi dalam Islam. Menurutnya, orang yang dermawan akan terus mendapat limpahan rezeki, sementara yang pelit tidak layak jadi bendahara Allah.
“Kalau kita pelit, Allah tidak akan menitipkan harta. Tapi kalau kita suka memberi, Allah akan percayakan lebih banyak lagi,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong sekolah-sekolah Muhammadiyah untuk mendidik anak-anak sejak dini agar terbiasa berinfak.
“Letakkan kotak infak di sekolah. Biarkan anak-anak berlatih memberi, agar tumbuh dengan mental kaya dan suka berbagi,” pesan Zainul.
Zainul juga mengingatkan tentang pentingnya membangun generasi visioner, sehat, dan berakhlak.
Dia menyinggung hasil riset IQ di Asia Tenggara yang menempatkan Indonesia di peringkat bawah, sebagian karena kurangnya gizi dan lemahnya budaya berpikir maju.
“Kita harus berani berubah: berpikir jauh ke depan, memperbaiki gizi, dan memperkuat keimanan. Itu kunci membangun bangsa cerdas dan berkarakter,” tandas ketua Lazismu Jatim ini.
Dalam kesempatan itu, Zainul juga berbagi kisah ringan saat berkunjung ke rumah Duta Besar RI di Singapura beberapa waktu lalu.
Dia bercerita, kunjungan itu penuh keakraban karena istri Dubes merupakan teman sekelas istrinya, dan Bu Dubes sendiri adalah teman sekelasnya di masa kuliah.
“Kami sempat menginap di Singapura beberapa hari, dan semua fasilitas disediakan dengan penuh keramahan. Bu Dubes bilang, suaminya itu Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh. Saya bilang, memang luar biasa, tapi yang lebih luar biasa lagi kalau kita bisa menjadi manusia yang penuh manfaat bagi orang lain,” katanya disambut tawa hadirin.
Zainul menegaskan, ukuran keberhasilan seseorang bukan pada jabatan atau fasilitas, melainkan pada seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain.
“Menjadi pejabat atau pimpinan itu mudah, tapi menjadi orang yang tetap rendah hati, amanah, dan bermanfaat setelah tidak menjabat, itu yang luar biasa. Karena jabatan akan berakhir, tapi amal kebaikan akan kekal di sisi Allah,” tutupnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments