Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Idulfitri di Tengah Perubahan Zaman

Iklan Landscape Smamda
Idulfitri di Tengah Perubahan Zaman
Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd Wakil Kepala SD Muhammadiyah 04 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
pwmu.co -

Lebaran Idulfitri selalu identik dengan kemenangan, kesucian, dan kembalinya manusia kepada fitrahnya.

Setelah sebulan penuh menempa diri dalam madrasah Ramadan, gema takbir yang bersahut-sahutan di angkasa seolah menjadi lagu kemenangan bagi setiap jiwa yang rindu akan ampunan.

Namun, dibalik gegap gempita takbir yang berkumandang, ada sebuah fenomena sunyi yang perlahan mulai mengusik batin para orang tua dan mereka yang sempat mengecap indahnya suasana lebaran di era 2000-an.

Ada sesuatu yang terasa “hilang” tepat setelah khatib menutup khutbahnya di lapangan atau masjid-masjid kampung halaman.

Nostalgia Kehangatan Era 2000-an

Mengingat kembali suasana dua dekade silam, Idulfitri bukan sekadar ritual ibadah formal yang terjadwal secara kaku.

Usai salat Id, suasana lapangan menjadi sangat cair, hangat, dan emosional.

Ada tradisi tak tertulis yang sangat kuat: mushafahah atau bersalam-salaman secara massal.

Kala itu, tidak ada satu pun jamaah yang terburu-buru beranjak menuju kendaraan atau rumah masing-masing sebelum tangan mereka saling bertaut dengan jamaah di sisi kanan, kiri, depan, dan belakangnya.

Barisan panjang terbentuk secara alami, berkelok-kelok memenuhi saf yang mulai mencair.

Anak-anak kecil dengan takzim mencium tangan para tetua, para pemuda memeluk hangat kawan sebaya, dan para orang tua saling bertukar doa “Taqabbalallahu minna wa minkum“.

Suasana ini menciptakan ikatan batin yang luar biasa kuat.

Di titik itulah, sekat-sekat sosial luruh seketika. Perbedaan pangkat, harta, bahkan perbedaan pandangan politik seolah terhapus bersama hangatnya jabat tangan yang tulus.

Idulfitri kala itu adalah tentang kehadiran fisik dan koneksi jiwa yang paripurna.

Pergeseran Makna di Tangan Generasi Digital

Sayangnya, potret tersebut kini mulai memudar, terutama di kalangan generasi muda yang tumbuh dalam kecepatan era digital.

Fenomena “langsung pulang” segera setelah khutbah Idulfitri berakhir kini menjadi pemandangan yang jamak kita temui.

Begitu doa penutup dibacakan, barisan pemuda sering kali menjadi yang pertama berdiri, meraih alas kaki, dan melangkah pergi tanpa sempat menyapa, apalagi bersalaman dengan jamaah di sekelilingnya.

Ada kesan pahit yang tertangkap: bahwa salat Id seolah hanya dianggap sebagai penggugur kewajiban semata.

Interaksi sosial yang merupakan esensi sejati dari “Hari Kemenangan” kini tereduksi oleh desakan untuk segera kembali ke dalam genggaman gawai (gadget) atau sekadar keinginan menghindari antrean parkir.

Padahal, sebagaimana kita mampu berlapang dada menerima “Dua Perhitungan” (perbedaan awal Ramadan), seharusnya kita pun mampu menjaga “Satu Keimanan” melalui jabat tangan yang tulus.

Kebiasaan mulia mushafahah yang dulu menjadi perekat kerukunan di kampung halaman, kini perlahan terkikis oleh lapisan individualisme yang kian menebal.

Pemuda: Pewaris atau Pengikis Budaya?

Hal ini menjadi keprihatinan mendalam bagi kita semua.

Pemuda seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga tradisi baik yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Islam sangat menganjurkan jabat tangan sebagai sarana penggugur dosa.

Rasulullah SAW bersabda bahwa tidaklah dua orang Muslim bertemu lalu bersalaman, melainkan dosa keduanya diampuni sebelum mereka berpisah.

Mengikis budaya bersalaman berarti mengikis peluang untuk saling memaafkan secara langsung.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Bagi seorang mukmin, cita-cita tertinggi adalah wafat dalam keadaan husnul khatimah, dan salah satu kuncinya adalah menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas).

Masa muda seharusnya digunakan untuk berjuang membangun kedewasaan dan tanggung jawab sosial, bukan justru menjadi agen yang memutus tali silaturahmi yang telah dirajut oleh para pendahulu.

Menjadi Arsitek Perubahan dan Penjaga Ukhuwah

Pemuda memiliki kapasitas diri (capacity building) yang luar biasa untuk menjadi motor penggerak perubahan.

Namun, kehebatan seorang pemuda sejati tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektualnya saja, melainkan dari kebijaksanaannya dalam menghormati kearifan lokal yang luhur.

Dalam tatanan sosial, jaringan dan relasi adalah aset terbesar manusia, dan pintu rezeki yang paling lebar sejatinya terbuka melalui jalinan silaturahmi yang tulus.

Sebagai pewaris masa depan, sudah saatnya pemuda mengambil peran lebih strategis dalam momen Idulfitri:

Satu: Menjadi teladan nyata dengan tidak menunggu orang lain memulai.

Jadilah orang pertama yang mengulurkan tangan dan melempar senyum kepada jamaah di sebelah Anda usai salat Id.

Inisiatif sederhana ini adalah langkah besar dalam merawat kebersamaan.

Dua: Memahami makna waktu dengan menjadikan hidup bagaikan lari maraton, di mana konsistensi di akhir jauh lebih bermakna daripada kecepatan di permulaan.

Jangan sia-siakan momentum Idulfitri yang hanya datang setahun sekali.

Gunakan waktu yang terbatas itu untuk hadir secara utuh bagi sesama.

Tiga: Berani melawan sikap individualisme dengan menyadari bahwa kecerdasan sosial sering kali menjadi penentu kesuksesan yang melampaui kecerdasan intelektual.

Berinteraksi secara fisik, bertatap muka, dan berjabat tangan jauh lebih bermakna dan berkesan daripada sekadar mengirim pesan singkat melalui layar gawai.

Kembali ke cahaya Idulfitri

Idulfitri menjadi momen menyucikan Rabb dengan memuji-Nya dan beristighfar.

Istighfar tidak hanya tertuju kepada Allah, tetapi juga permohonan maaf kepada sesama manusia.

Budaya bersalaman adalah “bahasa tubuh” dari permohonan maaf tersebut.

Jangan membiarkan suasana syahdu Idulfitri hilang ditelan zaman.

Kepada para pemuda, kembalilah ke barisan, jangan terburu meninggalkan lapangan.

Luangkan waktu sejenak untuk bersalaman, bertukar senyum, dan mendoakan kebaikan bagi sesama. Ingatlah bahwa manusia itu dinilai dari akhirnya.

Mari jadikan akhir Idulfitri ini sebagai momentum untuk memperkuat ukhuwah.

Kesuksesan sejati adalah saat kita mampu memberikan kemanfaatan bagi orang lain melalui akhlak dan adab yang mulia.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡