Search
Menu
Mode Gelap

IGABA Gresik Studi Tiru ke PAUD Nuraini Yogyakarta

IGABA Gresik Studi Tiru ke PAUD Nuraini Yogyakarta
Kepala KB, TK, dan guru Aisyiyah kabupaten Gresik saat studi tiru di PAUD Nuraini Yogyakarta, Selasa-Rabu (17-18/9/2025) (Rahma Yulia Isnaini/PWMU.CO)
pwmu.co -

Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Gresik melaksanakan studi tiru ke PAUD Nuraini Yogyakarta, Selasa-Rabu (17-18/9/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 164 peserta yang terdiri atas kepala KB dan TK Aisyiyah se-Kabupaten Gresik.

Ketua Pimpinan Daerah IGABA Kabupaten Gresik, Marufah, S.Pd, menyampaikan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari pelatihan kurikulum PAUD Aisyiyah yang telah dilaksanakan pada 16-17 Juni 2025 di TK Aisyiyah 36 PPI. Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber dari Majelis Dikdasmen PP Aisyiyah, Dra Kis Rahayu MPd, yang juga penggagas PAUD Aisyiyah Nuraini.

“Kepala dan guru KB dan TK Aisyiyah sudah mendapatkan teori tentang kurikulum PAUD Aisyiyah. Supaya lebih mendalami, kepala dan guru kami ajak belajar langsung pelaksanaan kurikulum di PAUD Nuraini,” jelas Marufah.

Penanggung jawab pelaksana studi tiru, Eulis Suadah, yang juga Wakil Ketua Pimpinan Daerah IGABA Kabupaten Gresik, menyampaikan kegiatan ini penting untuk memantik semangat guru dalam menerapkan kurikulum PAUD Aisyiyah dengan pendekatan pembelajaran mendalam.

“Alhamdulillah, para kepala KB dan TK Aisyiyah Kabupaten Gresik antusias mengikuti kegiatan ini. Bahkan beberapa lembaga juga memberangkatkan semua guru untuk mengikuti studi tiru,” ujarnya.

Jumlah KB dan TK Aisyiyah di Kabupaten Gresik sebanyak 91 lembaga, sedangkan peserta studi tiru mencapai 164 orang. Hal ini menunjukkan banyak guru yang turut serta dalam kegiatan tersebut.

PAUD Nuraini menyediakan layanan Taman Asuh Anak, Kelompok Bermain, dan Taman Kanak-Kanak. Taman Asuh Anak melayani bayi mulai usia tiga bulan dengan kapasitas empat bayi. Kelompok Bermain ditujukan bagi anak usia 2,5–4 tahun, sedangkan Taman Kanak-Kanak untuk anak usia 4–6 tahun. PAUD Nuraini juga menerima murid berkebutuhan khusus dengan guru pendamping. Tersedia pula ruang sumber yang diperuntukkan bagi mereka.

Kepala TK Nuraini, Farida, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan pola pembelajaran di lembaga tersebut. Kegiatan diawali dengan mengaji Iqra, kemudian aktivitas luar kelas seperti baris, ikrar, dan motorik kasar. Di dalam kelas, kegiatan dimulai dengan materi pagi yang mencakup hafalan hadis pilihan, surat pendek, keaisyiyahan, dan kemuhammadiyahan.

“Murid yang mendapat giliran mengaji masuk mulai pukul 7, dan kegiatan belajar dimulai pukul 8,” jelas Farida.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Farida yang akrab disapa Bu Ida ini menambahkan, setiap hari murid belajar dengan pendekatan Project Based Learning atau pembelajaran berbasis proyek. Contoh topik yang dipelajari yaitu “Aku Cinta Islam” dengan subtopik “Aku Bangga Menjadi Anak Aisyiyah.”

Dalam proyek tersebut, murid diajak membuat amal usaha Aisyiyah dan Muhammadiyah seperti sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Murid bebas menentukan proyek yang dikerjakan. Misalnya proyek rumah sakit, anak membuat ruang periksa, IGD, poli gigi, poli mata, parkir, hingga gudang sesuai imajinasinya. Proyek selesai ketika murid merasa cukup, lalu mereka mempresentasikan hasil karyanya.

Salah satu peserta studi tiru, Erna Dwi Hayati dari TK Aisyiyah Bustanul Athfal 45 Bambe, mengaku kagum dengan pola mengajar guru di PAUD Nuraini. Ia menyoroti suasana kelas yang kondusif tanpa teriakan guru maupun murid.

“Volume suara diatur sehingga guru dan murid cukup bicara sesuai standar bercakap-cakap. Saya menanyakan bagaimana cara membuat anak manut dan memperhatikan guru tanpa teriakan,” kata Erna.

Menjawab pertanyaan itu, Farida menuturkan, dahulu dirinya juga terbiasa mengajar dengan suara keras. Namun seiring waktu pola tersebut dinilai tidak membentuk karakter lembut pada anak. Dengan bimbingan Kis Rahayu, ia mulai menerapkan sistem pembelajaran dengan standar volume suara yang terukur.

“Pembentukan sistem pembelajaran dengan standar volume suara yang diatur memerlukan waktu dua tahun,” imbuhnya. Menurutnya, guru tidak serta-merta bisa langsung terampil mengelola kelas dengan pola tersebut.

“Insyaallah dengan pola demikian anak akan tumbuh dengan karakter lembut dan rasa empati yang tinggi,” tutup Farida. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments