Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Guru Besar Umsura: AI Boleh Membantu Menulis, Mahasiswa Harus Berpikir

Iklan Landscape Smamda
Guru Besar Umsura: AI Boleh Membantu Menulis, Mahasiswa Harus Berpikir
Prof. Sujinah. Foto: tagkapan layar zoom
pwmu.co -

Kecerdasan buatan (AI) dapat membantu mahasiswa menemukan gagasan, menyusun draf tulisan, hingga menawarkan beragam sudut pandang. Namun, teknologi tidak boleh mengambil alih proses berpikir, kreativitas, dan tanggung jawab intelektual mahasiswa.

Pesan itu disampaikan Prof. Dr. Dra. Sujinah, M.Pd., Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Pendidikan, Komunikasi, dan Sains (FPKS) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), dalam Seminar Nasional IKAPROBSI bertajuk Srawung Akademik: Kreativitas Berbahasa, Teknologi, dan Etika Akademis dalam Pembelajaran Generasi Digital, Sabtu (10/10/2026).

Dalam seminar yang berlangsung melalui Zoom pukul 09.00–11.00 WIB tersebut, Sujinah mengajak pendidik dan mahasiswa melihat perkembangan AI secara kritis. Teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperluas kemampuan belajar, bukan menggantikan proses intelektual yang menjadi inti pendidikan.

Menurut dia, pembelajaran bahasa di era digital menghadapi tantangan yang lebih luas daripada sekadar kemampuan menghasilkan teks.

“Peserta didik juga perlu mengembangkan kreativitas berbahasa, memahami konteks komunikasi, memeriksa kebenaran informasi, serta mempertanggungjawabkan setiap karya yang dihasilkan,” jelasnya

Sujinah menempatkan kreativitas berbahasa sebagai salah satu kompetensi penting generasi digital. Kemampuan berbahasa tidak berhenti pada kepatuhan terhadap kaidah, tetapi juga mencakup kecakapan menyampaikan gagasan secara inovatif, ekspresif, dan bermakna sesuai tujuan komunikasi.

Ia mencontohkan, cerita rakyat dapat diolah menjadi podcast, komik digital, atau sinetron.

“Kisah Sarip Tambak Oso maupun Malin Kundang, misalnya, dapat dikembangkan kembali melalui sudut pandang dan media yang berbeda,” katanya.

Proses tersebut menuntut mahasiswa bukan sekadar menyalin atau memindahkan cerita ke media digital, melainkan mengolahnya menjadi karya baru yang menunjukkan pemahaman dan kreativitas.

“Pertanyaan mendasarnya, apakah mahasiswa hanya menghasilkan teks atau benar-benar menyampaikan gagasan yang orisinal?” ujar Sujinal

Pertanyaan ini semakin relevan ketika AI mampu menghasilkan tulisan dalam waktu singkat. Kemudahan teknologi harus diimbangi kemampuan memilih gagasan, menyusun argumen, menentukan diksi, dan membangun suara penulis sendiri.

AI Membantu, bukan Menggantikan Mahasiswa

Dalam pembelajaran bahasa, Sujinah menjelaskan, dosen, mahasiswa, dan AI memiliki peran berbeda. Dosen membimbing proses belajar, menetapkan tujuan, dan memberikan umpan balik.

“Sementara mahasiswa mengolah gagasan, menilai hasil, serta bertanggung jawab atas karya. Sementara itu, AI dapat membantu menyusun draf awal dan menawarkan alternatif ide. Perbedaan mendasar terletak pada siapa yang berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil akhir,” tandasnya.

Menurut Sujinah, AI dapat digunakan untuk menawarkan beberapa alternatif judul atau sudut pandang. Mahasiswa kemudian memeriksa sumber, memilih argumen, mengembangkan tulisan, dan merevisinya berdasarkan masukan yang relevan.

“Sebaliknya, ketika mahasiswa meminta AI membuat esai lengkap lalu langsung mengumpulkannya tanpa memeriksa fakta atau memahami argumen, produk tulisan memang tersedia. Namun, proses belajar yang seharusnya berlangsung justru tidak terlihat,” papar dia.

Karena itu, Sujinah menekankan pentingnya mempertahankan peran aktif mahasiswa dalam setiap tahapan pembelajaran.

Kata dia, pemanfaatan AI secara bertanggung jawab dapat dilakukan melalui lima langkah: menggunakan AI sebagai pemantik gagasan, menelaah struktur dan pilihan kata, memverifikasi sumber serta fakta, merevisi bagian yang klise agar suara penulis lebih kuat, dan menjelaskan alasan di balik keputusan penulisan.

“Dengan cara ini, AI menjadi alat bantu untuk memperkaya proses belajar, bukan jalan pintas untuk menghindarinya,” ujar Sujinah.

Empat Prinsip Etika Akademis

SMPM 5 Pucang SBY

Sujinah juga mengingatkan pentingnya etika akademis ketika AI semakin mudah diakses. Ia menyoroti empat praktik yang perlu diperhatikan mahasiswa.

Pertama, transparansi, yakni menjelaskan kapan dan bagaimana AI digunakan. Kedua, validasi, yaitu memeriksa fakta, kutipan, dan keluaran AI. Ketiga, atribusi, yakni mengakui kontribusi AI sesuai kebijakan akademik yang berlaku. Keempat, agensi, yaitu memastikan keputusan akhir tetap berada di tangan mahasiswa.

“Keempat prinsip tersebut menjadi penting karena keluaran AI tidak otomatis benar. Informasi, kutipan, dan argumen yang dihasilkan tetap harus diperiksa sebelum digunakan dalam karya akademik,” urainya.

Mahasiswa, imbuh Sujinah, juga perlu mampu menjelaskan sumber informasi, proses penulisan, serta alasan di balik pilihan argumennya.

“Dengan demikian, kejujuran akademis tidak hanya berkaitan dengan pencantuman sumber, tetapi juga keterbukaan dan tanggung jawab terhadap proses menghasilkan karya,” katanya.

Sujinah juga menyoroti dua sisi generasi digital: kreatif sekaligus rentan. Perkembangan media sosial dan AI generatif membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi gagasan dan menuangkannya dalam beragam bentuk, mulai dari teks, video, podcast, hingga konten audio. Teknologi juga memperluas ruang kolaborasi dan ekspresi kreatif.

Namun, peluang tersebut disertai sejumlah risiko yang perlu dikelola. Sujinah menyoroti kecenderungan membaca secara dangkal, penggunaan ragam bahasa yang tidak mempertimbangkan konteks dan audiens, serta pemanfaatan AI tanpa verifikasi, pemahaman, atau pengolahan mandiri.

“Risiko tersebut bukan berarti semua mahasiswa memiliki kecenderungan yang sama. Tantangannya justru bagaimana pembelajaran membantu mereka memanfaatkan keunggulan teknologi tanpa kehilangan kedalaman berpikir,” terang Sujinah.

Dalam konteks pembelajaran bahasa, ia menekankan tiga lapis kompetensi yang perlu berjalan beriringan.

Pertama, kaidah, meliputi ketepatan ejaan, tata bahasa, dan pilihan kata. Kedua, konteks, yakni kemampuan menyesuaikan bahasa dengan tujuan, pembaca, dan situasi komunikasi. Ketiga, etika, yang mencakup verifikasi sumber serta tanggung jawab atas isi dan dampak pesan.

Dengan tiga kompetensi tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan teks, tetapi juga memilih diksi secara tepat, membangun argumen sesuai audiens, dan bertanggung jawab atas makna yang disampaikan.

Pembelajaran Lebih Bermakna

Sujinah menegaskan, pembelajaran generasi digital perlu dirancang secara kritis, kreatif, kontekstual, dan manusiawi. Penyesuaian media belajar dengan kebiasaan generasi digital tidak boleh menghilangkan kedalaman berpikir, konteks budaya, maupun nilai kemanusiaan.

“Mahasiswa, misalnya, dapat membuat video tentang tradisi lokal. Namun, tugasnya tidak berhenti pada produksi video. Mereka juga harus memeriksa fakta, menyesuaikan ragam bahasa dengan audiens, dan merefleksikan proses pembuatan karya,” katanya.

Contoh tersebut, imbuh dia, menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran bukan semata-mata diukur dari produk digital yang menarik, tetapi juga dari proses berpikir dan pemahaman yang menyertainya.

Sujinah menawarkan kerangka sederhana untuk merancang pembelajaran Bahasa Indonesia pada era AI generatif.

Kreativitas berbahasa dipadukan dengan teknologi, diperkuat pemahaman pedagogi dan etika, dilaksanakan melalui eksplorasi serta revisi, kemudian diarahkan pada pembelajaran yang kritis dan bertanggung jawab.

“AI boleh memantik gagasan dan membantu membuka kemungkinan baru. Namun, mahasiswa tetap harus mengolahnya menjadi pemikiran yang matang,” tutup Sujinah. (*).

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 10/10/2026 11:38
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu