تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ وَتَعَلَّمُوا لِلْعِلْمِ السَّكِينَةَ وَالْوَقَارَ، وَتَوَاضَعُوا لِمَنْ تَعَلَّمْتُمْ مِنْهُ
Artinya : “Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah untuk ilmu tersebut ketenangan (sakinah) dan wibawa (waqar), serta rendahkanlah hati kalian terhadap orang yang mengajarkan ilmu kepada kalian.” (HR. Thabrani No. 6184)
Hadits ini memberikan pesan agar kita menuntut ilmu sekaligus mempelajari ketenangan dan wibawa. Di sisi lain juga mengingatkan kita untuk selalu rendah hati kepada guru yang telah memberikan ilmu tersebut.
Mengembalikan Kehormatan Pendidikan
Pendidikan seharusnya menjadi jalan untuk mencari ketenangan jiwa. Nabi ﷺ mengajarkan kita belajar bukan hanya supaya pintar secara otak, tetapi agar hati menjadi tenang. Namun kenyataannya, sekolah atau kuliah hari ini sering kali justru membuat siswa merasa cemas dan stres.
Jika belajar hanya membuat seseorang merasa tertekan karena mengejar angka atau merasa rendah diri, berarti ada yang salah dengan cara kita memandang ilmu. Ilmu itu seharusnya membebaskan jiwa, bukan menjebak kita dalam ambisi yang menyiksa.
Selain itu, pendidikan harus membentuk wibawa atau integritas. Orang yang berilmu akan terlihat dari cara bicara dan tindakannya yang jujur. Kita butuh pendidikan yang membangun karakter, sehingga lulusannya tidak hanya jago mengerjakan soal, tetapi juga punya harga diri untuk menolak menyontek atau berbuat curang.
Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga kerendahan hati. Pendidikan modern terkadang justru melahirkan sifat sombong karena merasa lebih mulia setelah punya gelar panjang. Padahal, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya ia merasa semakin kecil di hadapan luasnya ciptaan Tuhan.
Solusi Nyata untuk Pendidikan Kita
Langkah pertama yang harus kita ambil adalah berhenti mendewakan nilai angka. Kita perlu sadar bahwa angka di atas kertas hanyalah data administratif dan bukan ukuran kemuliaan seorang anak. Mari kita ubah pola pikir bahwa sukses bukan berarti selalu dapat nilai A, melainkan seberapa jujur dan gigih seseorang dalam berusaha.
Selanjutnya, kita perlu mengajak anak untuk belajar memahami dan bukan sekadar menghafal. Jangan lagi mengejar materi kurikulum secara terburu-buru, tetapi utamakan kedalaman pemahaman. Pendidikan yang baik adalah yang memberi ruang bagi anak untuk bertanya “Mengapa”, bukan cuma sekadar “Apa”. Dengan memahami inti pelajaran, anak akan lebih tenang karena mereka benar-benar mengerti, bukan cuma menghafal untuk ujian lalu lupa setelahnya.
Guru pun harus menjadi teladan yang menenangkan. Guru bukan mesin yang hanya memindahkan informasi ke otak siswa, tetapi sosok yang menularkan kebaikan dan karakter. Pendidikan adalah soal menanamkan nilai-nilai hidup, bukan sekadar memindahkan data.
Penutup
Ilmu yang tidak membawa ketenangan adalah ilmu yang sia-sia. Begitu juga gelar yang tidak mengubah perilaku hanya akan menjadi beban yang tidak berguna. Mari kita rancang ulang tujuan pendidikan kita baik di rumah maupun di sekolah.
Jangan lagi bertanya kepada anak mengenai berapa nilai yang mereka dapatkan hari ini. Mulailah bertanya tentang kebaikan apa yang mereka pelajari atau bagaimana ilmu tersebut bisa membuat mereka menjadi pribadi yang lebih tenang dan bermanfaat bagi orang lain. Pendidikan adalah sebuah maraton panjang menuju kearifan dan bukan sekadar lari cepat demi mendapatkan podium pujian manusia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments