Di tengah derasnya arus informasi yang nyaris tak terbendung, pers berdiri di persimpangan: menjadi penjaga kebenaran atau sekadar pengikut arus sensasi.
Hari Pers Nasional (HPN) 2026 bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum menegaskan kembali posisi pers sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, sekaligus ladang dakwah yang mencerahkan bangsa.
Kehadiran insan pers sebagai penyuara kebenaran hendaknya didukung kapasitas yang memadai, dengan penuh tanggung jawab menjadikan lahan dakwah yang berarti. Komitmen sebagai pejuang dakwah literasi, sehingga tiada henti menyampaikan kebenaran.
Pers disetiap jaman memiliki peran strategis tidak hanya memberikan informasi tetapi mampu membangun persepsi, lebih lebih diera digital saat ini, penyampaian yang cepat dan bertubi tubi mengisi dunia maya tanpa henti, dengan beragam warta menyasar segala usia, menjadi gaya hidup dengan trend global.
Memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang diperingati setiap tanggal 9 Februari saat ini dengan tema: “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, benar benar membuka nalar kritis kita dan kesadaran tanggung jawab insan pers untuk lebih menempatkan posisi yang strategis dalam penguatan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Alqur’an telah memberikan petunjuk bagaimana peran pers menyampaikan penuh keutuhan, bernilai kebenaran dan meraih kemuliaan, sebagaimana tercantum dalam surat Yusuf ayat 87: “Hai anak anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf, dan jangan kamu berputus asa dari Rahmat Allah”.
Petunjuk ini sangat relevan bagi insan pers. Proses pencarian berita bukan sekadar memburu fakta, tetapi mengemban tanggung jawab atas setiap informasi yang disampaikan. Tantangan dalam mengungkap kebenaran tidaklah ringan.
Karena itu, pers tidak boleh terjebak pada kepentingan sesaat atau sensasi yang mengabaikan dampak. Ayat tersebut menegaskan agar tidak berputus asa dalam mencari kebenaran.
Sebab keputusasaan justru bisa membuka celah bagi pihak tertentu untuk memanfaatkan media demi membangun opini sesuai kepentingannya.
Dengan kesungguhan, komitmen, dan tanggung jawab, Rahmat Allah akan menyertai setiap ikhtiar yang lurus.
Nabi Ya’qub as ayah nabi Yusuf as, ketika masa kanak kanak ada persekongkolan jahat dari kakak kakaknya untuk mengelabui ayahnya bahwa dalam perjalanan bersama adiknya yang bernama Yusuf diserang serigala sehingga meninggal dunia.
Padahal, Yusuf dimasukkan dalam sumur dan terselamatkan dari seorang budak menjadi pemimpin di negeri Mesir yang bijaksana.
Peristiwa ini mengajarkan kepada kita betapa kuatnya informasi hasil hegemoni dan arogansi, namun kebohongan yang sudah ditata rapi itu akhirnya runtuh, justru ditampilkan kisah sukses Yusuf as karena Istiqomah dalam kebersamaan sehingga Rahmat Allah SWT senantiasa diberikan.
Hari Pres Nasional 2026 kita integrasikan dengan ayat Al-Qur’an yang di antaranya berisi dinamika peradaban.
Ini sebagai upaya tema yang dicanangkan bukan sekedar pemanis literasi tapi sarat dengan nilai nilai spiritual sehingga pers menjadi bagian dakwah yang mencerdaskan.
Pers sehat, didukung pribadi insan pers yang kompeten sehingga karya karya jurnalistiknya menambah kekuatan peradaban yang unggul dan berkemajuan.
Karena di sana ada kejujuran, kebenaran dan nilai spiritual yang mencerahkan untuk mampu menyampaikan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
Pers sehat akan memperkuat kehidupan, menginspirasi komitmen pada kebenaran. Pers sehat akan terus mengedukasi membawa pesan dakwah untuk persatuan bangsa.
Pers sehat sangat kebal dari berbagai hal yang merusak, seperti kebohongan, mengadu domba, permusuhan dan sejenisnya. Justru mampu memberikan pesan pesan keteladanan, bukan pesan yang membawa perpecahan.
Pers sehat ekonomi berdaulat, ini benar benar menjadi pers sebagai media yang mampu menumbuhkan kesadaran ekonomi yang menyejahterakan, sehingga kehidupan masyarakat benar benar merasakan kemakmuran.
Ekonomi berdaulat adalah fondasi kemakmuran dan jalan untuk menekan kemiskinan. Di sinilah pers dapat bersinergi, mendorong kesadaran publik tentang pentingnya kesejahteraan yang berkeadilan.
Persoalan kemiskinan harus menjadi prioritas bersama. Meski insan pers bukan ahli ekonomi, karya-karya jurnalistiknya mampu menginspirasi lahirnya kebijakan, gerakan, dan pola pikir yang mengarah pada kehidupan yang lebih sejahtera.
Pers sehat, ekonomi berdaulat, bangsa kuat merupakan tujuan yang ideal, maka saat memperingati Hari Pers Nasional 2026 ini ada peran strategis yang bisa dimainkan untuk kekuatan bangsa.
Ketika masih ada yang berkutat pada pencitraan dan tebar pesona, insan pers dengan penuh amanah menyampaikan fakta sebenarnya.
Bangsa yang lemah karena diamnya pers, bangsa yang terpuruk karena literasi opini yang dibangun penuh dusta, bangsa tidak berdaya karena tidak berani menghadapi tantangan yang ada. Disinilah pers bisa berkiprah untuk mencerdaskan, memberdayakan dan mewujudkan persatuan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selamat Hari Pers Nasional 2026, terus tingkatkan peran dan kontribusi yang berkelanjutan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments