Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir MSi, menegaskan bahwa Islam Berkemajuan bukanlah sebuah mazhab, melainkan perspektif keislaman yang menyatu dengan paham agama dalam Muhammadiyah.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam Studium General Sekolah Ideologi Muhammadiyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta di Universitas Ahmad Dahlan, Senin (11/8/2025).
“Islam Berkemajuan dikonstruksi untuk menjadi peradaban Islam pada abad ke-21 dan seterusnya. Apakah mungkin? Tergantung kita. Inna Allāha lā yughayyiru mā biqawmin ḥattā yughayyirū mā bi-anfusihim – Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri,” ujarnya dikutip dari laman Muhammadiyah.or.id.
Lima Ciri Islam Berkemajuan
Haedar menjelaskan, konsep Islam Berkemajuan telah dirumuskan pada Muktamar Muhammadiyah 2010 di Yogyakarta dan menjadi naskah resmi pada Muktamar Muhammadiyah 2022 di Surakarta.
Pandangan ini bersifat distingtif, membedakan Muhammadiyah dari gerakan Islam lainnya, dengan rujukan langsung pada ajaran Islam, hadis Nabi, dan sejarah peradaban Islam.
Menurutnya, ada lima ciri utama Islam Berkemajuan:
Satu, Berbasis Tauhid
Tauhid, kata Haedar, bukan hanya menyangkut ḥablun min Allāh (hubungan dengan Allah), tetapi juga ḥablun min al-nās (hubungan dengan sesama) dan kepedulian terhadap alam semesta.
“Iman bukan sekadar tentang Allah, tetapi lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li-akhīhi mā yuḥibbu linafsih – Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri,” jelasnya.
Ia menegaskan, meski umat Islam boleh berilmu, kaya, dan berkuasa, mereka tidak boleh angkuh, congkak, atau merasa paling suci.
Dua, Merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunah
Muhammadiyah, lanjutnya, memiliki metode khas dalam menggali kedua sumber ajaran Islam itu untuk membangun peradaban, akhlak, dan pendidikan, serta mengembangkannya melalui ijtihad.
Tiga, Menghidupkan Tajdid dan Ijtihad
Haedar mendorong perguruan tinggi Muhammadiyah–‘Aisyiyah, khususnya fakultas agama Islam, untuk melahirkan pembaruan besar. “Minimal, kader Muhammadiyah jangan anti dengan tajdid dan ijtihad,” tegasnya.
Empat, Mengembangkan Wasatiyah
Ia menjelaskan, wasatiyah berarti tengahan yang proporsional, memiliki prinsip, dan tidak ekstrem. “Penggunaan kata moderat memiliki makna sama dengan wasatiyah,” ujarnya.
Lima, Mewujudkan Islam sebagai Raḥmatan lil-‘Ālamīn
Haedar menegaskan, Islam Berkemajuan bukan hanya untuk Muhammadiyah, tetapi untuk seluruh makhluk di bumi.
“Apa yang kita lakukan harus memberi rahmat dan kebaikan terbaik untuk semua, termasuk kehidupan bangsa dan kemanusiaan semesta,” tandasnya.
Warisan Pemikiran KH Ahmad Dahlan
Menutup pemaparannya, Haedar mengingatkan pentingnya mentalitas kerja keras yang diwariskan KH Ahmad Dahlan.
“Mentalitas yang dibangun KH Ahmad Dahlan bukanlah mentalitas pemalas. Kalau kita bersungguh-sungguh mewujudkan itu, Allah akan membukakan jalannya,” katanya.
Ia berharap Muhammadiyah menjadi kekuatan yang memberi warna dan kontribusi bagi peradaban dunia. “Muhammadiyah harus menjadi kekuatan yang memberi warna dan kontribusi bagi peradaban,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments