Menjadi guru bukan sekadar menjalankan profesi untuk mendapatkan penghasilan. Lebih dari itu, mengajar merupakan jalan menanam investasi akhirat melalui ilmu dan karakter yang ditanamkan kepada peserta didik.
Pesan tersebut disampaikan Mudir Pondok Pesantren Refah Islami Sidayu Gresik, KH Farid Dhofir, Lc., M.Si., dalam Kajian Rutin Triwulan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.
Kajian bertema “Bukan Sekadar Profesi, Mengajar adalah Investasi Akhirat” tersebut berlangsung di Masjid Al Mizan Kampus 1, Jumat (2/10/2026) siang.
Kegiatan diikuti Badan Pembina Al Mizan, Mudir Al Mizan Ustadz Mujianto, M.Pd.I., beserta jajaran pimpinan, serta seluruh guru dan karyawan dan ustadz-ustadzah Al Mizan.
Nabi Menyebut Dirinya sebagai Guru
Mengawali kajiannya, Farid Dhofir menyampaikan bahwa dirinya datang ke Al Mizan bukan untuk merasa lebih tahu, tetapi justru ingin belajar.
“Saya ke sini ingin belajar, karena dalam pengelolaan pendidikan di sini banyak ustadz senior saya,” ujarnya.
Ia kemudian menyampaikan sejumlah pesan tentang kemuliaan profesi guru dengan merujuk pada hadis Nabi Muhammad Saw.
Menurutnya, terdapat hadis yang menggambarkan bahwa Rasulullah Saw tidak diutus untuk menjadi sosok yang kasar, tetapi untuk membentuk manusia yang memiliki kasih sayang.
Hadis lainnya, lanjut ustadz Farid, menegaskan bahwa Rasulullah Saw diutus sebagai seorang guru.
“Kalau disebut profesi, di zaman Nabi banyak profesi. Ada petani, juru tulis, peternak. Tetapi yang disebut oleh Nabi adalah, ‘Aku ini guru,’” katanya.
Menurutnya, dari sekian banyak pekerjaan yang dapat menghasilkan materi, Nabi justru menyebut dirinya sebagai guru. Hal tersebut menunjukkan betapa mulianya posisi seorang pendidik.
“Berbahagialah kita yang profesinya menjadi guru,” tegasnya.
Terlebih, kata Farid, guru di lingkungan pesantren memiliki kesempatan besar untuk mengajarkan ilmu yang bersumber dari Al-Quran dan ajaran Islam.
“Penghasilan dari profesi yang halal itu baik. Namun dari berbagai penghasilan dari profesi yang halal, salah satunya adalah guru. Jadi penghasilan halal, pekerjaan halal, dan Nabi menjamin keberkahannya,” jelasnya.
Guru Membentuk Karakter Murid
Ustadz Farid juga menekankan bahwa tugas guru tidak berhenti pada penyampaian materi pelajaran. Guru memiliki peran besar dalam membentuk karakter peserta didik.
“Kalau gurunya lembut, maka akan menghasilkan murid yang lembut. Kalau gurunya keras, maka akan menghasilkan murid yang keras atau pemberontak,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, guru perlu menjadi sosok yang membuat peserta didik merasa nyaman dan senang dalam belajar.
Guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang menarik sehingga murid tidak merasa terbebani ketika menuntut ilmu.
“Guru yang memudahkan orang untuk belajar. Guru yang karakternya membuat muridnya suka belajar,” katanya.
Ia mencontohkan pembelajaran Matematika. Seorang guru Matematika harus mampu menjadikan pelajarannya menarik sehingga disukai peserta didik.
Hal yang sama berlaku dalam pembelajaran ilmu agama.
“Kalau dalam ilmu syar’i, di antara pelajaran yang sulit menurut murid itu adalah Ushul Fiqih. Maka sekarang kita butuh guru yang membuat anak-anak suka dengan Ushul Fiqih,” jelasnya.
Guru Harus Menjadi Pribadi yang Menarik
Ustadz Faridh kemudian menggambarkan bagaimana Rasulullah Saw menjadi guru yang mampu membuat para sahabat betah mengikuti pembelajaran.
Ia menceritakan bahwa dalam beberapa kesempatan, Rasulullah Saw menyampaikan ilmu kepada para sahabat dalam waktu yang panjang. Mereka tetap bertahan mengikuti pembelajaran dan tidak meninggalkan majelis.
Menurut Faridh, hal tersebut menjadi pelajaran penting bagi para guru saat ini.
“Jadi gurunya menarik, muridnya sabar menunggu. Kalau gurunya tidak menarik, maka muridnya akan habis,” ujarnya.
Karena itu, guru perlu terus melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Bukan hanya mengevaluasi materi yang disampaikan, tetapi juga cara menyampaikan dan dampaknya kepada peserta didik.
“Bagaimana kita menjadi guru yang menjadi jalan untuk murid lebih semangat menuntut ilmu,” tuturnya.
Ia mengajak para guru Al Mizan untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah dirinya termasuk guru yang disukai murid dan apakah pelajaran yang diajarkan menjadi pelajaran yang dinantikan oleh peserta didik.
Dua Bekal Guru
Di bagian akhir kajian, Faridh menyampaikan dua kebiasaan yang perlu dijaga oleh seorang guru jika ingin mendapatkan keberhasilan dalam mendidik.
“Guru itu kalau ingin sukses maka ada dua syaratnya, yaitu rajin shalat tahajud dan rajin mengaji,” ujarnya.
Ia kemudian mengutip kandungan Surat Al-Muzzammil ayat 1–5 yang menekankan pentingnya bangun malam dan membaca Al-Quran sebagai bekal dalam menjalankan tugas dakwah dan pendidikan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang guru tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan metode mengajar. Kekuatan spiritual juga menjadi fondasi penting dalam menjalankan amanah pendidikan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments