MI Muhammadiyah Gedeg Al Hafidz (MI Megah), Mojokerto, menanamkan nilai kepemimpinan, keimanan, dan tanggung jawab kepada murid melalui upacara peringatan Hari Santri Nasional, Kamis (22/10/2026).
Upacara berlangsung tertib dan khidmat dengan diikuti seluruh murid, guru, serta staf madrasah. Sebanyak 14 murid dipercaya menjadi petugas upacara. Keterlibatan mereka menjadi sarana belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepemimpinan sejak dini.
Nafisha, murid kelas IV, bertugas sebagai pemimpin upacara. Sementara itu, Arfi dari kelas V menjadi pembawa acara atau master of ceremony (MC).
Tiga murid bertugas sebagai pengibar bendera, yakni El Shanum dari kelas V serta Nazala dan Shanum dari kelas VI. Enam murid lainnya menjadi pemimpin pasukan, yaitu Ozan, Izam, dan Albar dari kelas V serta Fathan, Nizar, dan Zahir dari kelas VI.
Adapun Chila dari kelas V membacakan Undang-Undang Dasar 1945, Vennoza dari kelas V membacakan teks Pancasila, dan Zyan dari kelas V memimpin doa.
Kepala MI Megah, Moh. Immaduddin Irwansyah, S.Pd.I., bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, ia mengajak murid mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus meneladani nilai-nilai yang mereka wariskan.
Santri dan Perjuangan Kemerdekaan
Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari pengorbanan berbagai golongan, termasuk para kiai, asatidz, dan santri. Mereka tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga menanamkan keberanian, patriotisme, dan kecintaan terhadap Tanah Air.
“Kemerdekaan Indonesia tidak lahir begitu saja, tetapi juga diperjuangkan dengan pengorbanan para kiai, asatidz, dan santri yang mengobarkan semangat jihad, patriotisme, serta cinta Tanah Air,” pesannya.
Karena itu, menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya mengenang jasa para pahlawan. Mereka juga perlu melanjutkan perjuangan melalui perilaku yang mencerminkan keimanan, persatuan, dan tanggung jawab.
“Jadilah generasi yang berjiwa patriotis dan pemimpin yang berakhlak mulia, menjadikan iman sebagai landasan, ilmu sebagai pedoman, serta pengabdian sebagai bukti cinta kepada agama, bangsa, dan negara,” lanjutnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa santri memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa. Nilai-nilai yang dipelajari di madrasah harus menjadi bekal untuk menjaga kemerdekaan sekaligus membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Pemimpin Beriman dan Menjaga Amanah
Dalam amanatnya, Immaduddin juga mengingatkan murid agar kelak menjadi pemimpin yang menjadikan iman sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi harus mampu menjalankan tanggung jawab dan menjaga kepercayaan.
Pemimpin tidak seharusnya mengabaikan kerusakan alam, seperti pembakaran hutan dan pembukaan perkebunan sawit yang tidak memperhatikan dampak ekologis maupun kehidupan masyarakat,” tutur Imaduddin.
Selain itu, ia mengingatkan bahaya penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, termasuk korupsi. Kekuasaan semestinya digunakan untuk memperjuangkan kepentingan bersama, bukan memperkaya diri sendiri.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, perlu dibiasakan sejak dini. Murid harus belajar bersikap jujur meskipun tidak diawasi, bertanggung jawab ketika mendapat tugas, berani mengakui kesalahan, serta peduli terhadap sesama dan lingkungan.
Karakter kepemimpinan tidak terbentuk secara instan ketika seseorang memperoleh jabatan. Karakter itu tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Upacara bendera pun menjadi ruang pembelajaran yang bermakna. Ketika murid belajar mengikuti aturan, menjalankan tugas, menghormati bendera, dan bekerja sama, mereka sekaligus berlatih memahami disiplin serta tanggung jawab dalam kehidupan bersama.
Menyiapkan Pemimpin Masa Depan
Peringatan Hari Santri Nasional di MI Megah menjadi momentum untuk menghubungkan perjuangan masa lalu dengan tanggung jawab generasi masa kini. Jika para pendahulu berjuang melawan penjajahan, generasi sekarang menghadapi tantangan berupa kebodohan, ketidakjujuran, kerusakan lingkungan, ketidakadilan, dan lunturnya kepedulian sosial.
Cinta Tanah Air, menurut pesan dalam upacara tersebut, tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Nilai itu harus terlihat dalam kesungguhan belajar, penghormatan kepada guru dan orang tua, kepedulian terhadap lingkungan, serta keberanian membela kebenaran.
Semangat santri juga tidak berhenti pada busana atau simbol. Semangat tersebut harus tercermin dalam perilaku santun, keteguhan prinsip, keluasan ilmu, dan kesediaan menjaga amanah.
Melalui kegiatan ini, MI Megah meneguhkan komitmennya untuk mendidik generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan mulia dalam akhlak.
Sebab, bangsa membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga menjaga kepercayaan dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.
Dari lapangan madrasah, pesan Hari Santri kembali bergema: kemerdekaan merupakan warisan perjuangan, sedangkan masa depan bangsa adalah amanah yang harus dijaga. Santri hari ini adalah calon pemimpin masa depan yang diharapkan mampu mengabdikan ilmu, iman, dan akhlaknya bagi agama, bangsa, dan negara. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments