Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dr. Waston, M.Hum., menempati peringkat ke-25 dunia dalam kategori Education and Islamic Studies pada Top 1000 Scholar Verified Ranking yang diterbitkan Scholarly Index.
Pemeringkatan tersebut menggunakan periode dampak akademik 2021–2025. Di tingkat Indonesia, Waston berada di posisi ke-7 dalam kelompok Top 1000 Scholar.
Capaian ini menempatkan akademisi UMS tersebut dalam jajaran peneliti yang memiliki rekam jejak publikasi dan dampak akademik di bidang pendidikan dan kajian Islam.
Namun, Waston tidak melihat peringkat tersebut sebagai tujuan utama perjalanan akademiknya. Baginya, posisi tersebut merupakan konsekuensi dari proses panjang yang dibangun melalui penelitian, penulisan, dan publikasi ilmiah secara konsisten.
“Ranking bukan tujuan utama. Saya justru melihatnya sebagai hasil dari proses panjang dalam meneliti, menulis, dan mempublikasikan karya secara konsisten,” ujar Waston saat ditemui Rabu (7/10/2026).
Waston menjelaskan, Top 1000 Scholar Verified Ranking memetakan rekam jejak akademik peneliti melalui sejumlah indikator bibliometrik. Beberapa indikator yang tercantum dalam sertifikat antara lain Impact Score, Statistical Percentile, Category D-index, dan H-index.
Menurut dia, indikator tersebut menunjukkan bahwa penilaian tidak semata-mata didasarkan pada jumlah publikasi.
Dampak karya ilmiah juga menjadi bagian dari penilaian, antara lain melalui keterbacaan dan rujukan karya oleh peneliti lain dalam bidang yang berkaitan.
“Produktif saja belum cukup. Karya kita juga perlu memiliki relevansi bagi perkembangan ilmu,” jelasnya.
Bukan Peringkat Lintas Disiplin
Waston menegaskan, posisi ke-25 dunia tersebut perlu dibaca sesuai dengan kategori keilmuan yang dinilai. Peringkat itu bukan posisi ke-25 dari seluruh ilmuwan di dunia lintas disiplin, melainkan peringkat dalam kategori Education and Islamic Studies pada pemeringkatan Top 1000 Scholar.
Selama perjalanan akademiknya, Waston konsisten mengembangkan kajian Pendidikan Islam dan kajian keislaman. Risetnya bersinggungan dengan persoalan pendidikan, karakter, perubahan sosial, serta tantangan masyarakat modern.
Ia saat ini juga dipercaya sebagai Kaprodi Program Doktor Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam UMS.
Konsistensi pada bidang tersebut, menurut Waston, menjadi bagian dari identitas akademik yang terbentuk melalui proses penelitian dan publikasi dalam waktu panjang.
“Yang paling penting bukan berapa ranking kita, tetapi apakah ilmu yang kita hasilkan benar-benar bermanfaat,” katanya.
Waston berharap capaian tersebut tidak berhenti sebagai pencapaian personal, tetapi ikut membuka ruang lebih luas bagi pengembangan kajian Pendidikan Islam Indonesia di tingkat internasional.
Menurut dia, Indonesia memiliki kekayaan tradisi pendidikan Islam yang dapat menjadi perspektif dalam diskursus akademik global. Tradisi tersebut mencakup pesantren, madrasah, sekolah Islam, perguruan tinggi Islam, serta pengalaman pendidikan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.
Dalam konteks UMS, capaian tersebut juga diharapkan membuka lebih banyak peluang kolaborasi penelitian, publikasi bersama, pertukaran akademik, dan kerja sama internasional.
Ia mendorong dosen muda dan mahasiswa UMS untuk membangun budaya riset, berani memasuki publikasi internasional, dan memperluas jejaring akademik.
Bagi Waston, pemeringkatan akademik pada akhirnya bukan sekadar persoalan angka. Di baliknya ada pertanyaan yang lebih penting: sejauh mana penelitian dan publikasi yang dihasilkan memberi manfaat bagi perkembangan ilmu dan masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments