Isra Mi’raj merupakan peristiwa agung dalam sejarah Islam yang sarat dengan nilai spiritual dan sosial. Perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Bukan sekadar mukjizat, melainkan momentum pendidikan ruhani yang memiliki dampak luas bagi pembentukan karakter individu dan tatanan sosial.
Secara tradisi dan pendapat mayoritas ulama diperingati pada malam 27 Rajab dalam kalender Hijriah. Isra Mi’raj terjadi sebelum hijrah Nabi Muhammad Saw ke Madinah, sekitar tahun ke-10 kenabian, yang bertepatan dengan tahun 621 Masehi.
Peristiwa Isra Mi’roj ini terjadi setelah Nabi Muhammad Saw mengalami masa yang sangat berat, yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (Tahun Kesedihan), yaitu wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib.
Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1).
Bagi Generasi Z (Gen Z), Isra Mi’raj menawarkan pesan penting tentang keseimbangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial di tengah dinamika zaman digital. Di era ketika relasi sosial sering berlangsung di ruang virtual, Islam justru menegaskan bahwa spiritualitas sejati harus melahirkan kepedulian sosial yang nyata.
Perintah salat yang ditetapkan dalam peristiwa Isra Mi’raj menjadi inti pesan tersebut. Salat bukan sekadar ritual personal, tetapi fondasi pembentukan karakter dan moral. Allah menegaskan, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).
Salat yang benar seharusnya melatih disiplin, kejujuran, kesabaran, dan kepekaan nurani. Nilai-nilai inilah yang menjadi modal dasar bagi Gen Z untuk membangun kesalehan sosial. Dengan demikian, ibadah tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah), tetapi harus terwujud dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas).
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang kritis, kreatif, dan peduli pada isu-isu sosial seperti keadilan, lingkungan, dan kemanusiaan. Namun, mereka juga menghadapi tantangan besar: budaya instan, individualisme, serta krisis empati akibat interaksi yang serba digital. Di sinilah pesan Isra Mi’raj menjadi sangat relevan.
Nabi Muhammad Saw, setelah mencapai puncak spiritualitas tertinggi, tidak menetap di langit, tetapi kembali ke bumi untuk membimbing umat, menegakkan keadilan, dan membangun peradaban. Spirit “turun ke bumi” inilah yang harus diteladani Gen Z.
Sabda Rasulullah Saw, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kesalehan tidak hanya dilihat dari rajinnya ibadah, tetapi dari sejauh mana seseorang memberi manfaat bagi lingkungan sosialnya.
Kesalehan sosial bagi Gen Z dapat diwujudkan melalui sikap peduli, toleran, dan bertanggung jawab, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Menjaga etika bermedia sosial, menghindari ujaran kebencian, melawan hoaks, serta menyebarkan pesan kebaikan adalah bentuk kesalehan sosial yang sangat kontekstual saat ini.
Buya Hamka memberikan penegasan yang dalam mengenai relasi iman dan amal sosial. Ia berkata, “Agama bukanlah semata-mata sembahyang di masjid, tetapi keberanian menegakkan kebenaran dan keadilan dalam hidup.” Mutiara kata ini relevan bagi Gen Z agar tidak terjebak pada kesalehan simbolik, melainkan berani menghadirkan nilai-nilai Islam dalam realitas sosial.
Isra Mi’raj juga mengajarkan pentingnya integritas. Salat yang berkualitas seharusnya membentuk pribadi yang jujur dan amanah. Bagi Gen Z, integritas berarti konsistensi antara apa yang diyakini, diucapkan, dan dilakukan. Kesalehan sosial bukan soal pencitraan di media sosial, tetapi kejujuran dalam bersikap, termasuk saat tidak disaksikan oleh siapa pun.
Pada akhirnya, Isra Mi’raj mengingatkan bahwa puncak spiritualitas justru diuji melalui pengabdian sosial. Generasi Z diharapkan mampu menjadikan ibadah sebagai energi perubahan, menghadirkan Islam yang ramah, inklusif, dan solutif.
Pentingnya Isra Mi’raj bagi Generasi Z terletak pada kemampuannya menghubungkan iman, ibadah, dan aksi sosial. Jika nilai-nilai Isra Mi’raj dihidupkan, Gen Z dapat menjadikan agama sebagai sumber energi perubahan—membangun karakter yang kuat, kepedulian sosial yang tinggi, dan masa depan yang lebih beradab.
Dengan demikian, Isra Mi’raj tidak hanya diperingati sebagai peristiwa sejarah, tetapi dihidupkan sebagai inspirasi untuk membangun kesalehan sosial yang relevan dan bermakna bagi peradaban masa depan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments