Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Gunakan E-Voting, Pemira PR IPM Smamdela Catat Partisipasi 78,8 Persen

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Gunakan E-Voting, Pemira PR IPM Smamdela Catat Partisipasi 78,8 Persen
IPM kids Sd Al-Islam turut diajak untuk menggunakan hak suara (lia/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pemilihan Raya (Pemira) Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) berlangsung dengan memanfaatkan teknologi e-voting, Selasa (20/10/2026). Dari 420 pemilih terdaftar, sebanyak 331 siswa menggunakan hak suaranya atau mencapai tingkat partisipasi 78,8 persen.

Pemira yang berlangsung di lingkungan Smamdela ini menjadi sarana pembelajaran demokrasi bagi pelajar. Melalui sistem pemungutan suara digital, siswa belajar menggunakan hak pilih sekaligus memahami pentingnya tanggung jawab dalam menentukan pemimpin organisasi.

Kegiatan diawali dengan pembukaan di Aula Lantai 2 Smamdela pukul 08.00–08.30 WIB. Setelah itu, pemungutan suara berlangsung di ruang e-vote mulai pukul 08.30 hingga 11.55 WIB.

Dua kandidat bersaing dalam pemilihan ketua umum PR IPM SMAMDELA. Mereka adalah Aluno Kenathra Saragosa dari kelas XI IPA 1 sebagai kandidat nomor urut 1 dan Mohammad Nur Akbar dari kelas XE sebagai kandidat nomor urut 2.

Mekanisme pemilihan menggunakan token yang diberikan kepada pemilih sesuai prosedur panitia. Setelah memberikan suara melalui sistem digital, pemilih mencelupkan jari ke tinta sebagai penanda telah menggunakan hak pilihnya.

Penerapan e-voting menjadi pengalaman bagi siswa untuk mengenal pemanfaatan teknologi dalam proses demokrasi. Meski menggunakan sistem digital, panitia tetap berperan dalam mengatur alur pemilih, mengelola token, dan memastikan setiap tahapan berlangsung tertib.

Pemilih Berharap Ketua Terpilih Mampu Merangkul Anggota

Di balik proses pemungutan suara, terdapat harapan besar terhadap sosok pemimpin yang akan terpilih. Sebagian pemilih telah mantap menentukan pilihan karena mengenal karakter kandidat, sedangkan sebagian lainnya masih mempertimbangkan keputusan.

Haysa Fatin, salah satu petugas di ruang pemungutan suara, mengamati beragam respons pemilih selama kegiatan berlangsung. Dari percakapannya dengan sejumlah siswa, ia menangkap harapan agar ketua terpilih mampu merangkul seluruh anggota dan menjaga komunikasi dalam organisasi.

“Waktu keluar ruangan, ada beberapa yang saya mintai pendapat, Bu. Banyak yang berharap ketua terpilih nanti mampu merangkul anggota dan menjaga komunikasi,” ungkap Haysa Fatin.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan bukan sekadar menentukan siapa yang memperoleh suara terbanyak. Lebih dari itu, Pemira menjadi ruang bagi pelajar untuk menitipkan kepercayaan kepada calon pemimpin yang dinilai mampu membawa organisasi bergerak bersama.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Konsep Otomatis
Proses pemungutan suara digital (lia/PWMU.CO)

Teknologi memang membantu proses penyaluran suara, tetapi kualitas kepemimpinan tetap ditentukan oleh kemampuan mendengarkan aspirasi, membangun hubungan yang baik, dan melibatkan anggota dalam kegiatan organisasi.

Melalui e-voting, siswa juga mendapatkan pengalaman menggunakan teknologi dalam proses pemilihan sekaligus belajar menghargai hak pilih setiap orang. Pengalaman ini menjadi bagian dari pembelajaran demokrasi di lingkungan sekolah.

Mohammad Nur Akbar Raih 197 Suara

Berdasarkan hasil penghitungan suara, Mohammad Nur Akbar memperoleh 197 suara, sedangkan Aluno Kenathra Saragosa meraih 134 suara. Dengan demikian, Mohammad Nur Akbar unggul 63 suara.

Hasil pemilihan diumumkan pada pukul 15.50–16.30 WIB di ruang XD.

Dari total 420 pemilih terdaftar, sebanyak 331 siswa berpartisipasi. Sementara itu, 89 pemilih tidak menggunakan hak suaranya. Data tersebut menunjukkan bahwa partisipasi telah mencapai mayoritas, meskipun masih terdapat ruang untuk meningkatkan keterlibatan siswa pada pemilihan berikutnya.

Dalam konteks organisasi pelajar, partisipasi merupakan bagian penting dari proses perkaderan. Siswa tidak hanya belajar memilih pemimpin, tetapi juga memahami bahwa hak suara merupakan bentuk tanggung jawab dalam menentukan arah organisasi.

Penggunaan e-voting turut memperkenalkan praktik demokrasi yang memanfaatkan teknologi. Namun, keberhasilan sistem digital tetap membutuhkan ketelitian panitia, kepatuhan terhadap prosedur, serta penghormatan terhadap kerahasiaan pilihan setiap pemilih.

Pemira PR IPM Smamdela pun menjadi pengalaman belajar tentang hak, tanggung jawab, dan kepercayaan. Tingkat partisipasi 78,8 persen menunjukkan keterlibatan mayoritas pemilih terdaftar, sekaligus menjadi bahan evaluasi agar semakin banyak siswa terdorong mengambil bagian dalam kehidupan organisasi. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 21/10/2026 13:15
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu