“Hadirin jamaah tarawih Masjid Bahagia yang berbahagia,” begitu sapa Muh Kholid AS saat mengisi Tarawih di Masjid Bahagia, Surabaya, (24/2/2026). Dalam ceramah menjelang shalat witir, ia banyak mengungkap pentingnya jamaah Masjid Bahagia untuk selalu berbahagia. Selain nama masjid yang sudah bahagia, banyak faktor lain yang membuat jamaah masjid di Jl Makam Peneleh Nomor 37 itu bahagia.
Untuk menyelaraskan dengan nama masjid bahagia, Pemimpin Redaksi PWMU.CO 2016-2018 inipun mengaku membaca surat bahagia. Dalam 8 rakaat Tarawih, ia membacakan surat Ar-Rahman yang di dalamnya memang banyak kabar gembira (basyiir) daripada peringatan (nadziir).
“Karena kebetulan nama masjidnya bahagia, sengaja saya membaca surat yang isi ayatnya juga selaras dengan bahagia. Fabiayyi alaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan, yang arti Suroboyo-annya adalah kurang bahagia piye,” jelas Kholid. Kebetulan ayat “bahagia” itu ada 31 kali dalam surat yang menempati urutan ke-55 itu.
Bahagia pertama jamaah Masjid Bahagia adalah nama masjidnya yang unik. “Ini adalah salah satu dari sedikit sekali masjid yang punya nama bahasa Indonesia,” jelas Kholid sambil mewanti-wanti agar nama masjid ini tidak berubah. Sebab, biasanya masjid selalu memakai nama berbahasa Arab. Entah itu At-Taqwa, Al-Huda, Al-Falah, Al-Badar, dan sejenisnya.
Bahagia kedua, tambah Kholid, karena jamaah masjid Bahagia masih penuh. Meski sudah memasuki tarawih ke-8. Sebab, tidak sedikit di tempat lain, yang shaf jamaahnya semakin “maju” karena jamaahnya menyusut. Tapi kondisi ini tidak terjadi di Masjid Bahagia.
Bahagia ketiga jamaah Masjid Bahagia adalah lokasinya di tempat yang bersejarah. “Maka orang Peneleh harus bahagia karena ditaqdirkan lahir di kawasan bersejarah yang penuh kepahlawanan,” kata Kholid.
Ia mencontohkan 2 pejuang legendaris yang pernah hidup di Peneleh dan sekitarnya. Yaitu HOS Tjokroaminoto sebagai pendiri Syarikat Islam, serta Presiden Soekarno sang proklamator kemerdekaan RI. “Bahkan kalau bapak-ibu membuka nama-nama yang terlibat dalam pemerintahan pusat RI, termasuk Surabaya di awal kemerdekaan, sangat mudah menemukan tokoh Peneleh.”
“Tidak heran jika Pemkot Surabaya sejak tahun 2018 lalu menetapkan Peneleh sebagai kampung heritage,” jelas pria yang juga Tim Ahli Pimpinan DPRD Kota Surabaya itu. Dari murid “ideologis” HOS Tjokroaminoto lahir banyak tokoh besar Indonesia.
Sementara untuk bahagia keempat, jamaah Masjid Bahagia harus berbahagia karena masjid itu menjadi saksi derap langkah Muhammadiyah di Surabaya. Terutama di periode perintisan pada tahun 1920-an.
“Jika bapak ibu membaca sejarah Muhammadiyah di Surabaya, maka tokoh-tokohnya berputar sekitar Peneleh, Plampitan, Jagalan, Kaliasin, Gentengkali, dan mutar-muter di situ. Hanya Kalimas tempat KH Mas Mansur yang “mencelat” agak jauh,” jelas Kholid.
“Bahkan saat KH Ahmad Dahlan pertama kali mendakwahkan Islam Berkemajuan, Peneleh adalah jujugannya. Dakwah pertamanya adalah di Masjid Jami’, kemudian berlanjut ke musholla depan rumah Profesor Roeslan Abdulghoni di Plampitan. Di musholla yang kini menjadi Masjid Plampitan itulah tempat Bung Karno berguru kepada Kiai Dahlan,” terang Kholid.
Tak heran jika TK ABA pertama di Surabaya berdiri di daerah sekitar Peneleh. Begitu juga Sekolah Dasar Muhammadiyah pertama di Surabaya, juga di kawasan tersebut. Termasuk Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah-pun juga tidak lepas dari godokan Peneleh.
Maka bahagia manakah yang kamu dustakan?






0 Tanggapan
Empty Comments