Suasana ba’da Subuh dalam rangkaian Pekan Dakwah PK IMM STAIM Paciran. Ahad, (1/3/2026) kembali diisi dengan tausiyah penuh makna oleh Moh. Faizal Muttaqin. Dengan nada yang tenang namun sarat penekanan, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan bukan sekadar bulan yang dilalui, tetapi bulan yang benar-benar mengubah diri menjadi lebih baik.
Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa kehidupan manusia berjalan begitu cepat, sementara kesempatan beramal tidak selalu datang dua kali.
“Sering kali kita menunda kebaikan dengan alasan masih ada waktu. Padahal kita tidak pernah tahu, apakah esok masih menjadi milik kita atau tidak,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia kemudian membacakan penggalan ayat dari Surah Al-Munafiqun ayat 10:
“Lalu ia berkata, ‘Ya Rabbku, sekiranya Engkau menangguhkan aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.’”
Menurut Moh. Faizal Muttaqin, ayat ini adalah gambaran penyesalan terdalam seorang hamba ketika ajal telah tiba. Permintaan untuk kembali ke dunia bukan untuk menikmati dunia, melainkan hanya agar bisa bersedekah dan beramal saleh.
“Artinya, yang benar-benar bernilai di sisi Allah bukanlah apa yang kita kumpulkan, tetapi apa yang kita infakkan dan amalankan,” tegasnya.
Ia pun mengajak jamaah agar menjadikan Ramadan sebagai titik balik kehidupan.
“Kalau bukan sekarang kita memperbaiki diri, lalu kapan lagi? Kalau bukan di bulan yang penuh ampunan ini kita memperbanyak sedekah dan istighfar, lalu di bulan apa lagi?” ucapnya penuh harap.
Memperbanyak Amal Sholeh
Dalam momen penuh keberkahan ini, ia berharap setiap pribadi mampu menata niat dan memperbanyak amal sholeh—baik melalui sedekah, membantu sesama, menjaga lisan, maupun memperkuat ibadah. Ramadan adalah ladang pahala yang terbuka luas, dan setiap kebaikan yang ditanam akan menjadi bekal di hari kemudian.
Di akhir tausiyahnya, Moh. Faizal Muttaqin menyampaikan harapan agar Ramadan kali ini tidak berlalu tanpa perubahan. Semoga hati yang sebelumnya lalai menjadi lebih sadar, yang sebelumnya berat melangkah menjadi ringan dalam berbuat kebaikan. Semoga setiap istighfar menghapus dosa, setiap sedekah menjadi cahaya, dan setiap amal sholeh menjadi penolong ketika tidak ada lagi yang bisa diminta selain rahmat Allah SWT.
Dengan demikian, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menyiapkan diri agar kelak tidak termasuk golongan yang menyesal dan memohon untuk kembali. Sebab kesempatan terbaik untuk beramal adalah hari ini, selagi nafas masih berhembus dan pintu taubat masih terbuka. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments