Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ibu, Seperti Udara yang Baru Kuterasa Saat Tiada

Iklan Landscape Smamda
Ibu, Seperti Udara yang Baru Kuterasa Saat Tiada
Foto: Unsplash
Oleh : Agus Wahyudi Pemimpin Redaksi PWMU.CO
pwmu.co -

Lagu itu mengalun pelan. Lembut. Nostalgik. Suara Iwan Fals. Nama lengkapnya Virgiawan Listanto. Legenda yang melahirkan ribuan hits.

Lagu itu dirilid tahun 1988. Saya baru 16 tahun. Masih kelas dua SMP. Dan lagu itu menampar perasaan saya untuk pertama kali.

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh…” Saya diam. Merasakan setiap kata.

Liriknya sederhana. Tapi dalam. Tentang ibu. Tentang cinta yang tak bersyarat.

Saya membayangkan ibu saya. Bangun paling pagi. Tidur paling malam. Tak pernah mengeluh. Seperti udara, selalu ada, tanpa pernah dipinta.

Waktu itu saya belum mengerti arti pengorbanan. Belum tahu apa itu lelah. Belum sadar betapa besar kasih seorang ibu.

Dan akhirnya saya paham. Tapak kaki yang berdarah itu nyata. Bukan hanya dalam lagu.

Iwan Fals menulis dengan hati. Dia menyanyikan cinta yang universal. Tentang ibu, tapi juga tentang kemanusiaan.

Tentang sistem yang sering lupa: Bahwa di balik setiap anak hebat, ada seorang ibu yang diam-diam berjuang.

Lagu itu abadi. Bukan sekadar musik. Tapi doa. Setiap kali terdengar, bayangan itu datang lagi, wajah ibu. Yang kini telah tenang di sisi Sang Maha Kuasa.

***

Bukan cuma saya. Banyak yang merasakan hal yang sama. Rindu yang tak pernah selesai.

Ketika ibu sudah tiada, barulah kita sadar. Betapa besar kasih yang dulu sering kita abaikan.

Ada penyesalan. Ada doa yang terlambat terucap. Ada janji yang belum sempat ditepati.

Air mata pun jatuh pelan. Mengingat semua kebohongan kecil, semua kelalaian besar.
Namun ibu selalu memaafkan. Tanpa syarat. Tanpa pamrih.

UM SURABAYA

Iklan Landscape UM SURABAYA

Begitulah cinta yang diajarkan Allah lewat seorang ibu. Cinta yang tidak menuntut balas. Tidak pernah menagih perhatian. Tidak pernah meminta imbalan. Ia hanya memberi—tanpa henti. Hanya berharap satu hal: rida Allah semata.

Al-Qur’an sudah mengingatkan dengan bahasa yang begitu lembut, tapi juga menohok:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Ayat itu sungguh mengoyak jiwa. Menyentuh relung hati yang paling dalam.

Saya dan juga kita semua diingatkan, betapa besar perjuangan seorang ibu. Sakit yang tak terbayar oleh apa pun.

Lelah yang tak pernah ditukar dengan keluh. Ia memanggul kasih sayang di pundaknya. Bahkan ketika tubuhnya sendiri nyaris tak kuat lagi.

Ayat itu bukan sekadar perintah berbakti. Ia adalah pengingat agar kita tidak lupa bersyukur. Bahwa di balik kehidupan kita yang kini mapan, ada sosok yang dulu bertarung antara hidup dan mati demi kelahiran kita.

Ibu adalah madrasah pertama. Dari pangkuannya, lahir generasi yang mengenal kasih, sabar, dan iman. Dari doanya, pintu langit terbuka.

Dan siapa pun yang masih memiliki ibu hari ini—sebenarnya sedang memegang kunci surga.

Maka setiap rindu kepada ibu, sejatinya adalah panggilan menuju surga. Panggilan untuk berdoa, bersyukur, dan memperbaiki diri. Karena kasih ibu itu seperti udara, selalu ada, meski raganya telah tiada.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh/ Lewati rintang untuk aku, anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan/Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah Seperti udara/Kasih yang engkau berikan/ Tak mampu ku membalas Ibu.

Ibu…(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

1 Tanggapan

  1. Masya Allah👍
    U remind me to my beloved late mom & dad.
    I really appreciate your touching story which experienced by so many people🥹

Search
Menu