Betapa butuhnya kita terhadap hidayah Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Tanpa hidayah-Nya, manusia akan hidup dalam kebingungan: tidak mengenal jati diri, tidak memahami tujuan hidup, bahkan tersesat dalam menentukan arah langkah.
Sungguh, andaikata bukan karena hidayah Allah, niscaya kita tidak akan tahu siapa kita dan untuk apa kita dihadirkan di muka bumi ini.
Allah sendiri menegaskan bahwa hidayah adalah nikmat terbesar. Karena itu, setiap hari, minimal 17 kali dalam shalat, kita memohon:
“Ihdinaṣ-ṣirāṭal mustaqīm.”
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fātiḥah: 6)
Permohonan ini menunjukkan bahwa hidayah bukan sesuatu yang statis atau otomatis dimiliki selamanya. Ia harus terus diminta, dijaga, dan diperjuangkan.
Sebab, hati manusia bisa berubah, iman bisa naik dan turun, dan jalan hidup sering kali dipenuhi persimpangan yang membingungkan.
Namun, datangnya hidayah tentu ada sebabnya. Salah satunya adalah kesungguhan seseorang dalam berusaha menggapai hidayah itu sendiri.
Allah tidak menutup pintu hidayah, tetapi Dia menunggu keseriusan hamba-Nya dalam mengetuk pintu tersebut.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabūt: 69)
Ayat ini menegaskan satu kata kunci: bersungguh-sungguh. Hidayah tidak diberikan kepada mereka yang setengah-setengah, apalagi yang hanya berharap tanpa usaha.
Ia diberikan kepada orang-orang yang mau melawan kemalasan, menundukkan hawa nafsu, dan berjuang memperbaiki diri, meski perlahan dan tertatih.
Bersungguh-sungguh berarti berusaha semampunya, bukan semaunya. Semampunya berarti mengerahkan kemampuan terbaik sesuai kondisi diri: belajar agama walau sedikit demi sedikit, menjaga salat meski belum sempurna kekhusyukannya, meninggalkan maksiat meski harus jatuh bangun.
Sedangkan semaunya hanyalah mengikuti rasa nyaman, menunda taubat, dan menyandarkan kegagalan pada takdir tanpa ikhtiar.
Hasil yang diperoleh akan sebanding dengan usaha dan kesungguhan. Allah Maha Adil. Dia tidak menyia-nyiakan jerih payah hamba-Nya, sekecil apa pun.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal perbuatan kalian yang Aku catat untuk kalian. Kemudian Aku akan memberikan balasannya kepada kalian. Barang siapa yang mendapati kebaikan maka hendaklah ia bersyukur memuji Allah, dan barang siapa yang mendapati keburukan maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim no. 55)
Hadis ini mengajarkan tanggung jawab pribadi. Hidayah dan kesesatan bukanlah sesuatu yang datang tanpa sebab.
Ketika seseorang semakin dekat dengan Allah, rajin menuntut ilmu, menjaga pergaulan, dan memperbaiki akhlak, ia akan merasakan hatinya lebih tenang dan langkah hidupnya lebih terarah.
Sebaliknya, ketika seseorang menjauh dari nilai-nilai kebaikan, meremehkan dosa, dan enggan berubah, maka kegelapan hati adalah konsekuensi yang tak terelakkan.
Ilustrasi sederhana dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pelajar yang ingin lulus ujian tidak cukup hanya berdoa tanpa belajar.
Doa harus berjalan seiring dengan membaca, berlatih, dan bersungguh-sungguh. Demikian pula hidayah.
Seseorang yang ingin dekat dengan Allah, tetapi enggan shalat, malas membaca Al-Qur’an, dan terus-menerus berada dalam lingkungan yang buruk, ibarat orang yang ingin sampai tujuan tetapi enggan melangkahkan kaki.
Banyak pula kisah nyata orang-orang yang awalnya jauh dari agama, tetapi ketika mereka mulai membuka hati, menghadiri majelis ilmu, memperbaiki salat, dan memohon ampunan Allah dengan sungguh-sungguh, perlahan hidup mereka berubah.
Hati menjadi lebih lembut, pandangan hidup lebih jernih, dan keputusan-keputusan hidup pun lebih bijak. Itulah tanda-tanda hidayah yang hadir karena usaha.
Oleh sebab itu, jika kita merasa belum mendapatkan hidayah, atau hidayah terasa jauh dari hidup kita, janganlah tergesa-gesa menyalahkan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Boleh jadi, masalahnya ada pada diri kita sendiri: kurangnya kesungguhan dalam mencari, lemahnya ikhtiar, atau masih kuatnya keterikatan pada hal-hal yang Allah tidak ridhai.
Hidayah itu dicari, bukan sekadar diangan-angankan. Ia diraih dengan doa yang tulus, usaha yang nyata, dan kesabaran dalam proses.
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā senantiasa membimbing langkah kita, meneguhkan hati kita di atas kebenaran, dan mengaruniakan hidayah hingga akhir hayat. Āmīn. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments