Detik-Detik Menuju Keabadian

Senin, 27 Januari 2025– Nafas Terakhir di Tanah Dakwah
Malam itu, Ramanda Yusman tampak kurang sehat. Ia batuk-batuk, lalu berusaha tidur lebih awal. Kemudian satu jam berikutnya bangun lagi. Ia masih ditemani Ramanda Fathurrahim Syuhadi yang sedang menulis berita.
Kondisinya mulai memburuk. Kami ingin membawanya ke Puskesmas setempat, tapi kendaraan sulit didapat. Warga HW Arjasa segera membantu.
Namun, takdir telah ditetapkan. Dalam hening, Ramanda Yusman menghembuskan nafas terakhirnya. Pukul 02.00 tenaga medis datang ke lokasi dan menyatakan Ramanda Yusman telah wafat
Tangis pecah. Kami yang selama ini berjalan bersamanya, kini hanya bisa pasrah.
Selasa, 28 Januari 2025 – Gelombang Penghormatan yang Tak Terhenti
Sejak Subuh, ratusan orang datang memberikan penghormatan. Sholat jenazah digelar di PCM Arjasa dan dilepas oleh ketua PCM Arjasa dan diterima oleh Ketua Kwarwil HW Jatim. Lalu, jenazah dibawa dengan ambulans laut menuju Kalianget.
Di sepanjang perjalanan, doa dan air mata mengiringi kepergian Ramanda Yusman. Dari Muhammadiyah, Hizbul Wathan, KOKAM, Tapak Suci, IPM, Aisyiyah—semua hadir.
Setelah menempuh perjalanan 5 jam, jenazah RamandaYusman sampai di Sumenep dan disalat di masjid Babussalam. Ketua PDM Sumenep menjadi imam shalat sekaligus melepas jenazah Ramanda Yusman menuju Surabaya
Setibanya di Surabaya, jenazah kembali disholatkan di SMP Muhammadiyah 11. Jenazah dilepas oleh Bendahara PWM Jatim drh Zainul Muslimin. Lalu, dibawa ke kampung halaman di Kenep Balen Bojonegoro.
Selamat Jalan, Pejuang Sejati
Di pemakaman, barisan pasukan Hizbul Wathan dan Kokam memberikan penghormatan terakhir.
Ramanda Yusman telah kembali ke sisi-Nya. Namun, jejak perjuangannya tak akan pudar.
Kami menangis, tapi kami juga bangga. Ia pergi sebagai syuhada—berjuang hingga nafas terakhir di jalan dakwah.
Namanya akan terus hidup dalam setiap langkah Hizbul Wathan. (*)
Penulis Moh. Ernam Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan







0 Tanggapan
Empty Comments