Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Inovasi Jawab Inklusivitas, Mahasiswa UMM Ini Bikin Alat Sensor untuk Tunanetra

Iklan Landscape Smamda
Inovasi Jawab Inklusivitas, Mahasiswa UMM Ini Bikin Alat Sensor untuk Tunanetra
Wearable Device Sensor buatan mahasiswa UMM untuk bantu tunanetra. (Humas UMM/PWMU.CO)
pwmu.co -

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kebutuhan akan inovasi yang inklusif semakin mendesak. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi berbasis sensor ultrasonik untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra.

Inovasi ini menjadi bukti nyata komitmen UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri yang mendorong karya mahasiswa tak berhenti di ruang kelas, tetapi berdampak langsung bagi masyarakat.

Upaya menghadirkan teknologi yang lebih inklusif terus tumbuh dari ruang-ruang eksperimen mahasiswa. Salah satunya datang dari Naufal Adrien Atalla, mahasiswa Teknik Industri UMM angkatan 2023, yang bersama timnya mengembangkan alat sensor getar berbasis ultrasonik untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra.

Inovasi ini berawal dari proyek perkuliahan yang kemudian diarahkan menjadi solusi aplikatif dengan nilai sosial yang kuat.

Gagasan awalnya tidak secara khusus ditujukan bagi penyandang disabilitas. Ide tersebut muncul dari proses diskusi kelompok dalam menyelesaikan tugas mata kuliah.

Dari berbagai gagasan yang berkembang, tim kemudian memperdalam riset pada teknologi yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.

Pilihan akhirnya jatuh pada pengembangan alat bantu tunanetra setelah melihat kebutuhan akan sistem pendeteksi jarak yang lebih praktis dan responsif.

“Proses pengembangan dilakukan secara kolaboratif oleh lima anggota kelompok, yakni saya sendiri, Dyandini Faradiba Putri, Mirza Zaky, Farrel Adrien, dan Chandra Adi. Setiap anggota berperan dalam merancang konsep, visualisasi produk, hingga menentukan komponen teknologi yang diperlukan. Kami juga memanfaatkan referensi dari internet serta berdiskusi dengan pihak yang lebih berpengalaman untuk memastikan sistem dapat berfungsi sesuai rencana,” ujar Naufal 10 Februari lalu pada Tim Humas UMM.

Secara teknis, alat ini bekerja menggunakan sensor ultrasonik yang mampu mendeteksi objek di sekitar pengguna. Sensor tersebut menghasilkan umpan balik berupa getaran dengan intensitas berbeda sesuai jarak objek yang terdeteksi.

Semakin dekat objek, semakin kuat getaran yang dihasilkan, sehingga pengguna dapat mengantisipasi rintangan tanpa harus menghentikan aktivitas.

Konsep hands-free menjadi keunggulan utama karena memungkinkan pengguna menerima informasi jarak secara cepat tanpa kontak langsung, dengan biaya produksi yang relatif terjangkau.

“Tantangan terbesar dalam pembuatannya ada pada bagian pemrograman. Sistem sensor dan getaran harus dirancang sedemikian rupa agar bekerja presisi sesuai harapan,” tambahnya.

Prototipe alat tersebut telah dipresentasikan dalam IE EXPO 2026 yang diselenggarakan Jurusan Teknik Industri UMM.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Respons para juri menunjukkan produk ini memiliki potensi untuk terus dikembangkan, terutama pada aspek fungsi tambahan dan penyempurnaan desain.

Meski belum diuji langsung oleh penyandang tunanetra, alat ini telah melalui uji internal untuk menilai kenyamanan penggunaan, termasuk evaluasi ukuran komponen yang masih relatif besar.

“Menurut saya, alat ini tidak untuk menggantikan tongkat konvensional, melainkan melengkapinya. Keunggulannya ada pada fitur hands-free dan peringatan dini, sehingga pengguna dapat mengetahui adanya halangan dari jarak tertentu sebelum terjadi benturan,” jelas Naufal.

Ke depan, pengembangan difokuskan pada perancangan ulang bentuk fisik agar lebih ringkas, estetis, dan nyaman digunakan dalam jangka panjang.

Salah satu prioritas utama adalah memperkecil komponen utama yang masih berbentuk kotak besar agar perangkat dapat dikembangkan menjadi wearable device yang lebih praktis.

Dengan penyempurnaan tersebut, inovasi ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai proyek akademik, tetapi berkembang menjadi teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi penyandang tunanetra.

Sementara itu, Dosen pembimbing, Dian Palupi Restuputri, S.T., M.T., menilai inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di masyarakat dan memiliki potensi penggunaan yang lebih luas.

Menurutnya, produk serupa masih jarang ditemukan, terutama yang menyasar kebutuhan spesifik tunanetra dan lansia, sehingga perlu didorong agar tidak berhenti pada tahap prototipe.

“Saya berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk universitas dan pemerintah, terutama dalam hal pembiayaan dan pengembangan lanjutan. Ke depan, produk ini berpotensi dikembangkan untuk berbagai kalangan, tidak hanya tunanetra dan lansia, tetapi juga anak-anak, tergantung kebutuhan pasar. Jika respons masyarakat tinggi, saya optimistis produk ini bisa diproduksi secara massal,” ujarnya.

Melalui inovasi seperti ini, UMM menegaskan komitmennya sebagai kampus inovasi dan mandiri yang mendorong kolaborasi riset, kewirausahaan berbasis teknologi, serta kebermanfaatan sosial. Dari ruang kelas menuju solusi nyata, karya mahasiswa UMM terus bergerak menjawab tantangan zaman.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu