Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hidup Itu Sama, yang Berbeda Hanya Cara Kita Menghitungnya

Iklan Landscape Smamda
Hidup Itu Sama, yang Berbeda Hanya Cara Kita Menghitungnya
Foto: muslimplanner.com
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Hidup sering kali terasa tidak adil. Kita mudah merasa lelah, terbebani, bahkan menganggap diri paling menderita. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, setiap orang sejatinya berjalan di jalur yang sama: diberi kesempatan merasakan bahagia sekaligus derita.

Perbedaannya bukan pada hidup yang dijalani, melainkan pada cara kita menghitungnya—apakah sibuk menghitung nikmat hingga lahir rasa syukur, atau justru tenggelam dalam hitungan masalah yang tak pernah usai.

Wahai diriku…
Apapun kisah hidupmu dan bagaimanapun keadaanmu, sesungguhnya kamu sama dengan perjalanan hidup orang lain: memiliki kesempatan yang sama untuk merasa bahagia dan menderita.

Wahai diriku…
Di hadapanmu selalu ada dua pintu: pintu kebahagiaan dan pintu penderitaan.

Ketahuilah, kunci utama membuka pintu kebahagiaan adalah dengan senang menghitung nikmat Allah, lalu bersyukur.
Sedangkan kunci pembuka pintu penderitaan adalah dengan sibuk menghitung musibah, ketidaknyamanan hidup, lalu mengeluh.

Wahai diriku…
Selama berada di jalur ketakwaan, Allah tidak pernah meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.

Maka rajin-rajinlah menghitung nikmat yang Allah karuniakan kepadamu.

Bukankah Allah telah mengirimkan orang-orang terdekat yang selalu menghiburmu dan memperhatikanmu?

Bukankah Allah telah menganugerahkan orang-orang istimewa yang setia berbagi suka dan duka denganmu?

Bukankah Allah telah menyediakan begitu banyak kemudahan hingga hari ini engkau masih bisa bernapas dan menjalani hidup?

Ilustrasi kehidupan

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Seringkali kita lupa, bahwa kebahagiaan itu tidak selalu datang dalam bentuk besar.
Seorang ayah yang pulang kerja dengan wajah lelah, namun tetap disambut tawa anaknya—itulah nikmat yang sering tak dihitung.

Seorang ibu yang mungkin tidak memiliki kemewahan, tetapi masih bisa memasak dan makan bersama keluarga—itulah kebahagiaan yang kerap terlewatkan.

Ada pula seseorang yang setiap hari mengeluh tentang pekerjaannya. Ia merasa lelah, merasa kurang dihargai. Namun ia lupa, di luar sana banyak orang yang berjuang keras hanya untuk mendapatkan pekerjaan seperti dirinya.

Begitu pula seorang mahasiswa yang mengeluh tugas menumpuk. Ia lupa bahwa ada banyak orang lain yang tidak memiliki kesempatan untuk belajar seperti dirinya.

Di situlah letak perbedaannya: hidupnya sama, tetapi cara memandangnya yang berbeda.

Orang yang menghitung nikmat akan menemukan cahaya bahkan di tengah gelap.
Sedangkan orang yang menghitung masalah akan merasa gelap meski sedang berada dalam terang.

Wahai diriku…
Belajarlah dari mereka yang tetap tersenyum di tengah keterbatasan.
Karena ternyata bukan keadaan yang menentukan kebahagiaan, tetapi cara hati menyikapi keadaan.

Bersyukurlah wahai diriku, agar bahagia.
Bersyukurlah, agar nikmatmu ditambah.

Nikmati proses, jauhi protes, agar jauh dari stres.
Teruslah bersyukur. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡