Zikir bukan sekadar aktivitas lisan, tetapi inti yang menghidupkan seluruh ibadah. Tanpa zikir, ibadah hanyalah jasad tanpa ruh, dan Allah tidak menerima ibadah yang kehilangan kesadaran hati.
“Zikir adalah konsumsi utama bagi hati dan ruh kita. Ibadah apa pun, bila tidak diiringi kesadaran kepada Allah, hanyalah tubuh tanpa nyawa,” tegas Ustaz Muhammad Yasri, MHI, mubaligh Muhammadiyah, yang mengupas Kitab Al-Hikam, seperti dilansir di kanal Youtube Takmir Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya
Kajian dimulai dengan ajakan untuk menelaah Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari.
Ustaz Yasri mengajak jamaah membuka telaah dengan basmalah sembari berharap agar Allah menganugerahkan taufik, hidayah, dan pemahaman yang benar.
“Semoga Allah menambah derajat kemuliaan penyusun kitab ini, Syekh Ibnu Athaillah, dan menjadikan kajian ini jalan datangnya hidayah,” ungkapnya.
Ustaz Yasri menjelaskan, segala ketaatan memiliki buah, dan buah itu tumbuh dari kondisi jiwa yang sadar akan Allah. Zikir menjadi amalan paling istimewa karena tidak dibatasi waktu, tidak dibatasi tempat, menyentuh langsung kesadaran terdalam manusia
Dia memberi contoh bagaimana penyebutan nama-nama Allah (Asmaul Husna) dapat membentuk karakter hati:
- “Wa’lamu annallaha ghaniyyun halim” (kesadaran bahwa Allah Maha Kaya dan Maha Santun)
- “Allahu Akbar” menghadirkan rasa kecil di hadapan kebesaran Allah
- “Ghanii, Hamid” (memahami bahwa pemberian Allah tidak pernah butuh balasan)
- “Zikir menciptakan jiwa yang bergantung kepada Yang Maha Kaya,” tekan Ustaz Yasri.
Terapi Utama
Ustaz Yasri lalu menjelaskan, seluruh ibadah memiliki jasad dan ruh. Jasadnya adalah bentuk fisik ibadah, sedangkan ruhnya adalah kesadaran hati yang hidup melalui zikir. Dia memberi contoh bagaimana zikir harus menyertai:
1. Sedekah
“Ketika memberi, kesadaran itu muncul: Ya Allah, Kau yang menggerakkan orang ini datang agar aku bisa bersedekah. Maka tidak ada ruang untuk sombong.”
2. Nafkah untuk keluarga
“Saat menafkahi keluarga, sertakan doa: ya Allah, lewat ini angkatlah derajatku.”
3. Kepemimpinan
Ustaz Yasri mengingatkan hadis: “Kullukum ra’in…” (setiap orang adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban).
Zikir menjadikan seorang pemimpin sadar bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan kebanggaan.
Mengutip hadis Nabi tentang hati sebagai mudghah, Ustaz Yasri menjelaskan, jika hati baik, seluruh tubuh mengikuti dalam kebaikan. Jika hati rusak, seluruh perilaku pun rusak.
Zikir menjadi terapi utama bagi hati agar tetap stabil, sesuai firman Allah: “Ala bidzikrillahi tatmainnul qulub.”
Ustaz Yasri menyinggung salah satu hikmah Ibnu Athaillah: “Jangan tinggalkan zikir hanya karena belum hadirnya hatimu.”
Dia mengingatkan bahwa meninggalkan zikir jauh lebih buruk daripada zikir tanpa kekhusyukan, seperti orang yang tidak makan tetapi berharap kenyang.
“Kesadaran itu tumbuh melalui proses. Jangan berhenti hanya karena rasa hambar,” pesannya.
Garansi Allah Tanpa Jeda
Ia menjelaskan bahwa Allah memberikan janji langsung dalam QS. Al-Baqarah 152: “Fadkuruni” (ingatlah Aku), “Adzkurkum” (Aku pasti mengingatmu). Menariknya, tidak ada jeda atau syarat tambahan di antara keduanya.
Ustaz Yasri menyebutnya sebagai garansi ilahiah yang luar biasa. Dia mengutip dialog seorang sahabat yang merasa terlalu banyak amalan dalam Islam dan meminta pesan yang ringkas.
Nabi menjawab: “La yazalu lisanuka ratban bidzikrillah.” (Basahkanlah selalu lisanmu dengan zikir kepada Allah).
Bahkan, Nabi menyebut zikir sebagai amalan yang paling baik, paling suci, paling tinggi derajatnya, lebih utama dari infak emas, lebih utama dari jihad bertemu musuh.
Dalam penutupnya, Ustaz Yasri menegaskan bahwa zikir harus masuk ke dalam seluruh aktivitas, baik di rumah, di perjalanan, dalam pekerjaan, dalam ibadah formal, bahkan dalam aktivitas sosial.
“Zikir adalah komunikasi dengan Allah yang tidak pernah dibatasi. Melalui zikir, ruh ibadah hidup, hati tenang, dan kesadaran tumbuh,” ujarnya.(*)


0 Tanggapan
Empty Comments