Bertambahnya usia semestinya membuat seorang Muslim semakin kuat imannya dan semakin rajin beramal saleh. Keyakinan kepada Allah SWT tidak cukup disimpan di dalam hati, tetapi harus terlihat dalam kesungguhan beribadah, kemuliaan akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Pesan itu disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. KH. M. Sholihin Fanani, M.PSDM dalam Kultum Subuh rutin di Masjid Al Ikrom Wage, Kamis (15/10/2026).
“Orang yang imannya baik tandanya adalah tambah suwe tambah yakin, tambah suwe tambah rajin. Insya Allah,” ungkapnya.
Kiai Sholihin, sapaarb karibnya, menuturkan, ungkapan Jawa tersebut berarti semakin lama semakin yakin dan semakin lama semakin rajin.
Dia mengajak jamaah menjadikan perjalanan usia sebagai momentum memperkuat iman sekaligus meningkatkan kualitas ibadah dan amal saleh.
Menurut pesan yang disampaikannya melalui sejumlah hadis Nabi Muhammad saw, kualitas seorang Muslim tidak hanya terlihat dari keyakinan dan ibadah personal.
“Kualitas itu juga tercermin dalam akhlak, kepedulian terhadap sesama, kesungguhan mempelajari Al-Qur’an, serta konsistensi menjaga amal kebaikan,” tutur dosen AIK Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) itu..
Manusia Terbaik yang Paling Bermanfaat
Dalam kajian itu, Kiai Sholihin juga mengatakan, salah satu kriteria manusia terbaik dalam Islam adalah orang yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Rasulullah saw bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Hadis yang diriwayatkan ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Ausath ini mengingatkan bahwa kesalehan tidak berhenti pada hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Kesalehan juga perlu hadir dalam hubungan antarmanusia.
“Manfaat itu tidak selalu berupa bantuan materi. Menolong tetangga, berbagi ilmu, meringankan beban orang lain, menjaga hubungan baik, dan membantu mereka yang membutuhkan merupakan bentuk kebaikan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Kiai Sholihin.
Dengan demikian, semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula dorongannya untuk menghadirkan kebaikan di lingkungan sekitarnya.
Kriteria berikutnya, terang Kiai Sholihin, adalah memiliki akhlak yang baik. Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya, orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR al-Bukhari nomor 6035).
Hadis tersebut menegaskan pentingnya akhlak dalam kehidupan seorang Muslim. Kualitas keberagamaan tidak hanya ditampilkan melalui banyaknya ibadah, tetapi juga melalui cara seseorang memperlakukan orang lain.
Kiai Sholihin menegaskan, kejujuran, kesantunan berbicara, kesabaran menghadapi perbedaan, kemampuan menahan amarah, dan kesediaan membantu sesama merupakan bagian dari akhlak mulia.
“Karena itu, peningkatan iman semestinya berjalan seiring dengan perbaikan perilaku. Semakin dalam seseorang memahami ajaran agama, semakin besar pula tanggung jawabnya menjaga ucapan, tindakan, dan hubungan sosial,” paparnya.
Kiai Sholihin juga mengangkat keutamaan orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasulullah saw bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR al-Bukhari nomor 5027).
Hadis ini menjadi pengingat agar umat Islam terus belajar sepanjang hayat. Kedekatan dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya melalui aktivitas membaca, tetapi juga perlu disertai upaya memahami dan mengamalkan petunjuknya.
Nilai-nilai Al-Qur’an perlu hadir dalam perilaku sehari-hari, seperti menjaga amanah, berlaku adil, berkata jujur, dan menyayangi sesama.
“Belajar Al-Qur’an juga tidak dibatasi usia. Setiap Muslim memiliki kesempatan untuk memperbaiki bacaan, memperdalam pemahaman, dan meningkatkan pengamalan,” katanya.
Amal Sedikit, tetapi Terus Terjaga
Kriteria manusia yang baik berikutnya adalah kesungguhan menjaga amal saleh secara istikamah.
Rasulullah saw bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR al-Bukhari nomor 6464 dan Muslim nomor 783).
Hadis tersebut menekankan pentingnya konsistensi dalam beribadah. Amal saleh tidak selalu harus berupa tindakan besar. Kebaikan yang sederhana, jika dilakukan secara rutin dan ikhlas, dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju ketaatan.
Dikatakan Kiai Sholihin, membaca Al-Qur’an setiap hari, bersedekah secara rutin, menghadiri majelis ilmu, melaksanakan salat berjamaah, dan berpuasa sunah sesuai kemampuan merupakan contoh kebiasaan baik yang dapat terus dipelihara.
“Tantangannya bukan hanya memulai, melainkan menjaga agar kebiasaan tersebut tidak berhenti di tengah jalan. Istiqamah berarti terus berusaha berada di jalan kebaikan, meskipun langkah yang dilakukan tampak kecil,” tutur dia.
Menurut Kiai Sholihin, kualitas iman juga tercermin dari kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengetahui setiap perbuatan manusia, termasuk yang dilakukan ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Dalam hadis Jibril yang diriwayatkan Imam Muslim nomor 8, Rasulullah saw menjelaskan tentang ihsan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Dia menambahkan kesadaran ihsan mendorong seorang Muslim menjaga kejujuran, amanah, dan ketaatan, baik ketika berada di tengah masyarakat maupun saat sendirian. Ia tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama beramal. Ia juga tidak meninggalkan kebaikan hanya karena tidak ada orang yang menyaksikannya.
“Kesadaran bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan menjadi landasan untuk meluruskan niat dan menjaga diri dalam menjalani kehidupan,” ujarnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments