Dunia hari ini ibarat sebuah panggung raksasa. Di atasnya, para aktor negara memainkan drama konflik, diplomasi, dan kepentingan nasional yang dampaknya menjalar hingga ke dapur masyarakat biasa.
Di balik hiruk-pikuk itu, ada satu indikator yang bekerja dalam senyap namun amat menentukan: Geopolitical Risk Index (GPR).
GPR bukan sekadar angka statistik. Ia adalah termometer politik global yang mengukur seberapa panas ketegangan dunia.
Dikembangkan oleh Dario Caldara dan Matteo Iacoviello, indeks ini disusun melalui analisis ribuan teks berita internasional yang memuat isu perang, terorisme, konflik antarnegara, dan ketegangan geopolitik lainnya. Semakin tinggi nilainya, semakin besar pula ketidakpastian yang menyelimuti dunia.
Sejak 1985, pergerakan GPR menyerupai roller coaster. Puncak-puncak tajam muncul bersamaan dengan peristiwa besar dunia: Perang Teluk 1991, serangan 11 September 2001, invasi Irak 2003, krisis Ukraina 2014, hingga lonjakan ekstrem pada 2022 saat Rusia menginvasi Ukraina.
Memasuki 2025, banyak yang berharap suhu geopolitik mereda. Namun harapan itu belum sepenuhnya terwujud. GPR masih bertahan di level relatif tinggi, berkisar antara 0,045–0,060. Angka ini menandakan satu hal: dunia belum benar-benar keluar dari badai.
Mengapa Kita Harus Peduli?
Karena risiko geopolitik tidak hanya hidup di meja perundingan atau ruang strategi militer. Dampaknya nyata dan langsung menyentuh kehidupan sehari-hari.
Ketika GPR melonjak, investor global cenderung panik. Modal asing menarik diri dari negara yang dianggap berisiko dan berpindah ke aset aman seperti emas atau obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat, lonjakan signifikan GPR dapat memangkas investasi global hingga 5 persen hanya dalam beberapa bulan.
Konsekuensinya jelas: proyek infrastruktur tertunda, penciptaan lapangan kerja melambat, dan pertumbuhan ekonomi tertekan.
Pasar saham pun tidak kebal. Setiap kenaikan GPR hampir selalu diiringi volatilitas yang meningkat. Tahun 2022 menjadi contoh nyata.
Pasca-invasi Rusia ke Ukraina, indeks saham global sempat terkoreksi hampir 10 persen. Sektor teknologi yang sebelumnya agresif justru melemah, sementara sektor defensif seperti kesehatan dan utilitas menjadi tempat berlindung.
Konflik geopolitik tidak berhenti pada ketidakpastian pasar. Ia menjalar ke rantai pasok global. Energi dan pangan menjadi korban pertama.
Lonjakan GPR pada 2022–2023 mendorong inflasi energi di Eropa hingga mendekati 30 persen. Harga gandum dan komoditas pangan melonjak, menghantam negara berkembang yang bergantung pada impor.
Dalam situasi seperti itu, bank sentral berada di posisi sulit. Untuk meredam inflasi, suku bunga dinaikkan.
Namun langkah ini membawa risiko lain: perlambatan ekonomi, bahkan resesi. Dunia pun terjebak dalam lingkaran setan—konflik melahirkan inflasi, inflasi memicu pengetatan moneter, dan pertumbuhan ekonomi pun tersendat.
Siapa Pemain Utama dalam Risiko Global?
Amerika Serikat dan Rusia secara konsisten menempati posisi teratas dalam GPR, mencerminkan peran dominan mereka dalam dinamika konflik global. China menunjukkan tren peningkatan sejak 2018, seiring memanasnya perang dagang dan isu Taiwan.
Indonesia, relatif stabil dalam indeks ini, meski pernah mengalami lonjakan saat krisis Asia 1998 dan gelombang terorisme awal 2000-an. Secara umum, negara-negara G20 bergerak mengikuti pola global: naik tajam setiap kali dunia diguncang krisis besar.
Memprediksi geopolitik bukanlah meramal nasib, tetapi membaca kecenderungan. Setidaknya ada tiga skenario yang mungkin terjadi:
Optimistis: GPR turun ke kisaran 0,035–0,040 jika konflik Ukraina mereda dan stabilitas Timur Tengah terjaga.
Baseline: GPR bertahan di level 0,045–0,055, seiring dunia yang semakin multipolar dan penuh friksi.
Pesimistis: GPR melonjak di atas 0,060 jika terjadi eskalasi besar, seperti konflik Taiwan atau krisis energi baru.
Apa pun skenarionya, satu hal jelas: risiko geopolitik akan tetap menjadi latar musik perekonomian global dalam dekade mendatang.
Risiko tidak selalu bisa dihindari, tetapi bisa dikelola. Ada beberapa langkah strategis yang perlu dipertimbangkan:
Pertama, diversifikasi investasi. Investor tidak boleh menggantungkan portofolio pada satu jenis aset atau satu kawasan. Aset lindung nilai tetap relevan di era ketidakpastian.
Kedua, penguatan ketahanan pangan dan energi. Pemerintah harus memastikan cadangan strategis memadai dan mempercepat transisi energi agar tidak terlalu rentan terhadap guncangan global.
Ketiga, kerja sama regional dan global. Negara berkembang, termasuk Indonesia, perlu memaksimalkan forum seperti G20 untuk menjaga stabilitas perdagangan dan keamanan pasokan.
Keempat, transparansi dan edukasi publik. Informasi tentang risiko geopolitik harus disampaikan secara jernih agar pelaku usaha dan masyarakat mampu mengambil keputusan rasional.
GPR Index mungkin terdengar teknis dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun dampaknya sangat nyata. Ia menjelaskan mengapa harga beras bisa naik, mengapa proyek tertunda, atau mengapa pasar saham tiba-tiba memerah.
Dunia yang kita hadapi hari ini bukan lagi globalisasi yang mulus, melainkan arena penuh gesekan. Memahami risiko geopolitik bukan hanya tugas ekonom atau analis, tetapi kebutuhan semua pihak.
Dan yang terpenting, kita masih punya pilihan: bersiap dan beradaptasi, bukan sekadar pasrah pada keadaan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments