Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Ustaz Dr. Hasan Ubaidillah, S.E., M.M., mengajak jamaah memperkuat kesabaran, rasa syukur, dan keridaan terhadap takdir Allah. Ia juga menekankan pentingnya pendidikan anak serta revitalisasi masjid Muhammadiyah agar semakin bermanfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Umum Mentari Pagi yang diselenggarakan Takmir Masjid Nurul Huda Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ambulu, Ahad (18/10/2026). Pengajian berlangsung khidmat dan disambut antusias oleh jamaah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah setempat.
Dalam pembukaannya, Hasan mengungkapkan rasa syukur karena dapat bersilaturahmi secara langsung dengan jamaah di Ambulu. Ia juga mengapresiasi semangat ibu-ibu ‘Aisyiyah yang konsisten mengikuti berbagai kegiatan pengajian untuk menambah ilmu dan memperkuat pemahaman agama.
Tiga Intisari Penting dalam Kehidupan
Merujuk pada pesan Imam Ahmad, Hasan menyampaikan tiga hal yang perlu menjadi pegangan seorang muslim dalam menjalani kehidupan, yaitu sabar, bersyukur, dan rida terhadap takdir Allah.
Pertama, sabar sebagai kekuatan. Menurutnya, sabar merupakan fondasi penting dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Seorang mukmin hendaknya tidak menggantungkan seluruh harapannya kepada sesama manusia, tetapi menyandarkan segala urusan kepada Allah Swt.
Sikap sabar bukan berarti berhenti berusaha. Sebaliknya, kesabaran menjadi bekal untuk tetap teguh dalam menjalani proses kehidupan, menghadapi kesulitan, dan terus berikhtiar dengan mengharap pertolongan Allah.
Kedua, bersyukur atas nikmat Allah. Hasan menjelaskan bahwa bersyukur tidak selalu mudah karena berkaitan dengan cara seseorang menyikapi nikmat yang diterimanya. Ia mengutip penjelasan Ibnu Katsir bahwa nikmat yang sejati adalah nikmat yang semakin mendekatkan seseorang kepada Allah.
“Jika nikmat yang diraih justru membuat kita jauh dari Allah, bersiaplah karena nikmat itu bisa berubah menjadi ujian atau azab,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan jamaah agar mewaspadai keadaan ketika seseorang terus disibukkan dengan perkara yang tidak bermanfaat hingga melupakan kewajiban dan ketaatan kepada Allah.
Ketiga, rida terhadap takdir Allah. Hasan menjelaskan bahwa setiap ketetapan Allah mengandung hikmah. Karena itu, seorang muslim hendaknya menerima takdir dengan keimanan dan keyakinan kepada Allah, sembari tetap berusaha menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Ketiga pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas kehidupan seorang muslim tidak hanya diukur dari banyaknya nikmat yang diperoleh, tetapi juga dari sikapnya ketika menghadapi kesulitan, menggunakan nikmat, dan menerima ketetapan Allah.
Mengenal Empat Karakter Anak dalam Al-Qur’an
Selain membahas intisari kehidupan, Hasan mengangkat tema pengasuhan anak atau parenting. Ia menguraikan empat gambaran tentang anak yang disebutkan dalam Al-Qur’an, yakni sebagai perhiasan, musuh, ujian, dan penyejuk hati.
Pertama, anak sebagai perhiasan (ziinah). Anak dapat menjadi kebanggaan keluarga melalui prestasi, keterampilan, dan perilaku baik yang ditunjukkannya.
Kedua, anak sebagai musuh (‘aduwwan). Anak dapat menjadi sumber persoalan ketika perilaku atau tindakannya menentang orang tua, merugikan keluarga, atau mendorong orang tua menjauh dari ketaatan kepada Allah.
Ketiga, anak sebagai ujian (fitnah). Kehadiran anak dan berbagai persoalan dalam proses pengasuhannya dapat menguji keimanan, kesabaran, tanggung jawab, serta keharmonisan keluarga.
Keempat, anak sebagai penyejuk hati (qurrata a’yun). Inilah karakter yang diharapkan setiap orang tua, yaitu anak saleh yang membawa ketenteraman, berperilaku baik, dan mendoakan kedua orang tuanya.
Melalui penjelasan tersebut, Hasan mengingatkan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam membimbing anak agar tumbuh menjadi generasi yang beriman dan berakhlak mulia. Pendidikan keluarga tidak cukup hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga perlu memperhatikan keimanan, perilaku, dan kebiasaan sehari-hari.
Ia turut menekankan pentingnya menjaga kehalalan dan kebaikan rezeki serta makanan yang diberikan kepada keluarga.
“Pastikan makanan yang kita berikan kepada anak-anak kita berasal dari rezeki yang halal dan thayyib. Dosa pertama manusia di bumi terjadi karena persoalan makanan yang dilarang,” pesannya.
Pesan ini menegaskan bahwa pendidikan anak juga berkaitan dengan tanggung jawab orang tua dalam memenuhi kebutuhan keluarga melalui cara yang halal dan baik.
Revitalisasi Masjid Muhammadiyah agar Berdampak bagi Masyarakat
Pada bagian akhir tausiyah, Hasan menyampaikan pesan khusus tentang pengelolaan dan revitalisasi masjid Muhammadiyah. Ia mendorong agar masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga berkembang menjadi pusat pelayanan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, masjid perlu hadir secara nyata dalam menjawab kebutuhan jamaah dan lingkungan sekitar. Pengelolaannya harus diarahkan agar masyarakat tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga memperoleh manfaat melalui berbagai program sosial dan ekonomi.
Sebagai contoh, Hasan menyoroti Masjid Baitul Mukhlisin di Nologaten, Ponorogo, yang meraih Juara I kategori Masjid Unggulan Nasional dalam ajang Cabang, Ranting, dan Masjid (CRM) Award VI tahun 2025 yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Masjid tersebut mengembangkan sejumlah program pelayanan sosial dan pemberdayaan ekonomi umat. Di antaranya adalah Bank Ziska yang memberikan pinjaman tanpa bunga dan agunan melalui Lazismu, unit usaha air minum, layanan sosial Baitul Mukhlisin, serta Resto Muhammadiyah.
Berbagai program itu menunjukkan bahwa masjid dapat memainkan peran lebih luas dalam kehidupan masyarakat. Selain menjadi pusat ibadah, masjid juga dapat menjadi tempat tumbuhnya kepedulian sosial, penguatan ekonomi, dan pelayanan bagi warga yang membutuhkan.
Hasan menegaskan bahwa kemegahan bangunan masjid semestinya diimbangi dengan kepedulian terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya.
“Gedung dan menara masjid tidak perlu terlalu megah jika di sekitarnya masih ada tetangga yang kesulitan makan. Masjid Muhammadiyah harus hadir memberi solusi, melayani, dan merawat masyarakat,” pungkasnya.
Pesan tersebut disambut antusias oleh jamaah yang hadir. Melalui Pengajian Umum Mentari Pagi ini, jamaah diharapkan tidak hanya memperoleh penguatan spiritual, tetapi juga terdorong menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarga dan mengembangkan masjid sebagai pusat ibadah, pelayanan, serta pemberdayaan umat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments