Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Guru Konten Kreator: Mengajar atau Mencari Panggung?

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Guru Konten Kreator: Mengajar atau Mencari Panggung?
ilustrasi chatgpt.com
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Abdul Rokhim Ashari Guru Teknologi dan Informasi SD Muhammadiyah 1 Kebomas Gresik

Menjadi guru kini tidak cukup hanya pandai mengajar. Setidaknya, begitulah kesan yang muncul saat membuka media sosial. Sebagian guru justru membagikan video pembelajaran dengan metode yang kreatif. Ada pula yang membuat konten dengan bantuan artificial intelligence (AI) hingga merekam aktivitas kelas.

Semua tampak menarik dan mengundang perhatian. Ruang kelas kini bisa disaksikan ribuan orang. Guru kreatif mendapat apresiasi dan karyanya tersebar luas. Bahkan, beberapa guru akhirnya dikenal banyak orang.

Tentu, fenomena ini bukan sesuatu yang buruk. Dunia pendidikan justru membutuhkan guru yang gemar berbagi.

Pengalaman mengajar sebaiknya tidak berhenti di kelas sendiri. Video sederhana pun bisa menginspirasi guru lain. Terutama mereka yang sedang kehabisan ide pembelajaran.

Namun, ada satu hal yang perlu kita renungkan. Ketika sibuk membuat konten, guru bisa kehilangan fokus. Kita perlu membedakan mengajar untuk murid dan kamera.

Sebab, penampilan hebat di media sosial belum tentu mencerminkan pembelajaran berkualitas.

Kita bisa membuat video dengan visual memukau. Menempatkan musik secara tepat dengan transisi yang mulus justru menambah daya tarik.  Dengan memanfaatkan AI,  justru membuat hasilnya semakin terlihat profesional.

Namun, ada pertanyaan penting setelah video selesai, “Apakah murid benar-benar memahami materi yang disampaikan?”

Jumlah penonton dan tanda suka tidak menjawab pertanyaan itu. Algoritma media sosial memiliki cara sendiri memilih konten. Video menghibur dan unik biasanya lebih mudah menarik perhatian.

Konten yang memancing rasa penasaran juga cepat mendapatkan penonton. Sebaliknya, proses mendidik sering berlangsung sederhana. Proses tersebut belum tentu menarik atau berpotensi viral.

Misalnya, murid membutuhkan penjelasan berulang hingga benar-benar memahami materi. Proses itu mungkin tidak menghasilkan video menarik.

Guru juga harus mendampingi anak yang kesulitan belajar. Tidak ada efek sinematik yang mampu menggambarkan seluruh proses tersebut. Padahal, di situlah pekerjaan guru sebenarnya berlangsung.

Ketika Kamera Ikut Masuk Kelas

Saya tidak bermaksud menghalangi guru untuk membuat konten. Setiap guru memiliki kreativitas dan keinginan berkarya. Mereka berhak mengembangkan diri melalui berbagai cara.

Membangun personal branding bukan masalah, selama tetap profesional. Hanya saja, jangan sampai kebutuhan konten mengendalikan kegiatan belajar.

Bayangkan, andaikata si guru merasa perlu mengulang aktivitas karena rekaman kurang bagus. Atau, sibuk mengatur kamera dan mengabaikan respons murid.

Mungkin praktik seperti ini hanya terjadi pada sebagian kecil guru. Tapi tetap saja guru perlu mampu menjaga batas profesionalisme.

Jangan sampai kelas berubah menjadi studio, menjadikan murid sekadar figuran, dan pembelajaran hanya menjadi bahan unggahan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Hal yang tidak kalah penting, privasi siswa juga perlu mendapat perhatian. Tidak semua peristiwa di kelas layak untuk dipublikasikan. Wajah dan atau kesalahan siswa bukanlah bahan hiburan.

Begitu pula momen ketika seorang anak menangis, guru harus menghormati hak anak tersebut dan menjaga kepercayaan orang tuanya.

Guru tentu memahami tanggung jawab tersebut. Karena itu, aktivitas media sosial menuntut kebijaksanaan lebih besar. Guru perlu memilah konten sebelum membagikannya kepada publik.

Tidak Harus Viral untuk Disebut Berhasil

Media sosial sebenarnya menyediakan ruang belajar yang luar biasa. Guru bisa bertukar ide dan mengenal teknologi baru. Mereka juga dapat mempelajari praktik pendidikan berbagai daerah. Guru tidak harus menunggu pelatihan untuk memperoleh inspirasi.

Kehadiran AI bahkan membuka peluang pembelajaran lebih luas. Guru dapat membuat ilustrasi, video, dan kuis interaktif. Mereka juga bisa menghadirkan simulasi yang sebelumnya sulit diwujudkan. Karya semacam itu layak dibagikan jika bermanfaat.

Namun, teknologi hanyalah alat dan konten hanyalah media. Keduanya tidak otomatis menjadikan seseorang guru lebih baik.

Guru hebat bukan sekadar pembuat video pembelajaran menarik. Mereka juga tahu kapan harus meletakkan ponsel. Setelah itu, mereka kembali memperhatikan kebutuhan muridnya.

Sebab, keberhasilan pendidikan tidak selalu terlihat mencolok. Ada anak yang perlahan mulai berani bertanya,  murid yang akhirnya mampu membaca setelah berkali-kali dibimbing.

Ada pula yang kembali percaya diri. Semua itu terjadi karena guru terus mendampinginya.

Pencapaian tersebut mungkin tidak pernah viral. Konten itu tidak masuk halaman rekomendasi. Bahkan, tidak ada ribuan tanda suka yang menyertainya.

Namun, dampaknya bisa melampaui umur sebuah konten media sosial.

Jadi, silakan menjadi guru konten kreator. Teruslah berkarya, berbagi, dan memanfaatkan teknologi. Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk dikenal. Terlebih, jika pengakuan itu lahir dari karya bermanfaat.

Hanya saja, kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri. Apakah konten kita membantu orang lain belajar? Ataukah kita menjadikan pembelajaran sebagai panggung popularitas?

Kita tidak perlu menjawab pertanyaan itu melalui kolom komentar. Cukup jawab dengan jujur melalui praktik sehari-hari.

Sebab, dikenal banyak orang memang menyenangkan. Namun, murid mengingat guru karena ilmu dan kebaikannya. Keduanya merupakan pencapaian yang berbeda.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 25/10/2026 15:26
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu