Wakil Menteri (Wamen) Pendidikan Dasar dan Menengah , Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pola kaderisasi Muhammadiyah perlu diperbarui agar lebih lentur, adaptif, dan mampu menjawab dinamika zaman.
Pesan itu disampaikan Fajar dalam Rapat Koordinasi Nasional Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat (24/10/2025).
Menurut alumnus UMS tersebut, pola kaderisasi yang terlalu formalistik dan hierarkis sudah tidak sejalan dengan karakter generasi muda masa kini. Generasi Z, katanya, lebih menyukai pendekatan yang fleksibel, kreatif, dan berbasis nilai ketimbang yang bersifat struktural dan ideologis.
“Survei menunjukkan bahwa anak-anak muda sekarang tidak tertarik pada hal-hal yang sangat ideologis. Mereka lebih menghargai sesuatu yang fungsional dan berdampak nyata. Karena itu, kaderisasi ke depan harus lebih cair, berbasis profesi dan isu, bukan hanya pada struktur organisasi,” ujar Fajar.
Ia mencontohkan, gerakan kaderisasi seperti IMM tidak hanya perlu hidup di tingkat struktur formal seperti Komisariat atau Cabang, tetapi juga di ruang-ruang baru yang sesuai dengan minat dan profesi generasi muda.
Lebih lanjut, Fajar menekankan bahwa arah baru kaderisasi Muhammadiyah sebaiknya bergerak dari sistem berbasis struktur menuju sistem berbasis nilai dan dampak.
“Organisasi harus fokus pada profesi dan isu strategis. Bukan lagi soal usia atau gender, tapi seberapa besar seseorang mampu memberi manfaat. Struktur penting, tapi bila tak relevan dengan kebutuhan generasi, maka kaderisasi akan kehilangan daya hidup,” tegasnya.
Selain itu, Fajar juga mengajak untuk menafsirkan kembali Teologi Al-Ma’un sebagai ideologi praksis Muhammadiyah. Menurutnya, ajaran Al-Ma’un bukan sekadar amal sosial, tetapi fondasi bagi pengembangan kecakapan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan empati sosial.
“Amal saleh berarti setiap perbuatan yang memberi manfaat bagi manusia. Maka dakwah Muhammadiyah yang berkemajuan harus semakin inklusif dan berdampak. Itu bagian dari dakwah rahmatan lil ‘alamin yang berorientasi pada nilai dan kemanusiaan,” jelasnya.
Fajar juga menilai arah kaderisasi Muhammadiyah sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang kini diperkuat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di bawah Menteri Abdul Mu’ti.
“Prinsip pembelajaran mendalam adalah mengaitkan konsep dengan kenyataan. Selama ini banyak yang belajar hal-hal abstrak tanpa tahu manfaatnya. Prinsip itu juga penting dalam kaderisasi Muhammadiyah,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Fajar menyerukan agar Muhammadiyah membangun masa depan organisasi dengan ekosistem yang kolaboratif dan berdampak luas. Ia menekankan pentingnya memperkuat jejaring lintas generasi, bidang, dan lembaga sebagai fondasi keberlanjutan gerakan.
“Muhammadiyah akan tetap relevan jika mampu menjawab kebutuhan zaman dan menghadirkan kemaslahatan nyata bagi umat dan bangsa,” tutupnya.






0 Tanggapan
Empty Comments