Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hakikat Kemenangan dalam Ibadah Puasa

Iklan Landscape Smamda
Hakikat Kemenangan dalam Ibadah Puasa
Oleh : Nashrul Mu'minin Konten Kreator di Yogyakarta
pwmu.co -

Ramadan selalu datang dengan membawa suasana yang berbeda.

Ia tidak sekadar pergantian posisi bulan dalam kalender Hijriah, namun menjadi momentum besar bagi umat Islam untuk kembali menata hati, lisan, dan akal.

Juga bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Ibadah ini merupakan perjalanan spiritual yang penuh ujian, godaan, dan tantangan bagi kesabaran.

Melalui Al-Baqarah ayat 183, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” 

Ayat ini menegaskan bahwa inti dari puasa bukan pada masalah fisik saja, namun pada pembentukan ketakwaan sebagai kualitas tertinggi seorang hamba.

Dalam kehidupan nyata, gangguan terhadap puasa bukan justru pada datangnya rasa lapar, melainkan pada bagaimana pengendalian emosi, ucapan, dan pikiran.

Banyak orang mampu menahan makan, tetapi begitu sulit untuk menahan amarah.

Banyak pribadi yang sanggup menahan haus, tetapi tanpa sadar mudah tergelincir dalam gibah, ujaran kasar, atau prasangka buruk.

Di sinilah puasa menjadi medan latihan pengendalian diri yang sesungguhnya.

Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari).

Hadis ini menjadi pengingat bahwa puasa bukan ritual kosong. Puasa harus bisa menghadirkan perubahan perilaku.

Puasa melatih kesabaran dalam berbagai bentuk—termasuk sabar menahan hawa nafsu, menghadapi konflik sosial, dalam pekerjaan, atau bahkan ketika tubuh terasa lemah.

Ramadan dapat menjadi madrasah kehidupan, tempat manusia belajar mengendalikan diri sebelum mengendalikan dunia.

Gangguan-gangguan terbesar saat berpuasa sering kali berasal dari hal-hal kecil yang kemudian menganggapnya sepele.

Media sosial, misalnya, dapat menjadi ladang pahala sekaligus dosa.

Jari yang menulis komentar negatif, menyebarkan hoaks, serta menyakiti orang lain bisa mengurangi nilai puasa tanpa disadari.

Puasa mengajarkan bahwa menjaga lisan kini juga berarti menjaga tulisan.

Selain menjaga ucapan, puasa juga mendidik akal agar lebih jernih dalam berpikir.

Ketika tubuh tidak dipenuhi keinginan konsumtif, pikiran menjadi lebih tenang dan reflektif.

Banyak ulama menjelaskan bahwa lapar yang terkontrol dapat melembutkan hati dan menajamkan kesadaran spiritual manusia.

Dalam dimensi sosial, puasa menghidupkan empati.

Rasa lapar yang dialami setiap hari membuat seseorang lebih memahami penderitaan kaum duafa.

Oleh sebab itu, Ramadan selalu identik dengan sedekah, berbagi makanan, dan mempererat solidaritas sosial.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Puasa bukan ibadah individual, tetapi juga gerakan kemanusiaan.

Allah SWT juga mengingatkan dalam QS Al-Hujurat ayat 11 agar manusia tidak saling merendahkan dan mencela sesama.

Nilai ayat ini sangat relevan dengan praktik puasa karena menjaga kehormatan orang lain merupakan bagian dari menjaga kesucian hati.

Puasa sejati menumbuhkan kelembutan, bukan kesombongan spiritual.

Rasulullah saw. juga bersabda: “Puasa adalah perisai.” (HR Bukhari dan Muslim).

Perisai yang dimaksud bukan hanya perlindungan dari dosa, tetapi juga benteng dari sikap impulsif, kebencian, dan keegoisan.

Orang yang benar-benar berpuasa akan lebih tenang menghadapi provokasi dan lebih bijak dalam bersikap.

Ramadan mengajarkan bahwa kemenangan bukan diraih dengan kekuatan fisik, melainkan kemampuan mengalahkan diri sendiri.

Menahan marah ketika disakiti, tetap jujur ketika memiliki kesempatan berbuat curang, dan tetap rendah hati ketika dipuji merupakan bentuk kemenangan spiritual yang hakiki.

Puasa juga menjadi ruang evaluasi diri. Banyak manusia sibuk memperbaiki citra di hadapan orang lain, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.

Ramadan hadir sebagai waktu terbaik untuk memperbanyak istigfar, memperbaiki salat, serta mendekatkan diri melalui tilawah Al-Qur’an dan doa yang tulus.

Tantangan puasa di era modern semakin kompleks.

Kesibukan kerja, tekanan ekonomi, dan arus informasi yang cepat sering menguras emosi manusia.

Namun, justru di tengah situasi tersebut, puasa menjadi penyeimbang yang menenangkan jiwa.

Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian dunia, tetapi juga kedamaian batin.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar ibadah musiman yang berakhir saat Idulfitri tiba.

Nilai kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri seharusnya terus hidup setelah Ramadan berlalu.

Jika setelah puasa seseorang menjadi lebih lembut hatinya, lebih santun lisannya, dan lebih jernih akalnya, maka itulah tanda keberhasilan puasa yang sesungguhnya.

Ramadan mengajarkan satu pesan besar: cobaan, godaan, dan tantangan hidup tidak akan pernah hilang, tetapi manusia diberi kemampuan untuk menghadapinya dengan sabar.

Puasa adalah latihan panjang untuk menjadi manusia yang lebih kuat secara spiritual, lebih bijaksana secara sosial, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Karena sejatinya, kemenangan terbesar bukanlah menahan lapar selama sehari, melainkan mampu menjaga hati sepanjang kehidupan.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu