Search
Menu
Mode Gelap

Istikamah Itu Jalan Lurus yang Tak Pernah Sepi dari Ujian

Istikamah Itu Jalan Lurus yang Tak Pernah Sepi dari Ujian
Foto: Wikipedia
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Keimanan kepada Allah Wa Ta’ala menuntut sikap istikamah. Keyakinan hati, kebenaran lisan, dan kesungguhan dalam amal adalah unsur keimanan yang mesti dijalankan dengan istikamah.

Istikamah berarti keteguhan dalam memegang prinsip, menempuh jalan (agama) yang lurus tanpa berpaling ke kiri maupun ke kanan. Ia mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah Wa Ta’ala—baik lahir maupun batin—serta meninggalkan seluruh larangan-Nya.

Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istikamah adalah firman Allah Wa Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’ kemudian mereka istikamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’” (QS. Fushilat: 30)

Yang serupa dengan ayat di atas adalah firman Allah Wa Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istikamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaf: 13–14)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian beristikamahlah dalam ucapan itu.” (HR. Muslim no. 38)

Jenis-Jenis Istikamah

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa istikamah memiliki tiga makna utama:

  • Istikamah di atas tauhid, yaitu meneguhkan hati bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang disembah.
  • Istikamah dalam ketaatan, yakni konsisten menjalankan perintah Allah dan menunaikan kewajiban dengan sungguh-sungguh.
  • Istikamah di atas keikhlasan, yaitu menjaga hati agar tetap bersih dalam beramal hingga akhir hayat.

Ketiga makna ini saling melengkapi dan menggambarkan kesempurnaan iman seseorang.

Teladan Para Nabi dan Sahabat

1. Nabi Nuh AS: Keteguhan dalam Dakwah 950 Tahun

Nabi Nuh as menjadi contoh nyata istikamah dalam menghadapi ujian panjang. Selama 950 tahun beliau menyeru kaumnya agar kembali kepada Allah, namun hanya sedikit yang beriman. Meski ditolak, dihina, bahkan diejek, beliau tidak menyerah. Inilah makna istikamah sejati: terus berdakwah, tanpa lelah, semata-mata karena Allah.

2. Nabi Ibrahim AS: Istikamah dalam Tauhid

Ketika diperintahkan meninggalkan ayah dan kaumnya yang menyembah berhala, Nabi Ibrahim tetap teguh di jalan tauhid. Ia rela dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud, namun keyakinannya tidak goyah. Dari ujian ini lahir pelajaran besar: istikamah sering kali menuntut pengorbanan besar, tapi berbuah kemuliaan abadi.

3. Bilal bin Rabah: Keteguhan di Tengah Siksaan

Bilal, seorang budak yang disiksa karena keimanannya, tetap melafalkan “Ahad… Ahad…” (Allah Yang Maha Esa). Meski punggungnya dibakar dan tubuhnya diseret di padang pasir, ia tidak mau kembali kepada kekufuran. Keistikamahan Bilal adalah teladan bahwa iman sejati tidak luntur meski disiksa.

Iklan Landscape UM SURABAYA

4. Abu Bakar Ash-Shiddiq: Konsisten dalam Kebenaran

Ketika banyak orang murtad setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar tampil teguh menjaga kemurnian Islam. Ia menolak pandangan siapa pun yang melemahkan prinsip agama. Ketegasannya membuktikan bahwa istikamah juga berarti menjaga kebenaran, meski harus menghadapi tekanan besar.

5. Imam Ahmad bin Hanbal: Istikamah dalam Menjaga Aqidah

Dalam peristiwa fitnah khalq al-Qur’an (keyakinan sesat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk), Imam Ahmad tetap berpegang pada keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah. Ia dipenjara, dicambuk, dan disiksa, namun tidak berubah pendiriannya. Dari beliau kita belajar bahwa istikamah sering menuntut kesabaran dan keberanian luar biasa.

Istikamah dalam Kehidupan Sehari-hari

Istikamah bukan hanya milik para nabi dan ulama besar. Ia juga bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Seorang guru yang tetap mendidik dengan sabar meski muridnya sulit diatur.
  • Seorang pegawai yang jujur meski banyak godaan untuk curang.
  • Seorang ibu yang sabar mendidik anak dengan nilai-nilai Islam meski lelah.
  • Seorang pemimpin yang adil meski dihadapkan pada tekanan politik.

Itulah bentuk istikamah modern—tetap berpegang pada nilai kebenaran dan kejujuran di tengah dunia yang berubah cepat.

Dalam istikamah tentu ada kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna. Kadang kita tergelincir dalam dosa atau lalai dari ibadah. Lalu, apa yang menutupi kekurangan itu?

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istikamah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.’” (QS. Fushilat: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar adalah penutup kekurangan dalam istikamah. Orang yang istikamah bukan berarti tidak pernah salah, tetapi selalu kembali kepada Allah setiap kali tergelincir.

Istikamah melahirkan ketenangan, keberkahan, dan jaminan surga. Orang yang istikamah tidak mudah goyah, karena hatinya terpaut pada Allah semata.

Seperti sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Beramallah sesuai kemampuan kalian, karena Allah tidak akan jemu sampai kalian sendiri merasa jemu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, teruslah berusaha istikamah, meski sedikit demi sedikit. Karena Allah lebih mencintai amalan yang kecil tapi terus-menerus dilakukan, daripada amalan besar yang hanya sesaat. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments