Di balik sosoknya yang tenang dan bersahaja, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. H Sukadiono, MM, menyimpan lembaran kisah masa muda yang penuh keteladanan. Siapa sangka, tokoh yang kini menduduki jabatan strategis di tingkat nasional ini dulunya pernah menjadi Ketua Remaja masjid.
Kisah itu terungkap saat Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, Munahar, M.Pd., bersama istri, Kocik Ishak, S.Pd., melakukan kunjungan halal bihalal ke kediaman Prof. Sukadiono pada Sabtu (28/3/2026).
Dalam suasana yang akrab Sukadiono yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya selama tiga periode ini mengenang masa-masa kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Berbeda dengan anggapan orang pada umumnya, akrabnya sesekali membantu marbot menyapu dan mengepel lantai Masjid Jenderal Soedirman Surabaya. Itu dilakukannya setiap sore setelah Ashar. Tapi bukan karena alasan ekonomi. Orang tuanya telah menyewakan rumah kontrak yang layak tepat di belakang masjid tersebut.
Namun, dorongan pengabdian membuatnya lebih memilih menghabiskan waktu merawat rumah Allah. Kedisiplinan itulah yang membuatnya sering disalahpahami oleh jamaah yang hendak shalat di masjid itu.
“Sehingga dikira orang, saya itu marbot masjid,” ungkap Sukadiono sambil tertawa gayeng mengenang masa tersebut.
Ketulusannya berkhidmat di masjid tidak berhenti di situ. Dedikasinya diakui hingga dia diberikan amanah menjadi Ketua Takmir Masjid Jenderal Soedirman Darmawangsa Surabaya selama 28 tahun. Mulai tahun 1996 hingga 2024.
Gojlokan “Nikah Langsung Punya Rumah”
Suasana ruang tamu semakin hangat saat ia menceritakan momen pernikahannya dengan sang istri, Dra H Hindajati MPd. Itu dilakukan sebelum ia lulus dari pendidikan dokter. Keputusannya menikah muda saat itu sempat menjadi bahan candaan atau gojlokan dari rekan-rekan sejawatnya.
“Mas Suko ini enak, nikah langsung punya rumah,” kenang beliau menirukan ucapan teman-temannya kala itu, merujuk pada rumah mertua yang diberikan kepada istrinya untuk ditempati setelah menikah. Cerita ini pun disambut senyuman hangat dari sang istri yang duduk setia di sampingnya.
Rekam Jejak Manajerial dan Akademik
Lahir di Jombang sebagai putra kelima dari delapan bersaudara, perjalanan karier Sukadiono adalah potret ketekunan. Dari pernikahannya dengan Hindajati, beliau dikaruniai tiga buah hati: Fakhrizan, Akmal Zidan, dan Nisrina.
Titik balik karier manajerialnya dimulai pada tahun 2001 saat diamanahi menjadi Direktur Akademi Keperawatan dan Akademi Analis Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Setahun kemudian, ia dipercaya memimpin Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya. Sebuah peran yang mengasah ketegasan dan empatinya dalam layanan kesehatan.
Karier akademiknya pun melesat. Mulai dari menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (2005–2012), hingga puncaknya menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya selama tiga periode berturut-turut hingga akhir 2024. Baginya, jabatan bukanlah sekadar kursi kekuasaan, melainkan ruang untuk kerja kolektif dan tumbuh bersama.
Amanah di Tingkat Nasional
Kini, selain mengemban tanggung jawab sebagai nahkoda PWM Jawa Timur periode 2022–2027, Prof. Sukadiono juga dipercaya mengabdi pada negara sebagai Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan (PMK) RI.
Kisah “Seolah marbot masjid” ini menjadi pengingat bagi kader Muhammadiyah bahwa kerendahan hati dan semangat melayani dari unit terkecil yakni masjid adalah fondasi utama menuju kepemimpinan yang maslahat bagi umat dan bangsa.





0 Tanggapan
Empty Comments