Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Gula Pahit di Balik Layar: Mengulik Makna Horor Pabrik Gula yang Viral

Iklan Landscape Smamda
Gula Pahit di Balik Layar: Mengulik Makna Horor Pabrik Gula yang Viral
pwmu.co -
Nashrul Mu'minin, Content Writer Yogyakarta. (Istimewa/PWMU.CO)

Oleh Nashrul Mu’minin, Content Writer Yogyakarta 

PWMU.CO – Film Pabrik Gula viral menjadi perbincangan hangat sejak trailer pertamanya dirilis. Diangkat dari thread horor SimpleMan di Twitter, film ini berhasil mencuri perhatian penonton dengan janji cerita seram yang autentik. Namun, setelah ditonton, banyak yang menyadari bahwa film ini seperti KKN di Desa Penari versi lebih mahal—sama formula, beda kemasan.

Tapi apakah itu buruk? Tidak juga. Hanya saja, penonton mulai jenuh dengan template cerita yang itu-itu lagi: sekelompok orang masuk ke tempat angker, melanggar norma, lalu diteror makhluk halus. 

Satu hal yang patut diacungi jempol dari Pabrik Gula adalah nilai produksinya. Seting pabrik gula tua yang dibangun dengan detail, efek CGI yang tidak asal-asalan, dan atmosfer horor yang terjaga dengan baik membuktikan bahwa film ini bukan produk low-budget. Bahkan, kebun tebunya dibuat nyata, tidak mengandalkan efek digital seperti yang dilakukan Nolan di Interstellar dengan kebun jagungnya. 

Tapi sayang, di balik kemewahan visual, ceritanya terasa seperti deja vu. Lagi-lagi, konflik utamanya bermula dari pelanggaran norma seksual. Mirip KKN di Desa Penari, di mana dosa yang sama menjadi pemicu kemarahan makhluk halus. Pertanyaannya: Kenapa harus dosa itu lagi? Padahal, di dalam film ini sendiri ada pelanggaran lain yang lebih berat seperti keserakahan, pengkhianatan, atau kekejaman manusia. Apakah karena tema itu yang paling mudah “digoreng” di Indonesia? 

Jumpscare Overdosis & Komedi yang Menyelamatkan Salah satu kelemahan film ini adalah ketergantungannya pada jumpscare. Dari menit pertama, penonton sudah dibombardir dengan kejutan-kejutan yang kadang terasa dipaksakan. Awalnya seru, tapi lama-lama melelahkan. Seperti makan pedas terus-terusan—mulanya nikmat, akhirnya justru bikin sakit perut. 

Pesan Moral

Namun, film ini punya penyelamat: adegan komedi. Kehadiran para komika seperti Aci Resti dan Boris Bokir berhasil meredakan ketegangan. Mereka memberikan jeda segar di tengah horor yang kadang terlalu overload. Selain itu, akting Budi Ros dan Dewi Pakis sebagai eyang-eyang juga menjadi scene stealer. Karakter mereka memberikan kedalaman emosional yang jarang ditemukan di film horor Indonesia. 

Respons penonton terhadap Pabrik Gula terbelah. Ada yang merasa film ini “serem banget” karena efek suara dan visualnya yang mengganggu, tapi ada juga yang kecewa karena alurnya terlalu mudah ditebak. Beberapa bahkan menyebut film ini “KKN di Desa Penari versi pabrik”.

Di luar negeri, film horor Indonesia memang mulai dilirik, terutama sejak kesuksesan Pengabdi Setan. Namun, Pabrik Gula belum sepenuhnya berhasil menembus pasar global karena ceritanya yang terlalu localized dan kurang universal. Berbeda dengan The Wailing (Korea) atau The Conjuring (Hollywood) yang bisa dinikmati tanpa perlu memahami konteks budayanya. 

Film horor seharusnya tidak sekadar menakut-nakuti, tapi juga membawa pesan moral. Di Pabrik Gula, pesannya jelas: setiap dosa ada konsekuensinya tapi sayang, pesan itu tenggelam dalam repetisi cerita yang sudah terlalu sering dipakai. 

Dalam Islam, dosa dan azab kubur sering diingatkan dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam Surah Al-Mulk ayat 10:  

*وَقَالُوا۟ لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِىٓ أَصْحَٰبِ ٱلسَّعِير

“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.'” (QS. Al-Mulk: 10) 

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia sering menyesal setelah terlambat. Mirip dengan tokoh-tokoh di Pabrik Gula yang baru sadar setelah diteror arwah penasaran. Beberapa ulama mengingatkan bahwa film horor bisa menjadi media muhasabah (introspeksi diri), asalkan tidak berlebihan.

Film Horor

KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pernah mengatakan, Film horor boleh ditonton asal mengingatkan kita pada akhirat. Tapi kalau cuma buat ketakutan tanpa hikmah, lebih baik dihindari. 

Sementara itu, tokoh budaya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) berpendapat, Horor dalam budaya Jawa bukan sekadar hantu, tapi simbol ketidakseimbangan alam. Ketika manusia melanggar harmoni, alam akan membalas.”

Agar tidak terjebak dalam formula yang sama, film horor Indonesia perlu: 

1. Eksplorasi tema baru Misalnya horor sosial, psikologis, atau sejarah yang belum banyak diangkat. 

2. Kurangi jumpscare murahan Atmosfer horor sebenarnya bisa dibangun tanpa kejutan berlebihan. 

3. Perdalam karakter Penonton butuh tokoh yang relatable, bukan sekadar korban jumpscare. 

Pabrik Gula merupakan film horor yang secara teknis memukau, tapi ceritanya masih terjebak zona nyaman. Ia seperti gula—manis di lidah, tapi jika dikonsumsi berlebihan justru bikin sakit.  Mungkin inilah saatnya sineas Indonesia berani keluar dari comfort zone dan menciptakan horor yang benar-benar mind-blowing, bukan sekadar jumpscare yang mudah dilupakan.

Editor Amanat Solikah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu