Udara lembap menggantung di langit-langit batu. Bau anyir bercampur keringat dan karat besi. Gelap menekan dari segala arah. Di penjara bawah tanah di kota Hamadan itu, seorang tahanan terjaga saat yang lain mencoba berdamai dengan nasib.
Jam tiga pagi. Tubuhnya lelah. Hidupnya tak pasti. Esok bisa jadi palu eksekusi jatuh tanpa aba-aba.
Namun dari sudut sel, terdengar bunyi yang ganjil. Bukan rintih, bukan doa minta ampun, bukan pula surat wasiat. Yang terdengar adalah gesekan pena di atas kertas.
Dia tidak sedang menulis permohonan pembebasan. Dia sedang menulis bab pertama sebuah kitab kedokteran. Enam ratus tahun kemudian, kitab itu masih dipelajari di University of Oxford.
Namanya Ibnu Sina. Di Barat dikenal sebagai Avicenna. Dan kitab yang lahir dari gelap penjara itu bernama Al-Qanun fi al-Tibb—ensiklopedia medis berjilid-jilid, lebih dari satu juta kata, yang menjadi rujukan dunia berabad-abad lamanya.
Pertanyaannya sederhana, tapi menampar: Apa yang ia punya, yang sering kali tidak kita punya, sampai ia bisa produktif di titik terendah hidupnya?
Hidup yang Tak Pernah Tenang
Kita sering bernegosiasi dengan keadaan. “Nanti deh kalau sudah tenang.” “Nanti deh kalau lagi mood.” “Sekarang lagi banyak pikiran.”
Ibnu Sina nyaris tak pernah punya kemewahan itu. Usia 17, ayahnya wafat. Hidupnya jungkir balik. Usia 20-an, ia diusir dari kota. Mengungsi. Kehilangan buku-buku dan harta. Usia 30-an, difitnah. Dipenjara. Usia 40-an, kabur. Ditangkap lagi.
Hidupnya seperti deretan tanda bahaya yang tak pernah berhenti menyala. Namun justru di tengah perang, pengkhianatan, dan pelarian itulah Al-Qanun fi al-Tibb lahir. Bukan buku tipis. Empat belas jilid. Rapi. Sistematis. Visioner.
Di titik ini, kita mulai curiga: Mungkin produktivitas memang tidak butuh keadaan tenang. Mungkin yang dibutuhkan adalah sistem. Dan Ibnu Sina memilikinya.
Rahasia Pertama: Perpustakaan di Dalam Kepala
Di penjara, ia tak punya akses buku. Tak ada rak referensi. Tak ada perpustakaan. Yang ia punya hanya ingatan. Tapi ingatannya bukan sekadar tumpukan hafalan. Ia adalah perpustakaan hidup.
Sejak kecil, ayahnya tak hanya menyuruhnya menghafal. Ketika ia menamatkan Al-Qur’an di usia 10 tahun, kebanggaan ayahnya bukan pada hafalannya—melainkan pada kemampuannya menjelaskan pola, struktur, dan keterkaitan ayat.
Dia dilatih melihat koneksi, bukan sekadar mengingat fakta. Ketika orang lain membaca buku, mereka mendapatkan informasi. Ketika Ibnu Sina membaca buku, dia mendapatkan peta.
Inilah yang membuatnya bisa menulis tanpa membuka referensi. Semua diskusi, semua kasus pasien, semua teori filsafat dan kedokteran yang pernah dia pelajari—tersimpan rapi di dalam kepala.
Ilmu yang hanya ada di bookmark tidak akan menyelamatkan kita saat krisis. Ilmu yang sudah berpindah ke dalam kepala—itulah yang bertahan.
Barangkali kita tak hidup di penjara. Tapi kita sering “dipenjara” oleh situasi: deadline, tekanan finansial, konflik keluarga. Dan ketika itu terjadi, yang bisa kita andalkan hanyalah apa yang benar-benar sudah kita pahami.
Bukan yang kita simpan. Yang kita cerna.
Rahasia Kedua: Menjadwalkan Kecemasan
Kita mengira orang jenius kebal dari cemas. Tidak. Ibnu Sina juga manusia. Ia tahu rasanya takut diburu musuh. Tahu rasanya difitnah. Tahu rasanya kehilangan. Tapi ia tidak membiarkan kecemasan menguasai seluruh hari.
Dia memberi kecemasan jadwal. Ada waktu khusus untuk panik. Untuk memikirkan kemungkinan terburuk. Untuk merasakan takut. Di luar jam itu, pikiran negatif dilarang masuk.
Terdengar sederhana. Bahkan konyol. Namun otak bekerja dengan batas. Seperti deadline yang membuat kita tiba-tiba produktif, batas waktu membuat pikiran lebih disiplin.
Tanpa batas, overthinking menggerogoti 6–7 jam sehari. Dengan batas, kecemasan menjadi tamu—bukan tuan rumah.
Bayangkan berapa banyak karya yang lahir jika waktu yang biasanya habis untuk was-was dialihkan menjadi satu jam kerja fokus.
Ibnu Sina tidak menunggu hidupnya aman untuk menulis. Dia menciptakan ruang aman di dalam jadwalnya sendiri.
Rahasia Ketiga: Karya sebagai Obat
Inilah yang paling dalam. Bagi Ibnu Sina, karya bukan sekadar hasil kerja. Karya adalah terapi.
Ketika ayahnya wafat, ia tidak tenggelam dalam duka berkepanjangan. Ia belajar lebih keras. Ketika diusir, ia membuka praktik di kota baru. Ketika dipenjara, ia menulis.
Mengapa? Karena bergerak menyembuhkan. Setiap orang pernah merasakannya. Saat hati berat, lalu kita memutuskan membereskan kamar, menyelesaikan satu tugas kecil, menulis satu paragraf—tiba-tiba dada terasa lebih lapang.
Bukan karena masalah hilang. Tapi karena kita berhenti diam. Ibnu Sina memahami ini seribu tahun sebelum psikologi modern menelitinya: tindakan kecil mengembalikan rasa kendali.
Dia tidak berkarya karena selalu semangat. Dia berkarya karena itu satu-satunya cara bertahan.
Profesional Tidak Menunggu Mood
Kita sering menunggu motivasi seperti menunggu pesan balasan yang tak kunjung datang. Padahal motivasi jarang datang duluan. Ia muncul setelah kita mulai.
Ibnu Sina tidak menulis Al-Qanun karena setiap pagi ia penuh inspirasi. Ia menulis karena sudah waktunya menulis. Hujan tetap menulis. Lelah tetap menulis. Dikejar musuh pun tetap menulis di dalam tenda.
Di sinilah batas antara amatir dan profesional. Amatir bekerja ketika semangat. Profesional bekerja ketika waktunya bekerja.
Akhir yang Tak Dramatis, Warisan yang Abadi
Ibnu Sina tidak meninggal dalam istana megah. Tidak pula dalam ketenangan panjang yang kita dambakan. Dia wafat dalam perjalanan, usia 57 tahun. Masih mengembara.
Konon, di hari-hari terakhirnya, ia masih menyunting naskahnya. Masih merevisi. Masih memperbaiki.
Ia tahu satu hal: tubuh akan selesai, tapi karya bisa melampaui usia.
Seribu tahun kemudian, namanya masih disebut. Karyanya masih dibaca.
Sementara mereka yang dulu mengejar, memfitnah, dan menjebaknya—lenyap ditelan waktu.
Jadi, kita menunggu apa?
Hidup memang tak pernah benar-benar tenang. Satu masalah selesai, masalah lain datang. Satu tantangan kelar, tantangan baru muncul.
Yang membedakan orang biasa dan orang luar biasa bukan jumlah masalahnya. Tapi jumlah karya yang dihasilkan di tengah masalah itu.
Mungkin kita tidak hidup di penjara bawah tanah Hamadan. Mungkin kita tidak dikejar musuh politik. Tapi kita semua punya “kekacauan” masing-masing.
Pertanyaannya sederhana, di tengah kekacauan itu, apakah kita akan menunggu tenang—atau mulai menulis bab pertama kita sendiri?
Tidak harus satu juta kata. Tidak harus 14 jilid. Satu kalimat hari ini sudah cukup. Karena mungkin, seperti Ibnu Sina, yang kita butuhkan bukan suasana yang lebih baik. Melainkan keputusan untuk mulai. (*)
Referensi & Catatan Sumber
Artikel disalin dari kanal Youtube KudutauID yang merangkun berbagai literatur sejarah klasik dan kajian modern mengenai kehidupan dan karya Ibnu Sina (Avicenna), di antaranya Al-Qanun fi al-Tibb – karya Ibn Sina, Tarikh al-Hukama – karya Al-Qifti, Biografi Avicenna di Encyclopaedia Britannica, Kajian modern seperti Avicenna and the Aristotelian Tradition oleh Dimitri Gutas






0 Tanggapan
Empty Comments