Pelaksanaan sholat Tarawih malam ke-6 Musholla Al-Jihad PRM Giri Gajah PCM Kebomas, Minggu (22/02/2026), berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kehangatan iman.
Meskipun suasana hujan gerimis menyelimuti malam itu, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para jamaah untuk tetap hadir dan memakmurkan mushollah.
Dengan langkah mantap dan hati yang penuh harap, jamaah dari berbagai usia tetap berdatangan untuk menunaikan ibadah di bulan suci Ramadhan.
Tekankan Urgensi Berbakti pada Orang Tua
Pada kesempatan tersebut, yang bertindak sebagai imam sekaligus penceramah adalah Ustadz Mufid dari Kramat, Duduk Sampeyan.
Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya berbakti kepada orang tua melalui dua kisah sarat hikmah.
Pada kisah pertama, Ustadz Mufid menceritakan tentang seorang ahli ibadah yang sangat tekun menjalankan amal. Ia tidak pernah meninggalkan sholat wajib, rajin melaksanakan sholat tahajud, serta berbagai ibadah sunnah lainnya.
Namun, di balik kesungguhannya dalam beribadah, ia memiliki kekurangan besar, yaitu kurang memperhatikan dan melayani ibunya.
Karena merasa diabaikan, sang ibu menjadi sedih, marah, dan kecewa. Dalam kekecewaannya, ia mendoakan keburukan bagi anaknya. Tak lama kemudian, ujian berat pun datang.
Sang ahli ibadah difitnah oleh seorang wanita yang mengaku bahwa anak yang dikandungnya adalah hasil hubungan dengannya.
Masyarakat pun marah dan memusuhinya. Nama baiknya tercemar, ia dicela dan dihina, bahkan tempat ibadahnya dibakar oleh orang-orang yang terprovokasi oleh fitnah tersebut.
Dalam kondisi terzalimi dan tertekan, sang ahli ibadah tetap berserah diri kepada Allah. Dengan penuh harap, ia memohon pertolongan-Nya.
Atas izin Allah, terjadilah peristiwa luar biasa: bayi yang masih berada dalam gendongan wanita tersebut tiba-tiba dapat berbicara dan bersaksi bahwa sang ahli ibadah bukanlah ayahnya.
Seketika kebenaran terungkap dan fitnah itu pun terbantahkan. Masyarakat tersadar, dan nama baiknya dipulihkan.
Dari kisah ini, jamaah diingatkan bahwa doa orang tua memiliki kekuatan besar, dan Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang terzalimi tanpa pertolongan.
Kisah Imam Masjidil Haram
Kisah kedua yang tersampaikan adalah tentang seorang anak kecil yang selalu memperhatikan ibunya saat memasak. Ia melihat ibunya menaburkan sesuatu seperti pasir ke dalam masakan, dan setiap masakan ibunya selalu terasa lezat.
Suatu hari, ada tamu berkunjung, seperti biasanya ibunya selalu menyuguhkan makanan. Ketika ibunya keluar membeli sesuatu, anak tersebut mencoba meniru kebiasaan ibunya dengan menaburkan pasir ke dalam masakan, berharap rasanya menjadi enak. Namun ternyata, masakan itu justru tidak enak sama sekali.
Mengetahui hal tersebut, sang ibu sempat marah dan jengkel. Namun dalam kemarahannya, ia justru memanjatkan doa.
“Semoga kelak engkau menjadi imam di Masjidil Haram.” Dengan izin Allah, doa tersebut dikabulkan. Anak itu kelak tumbuh menjadi ulama besar dan dikenal dunia sebagai Abdurrahman Al-Sudais, Imam Masjidil Haram.
Di akhir tausiyahnya, Ustadz Mufid menegaskan bahwa kedua kisah tersebut memberikan pelajaran berharga.
“Bagi para orang tua, hendaknya senantiasa menjaga lisan dan tidak mudah melontarkan doa keburukan kepada anak atau siapapun” ujarnya.
Sebaliknya, perbanyaklah doa kebaikan, karena doa orang tua adalah doa yang mustajab. Bimbing dan nasihatilah anak dengan kasih sayang serta jadilah teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan Tarawih malam itu berakhir dengan doa bersama, memohon agar Ramadhan ini menjadi momentum memperbaiki diri, memperkuat ibadah, serta menumbuhkan kasih sayang dan keharmonisan dalam keluarga.
Hujan gerimis yang turun malam itu seakan menjadi saksi keteguhan hati para jamaah dalam meraih keberkahan Ramadhan. Semoga nilai-nilai kebaikan yang tersampaikan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin.






0 Tanggapan
Empty Comments