Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jika dan Maka dalam Cahaya Tauhid

Iklan Landscape Smamda
Jika dan Maka dalam Cahaya Tauhid
Foto: iStockphoto
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Hidup manusia sering kali dipenuhi dengan keyakinan-keyakinan yang tidak bersumber dari agama. Kita mendengar orang berkata bahwa angka 13 adalah angka sial, menikah mendahului kakak akan membawa kesusahan, atau menabrak kucing pertanda malapetaka.

Ada pula yang percaya bahwa bayi baru lahir harus disematkan peniti agar tidak diganggu setan, atau bahwa foto bertiga berarti salah satu akan meninggal lebih dahulu.

Di tengah masyarakat, keyakinan seperti ini diwariskan dari mulut ke mulut, seolah-olah menjadi “kebenaran”. Namun, jika direnungkan, semua itu hanyalah rangkaian jika dan maka yang tidak memiliki dasar.

Jika menabrak kucing, maka akan celaka. Jika telinga berdenging, maka ada orang yang sedang membicarakan kita. Jika memberi sesaji di laut atau gunung, maka bala akan tertolak. Semua adalah “rumus” batil yang justru menyesatkan akidah.

Padahal, Islam telah menegaskan bahwa satu-satunya “jika dan maka” yang hakiki adalah hubungan antara iman dan konsekuensi amal.

Jika seorang hamba beriman dan bertauhid, maka Allah akan memberikan keselamatan dan keberkahan. Jika seorang hamba berbuat syirik, maka ia menjerumuskan dirinya ke dalam kerugian besar.

Allah SWT berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Beribadah kepada Allah berarti mentauhidkan-Nya, mengesakan-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Bahkan Rasulullah saw dengan tegas mengingatkan umatnya untuk menjauhi segala bentuk kepercayaan takhayul yang dapat menodai akidah. Beliau bersabda:

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa mempercayai peramal, dukun, atau paranormal bukanlah hal sepele, melainkan bisa meruntuhkan iman.

Mitos dan khurafat sering kali lahir dari rasa takut manusia terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya. Ia mencari penjelasan, lalu mengikatkan dirinya pada adat atau cerita nenek moyang.

Padahal, Islam datang untuk membebaskan manusia dari belenggu ketidaktahuan. Dengan ilmu tauhid, seorang Muslim memahami bahwa hanya Allah yang berkuasa menentukan kebaikan dan keburukan. Tidak ada angka, benda, atau makhluk yang dapat menentukan nasib seseorang.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sebagaimana ditegaskan dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa menggantungkan sesuatu (tangkal/azimat), maka Allah akan membiarkannya tergantung pada sesuatu itu.” (HR. Ahmad, Tirmidzi)

Artinya, siapa pun yang menggantungkan nasibnya pada sesuatu selain Allah, ia akan ditinggalkan Allah dalam kesesatannya.

Oleh karena itu, belajar akidah dan tauhid yang benar adalah kebutuhan pokok bagi setiap Muslim. Dengan mempelajarinya, kita akan memahami bahwa semua takdir hanya di tangan Allah, dan segala doa, usaha, serta tawakal harus ditujukan kepada-Nya.

Tanpa ilmu tauhid, manusia mudah terjerumus dalam perbuatan syirik tanpa disadari.

Ulama menegaskan bahwa tujuan ilmu tauhid adalah mengenal Allah dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna, menyucikan-Nya dari segala kekurangan, dan membenarkan risalah para nabi.

Dengan tauhid, kita selamat dari jebakan khurafat, adat yang menyimpang, dan warisan keyakinan yang menodai iman.

Mari kita renungkan: Jika kita malas belajar agama, maka kita akan terus hidup dalam bayang-bayang mitos. Jika kita belajar akidah, maka kita akan bebas dari khurafat dan mendapat cahaya kebenaran.

Semoga Allah SWT memberi kita taufik untuk terus belajar, memperbaiki akidah, dan menjaga tauhid hingga akhir hayat. Sebab, tauhid adalah pondasi Islam, dan syirik adalah dosa terbesar yang menghapus amal.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48)

Renungan ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua: jangan biarkan hidup kita digerakkan oleh “jika dan maka” yang batil. Jadikan ilmu tauhid sebagai cahaya, agar seluruh langkah kita bermakna dan menuju kepada Allah semata. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu