Dalam rangka mempererat ukhuwah serta meningkatkan kualitas keimanan pasca-Ramadan, Komite SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo menyelenggarakan kegiatan Kajian Wali Murid dan Halalbihalal pada Sabtu (4/4/2026) di Masjid At-Tanwir SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Ahmad Fauzi, M.Pd., sebagai pemateri.
Kegiatan diawali dengan kajian yang berlangsung khidmat, kemudian dilanjutkan dengan sesi halalbihalal sebagai momen saling memaafkan antara wali murid, guru, dan karyawan. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana tertib dan kebersamaan.
Dalam kajiannya, Ustadz Ahmad Fauzi menyampaikan bahwa Idulfitri merupakan momentum untuk menyambung silaturahmi sekaligus memastikan bahwa amal ibadah selama bulan Ramadan diterima oleh Allah Swt. Ia menekankan bahwa selain menjalankan ibadah selama Ramadan, hal yang tidak kalah penting adalah memohon agar amal tersebut diterima.
“Umat terdahulu tidak hanya beribadah, tetapi juga bersungguh-sungguh memastikan amalnya diterima. Salah satunya dengan selalu menyisipkan doa setelah salat: Ya Allah, terimalah seluruh amal ibadah kami,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya saling memaafkan karena kesalahan kepada sesama manusia tidak semudah diampuni dibandingkan dengan dosa kepada Allah Swt. Oleh karena itu, momen Idulfitri perlu dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungan sosial.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Idulfitri juga dapat dimaknai sebagai momentum 3R, yaitu refreshing, reunion, dan regulasi. Refreshing dimaknai sebagai waktu untuk menyegarkan diri setelah menjalani ibadah Ramadan.
Reunion menjadi ajang untuk bertemu kembali dengan keluarga, kerabat, dan sahabat. Sementara itu, regulasi dimaknai sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri dan menemukan inspirasi agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Menurutnya, setiap peristiwa dalam kehidupan akan bermakna apabila mampu direfleksikan dengan baik. Refleksi dan regulasi diri tersebut dapat memberikan arah dalam perjalanan hidup seseorang.
Ustadz Ahmad Fauzi juga menegaskan bahwa indikator keberhasilan Ramadan adalah keberlanjutan ibadah setelahnya. Bulan Syawal dimaknai sebagai waktu untuk melanjutkan berbagai amalan, seperti puasa sunah, membaca Al-Qur’an, serta menjaga pelaksanaan salat sunah.
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun kecil. Di sinilah pentingnya pembiasaan (habituation) dalam membentuk karakter,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan bahwa kebiasaan yang dilakukan secara berulang akan membentuk karakter, dan karakter tersebut akan memengaruhi masa depan seseorang. Oleh karena itu, peran orang tua dalam menanamkan kebiasaan baik kepada anak sejak dini menjadi hal yang penting.
Kegiatan ditutup dengan sesi halalbihalal, di mana seluruh peserta saling berjabat tangan dan bermaafan dalam suasana yang tertib dan penuh kebersamaan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin hubungan yang semakin erat antara sekolah dan wali murid serta tumbuh kesadaran untuk meningkatkan kualitas ibadah dan pembinaan karakter. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments