Jumat, 25 September 2026. Menjelang Salat Jumat, Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Jalan Kertomenanggal IV/I Surabaya kedatangan tamu.
Dewan Pers. Dua orang datang. Maulana Muhamad. Anggota Pokja Penelitian, Pendataan dan Ratifikasi Pers Dewan Pers. Satu lagi Syariful. Dari Sekretariat Dewan Pers.
Saya menerimanya sebagai Pemimpin Redaksi PWMU.CO, media official milik PW Jatim. Bukan sekadar kunjungan. Ini bagian dari verifikasi faktual perusahaan pers.
Saya jadi teringat masa ketika menjadi pemimpin redaksi Radar Surabaya. 15 tahun. Dunia pers memang terus berubah. Tetapi satu hal tetap sama. Pers harus bisa dipertanggungjawabkan.
Rombongan Dewan Pers tiba sekitar pukul 11.20 WIB. Waktunya pendek. Sebentar lagi azan Jumat. Pembicaraan pun dibuat ringkas. Kemudian dilanjutkan setelah sata Jumat.
Maulana bilang kalau kunjungan ke Muhammadiyah ini merupakan yang kedua. Sebelumnya, dia melakukan verifikasi di Kantor PP Muhammadiyah di Jakarta.
Dia juga pernah melakukan verifikasi terhadap media organisasi kemasyarakatan lain. Media NU di Jakarta.
Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sama-sama mempunyai perhatian terhadap media. Bukan hanya memiliki media. Tetapi juga mendukung kehidupan media.
Dua organisasi Islam besar itu membutuhkan media untuk menyampaikan gagasan. Dan media membutuhkan organisasi yang sehat untuk menjaga keberlangsungannya.
Di situlah pers menjadi lebih dari sekadar mesin berita. Ia menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan.
Verifikasi faktual bukan pemeriksaan basa-basi. Ada dokumen yang harus dibuktikan. Ada data yang harus dikonfirmasi. Ada dokumen asli yang harus diperlihatkan.
Perusahaan pers yang sudah lolos verifikasi administrasi kemudian diperiksa secara faktual di lapangan.
Standar perusahaan pers diperiksa. Standar perlindungan wartawan diperiksa. Standar kompetensi wartawan juga diperiksa.
Lalu ada konten. Konten tidak cukup hanya ada. Konten harus sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik. Kualitasnya juga menjadi bagian yang diperhatikan.
Dalam proses verifikasi itu, administrasi dan konten menjadi dua bagian penting. Hasilnya kemudian dibobot. Ada angka batas kelulusan yang harus dicapai.
Bagi media, ini bukan sekadar urusan sertifikat. Ini soal disiplin. Soal bagaimana sebuah perusahaan pers menempatkan dirinya. Apakah hanya ingin cepat? Atau juga ingin benar?
Di sela pembicaraan itu, obrolan kami melebar. Justru di situlah bagian yang paling menarik. AI. Artificial intelligence. Topik yang sekarang seperti tidak bisa dihindari.

AI sudah masuk ke ruang redaksi. Masuk ke meja wartawan. Masuk ke proses menulis. Bahkan mungkin sebentar lagi masuk ke hampir semua pekerjaan jurnalistik.
Tidak perlu panik. Tetapi juga jangan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Saya dan kedua perwakilan Dewan Pers itu memiliki pandangan yang hampir sama. AI sulit dibendung. Bahkan mungkin tidak perlu dibendung.
Teknologi selalu begitu. Ketika sudah datang, ia mencari jalannya sendiri. Yang harus dijaga justru manusianya. Jurnalismenya. Etikanya. Dan orisinalitasnya.
AI bisa membuat tulisan dalam hitungan detik. Ia bisa merangkum. Bisa menyusun ulang.
Bisa memperbaiki bahasa. Bisa membuat judul. Bisa membantu mencari sudut pandang. Tetapi ada sesuatu yang tidak mudah digantikan.
Pengalaman berada di lapangan. Merasakan suasana. Menangkap percakapan kecil. Melihat sesuatu yang tidak masuk kamera. Mendengar kalimat yang tidak masuk rilis. Lalu menghubungkan satu fakta dengan fakta lainnya.
Itulah pekerjaan jurnalistik. Bukan sekadar merangkai kata. Karena itu, masa depan media mungkin justru bukan pada berita yang semakin cepat.
Berita cepat akan semakin mudah dibuat. Mesin bisa membantu. AI bisa membantu. Bahkan berita yang hanya berisi siapa melakukan apa, kapan, dan di mana, suatu saat mungkin bisa dibuat hampir tanpa manusia.
Lalu apa yang tersisa?
Kedalaman. Konteks. Keaslian. Dan kedekatan dengan pembaca. Di sinilah tulisan indepth dan feature menemukan kembali tempatnya.
Bukan karena tulisan itu panjang. Bukan pula karena bahasanya indah. Tetapi karena ia memberikan sesuatu yang tidak didapat pembaca dari sekadar hasil pencarian atau ringkasan mesin.
Ada manusia di dalamnya. Ada pengalaman. Ada konteks. Ada pertanyaan. Ada detail kecil. Ada kegelisahan. Ada temuan. Dan yang paling penting: ada alasan mengapa cerita itu layak dibaca.
Saya kira media ke depan akan terbagi semakin jelas.
Media yang hanya mengejar kecepatan akan berhadapan dengan mesin yang jauh lebih cepat.
Media yang hanya mengandalkan informasi umum juga akan menghadapi mesin yang jauh lebih luas pengetahuannya.
Tetapi media yang mampu menghadirkan pengalaman manusia akan memiliki ruangnya sendiri.
Wartawan datang. Bertemu orang. Mendengar cerita. Memeriksa fakta. Mencium suasana. Menemukan sesuatu. Kemudian menuliskannya dengan sudut pandangnya.
Di situlah nilai jurnalistik. Bukan pada banyaknya kata. Tetapi pada sesuatu yang tidak bisa diperoleh pembaca di tempat lain.
Tetapi ada satu syarat. Media harus mengenal pembacanya. Engagement tidak lahir dari sekadar mengejar klik.
Pembaca harus merasa bahwa media itu berbicara kepada mereka. Bukan kepada algoritma semata.
Karena itu, media perlu membangun hubungan. Membaca apa yang dibutuhkan pembaca. Menyediakan informasi yang berguna. Menyentuh persoalan yang mereka hadapi.
Dan sesekali membawa mereka kepada cerita yang tidak mereka sangka akan menarik.
Media yang dekat dengan pembacanya akan memiliki umur lebih panjang. Bukan karena selalu paling cepat.
Tetapi karena dipercaya. Kunjungan Dewan Pers itu akhirnya menjadi semacam cermin.
Kami memang sedang diperiksa. Dokumen diperiksa. Administrasi diperiksa. Konten diperiksa. Tetapi sesungguhnya pers selalu perlu memeriksa dirinya sendiri.
Apakah berita kita masih orisinal? Apakah wartawan kita masih turun ke lapangan? Apakah fakta masih menjadi dasar? Apakah kode etik masih menjadi pagar?
Dan ketika AI semakin pintar, apakah kita justru semakin malas berpikir? Pertanyaan terakhir itu mungkin yang paling penting.
Sebab ancaman terbesar AI bagi pers bukan ketika mesin bisa menulis seperti manusia.
Ancaman yang lebih besar adalah ketika manusia mulai menulis seperti mesin Pendek. Cepat. Rapi. Tetapi tanpa jiwa.
Jumat itu, Dewan Pers datang untuk memverifikasi. Saya justru pulang dengan pertanyaan. Tentang masa depan pers. Tentang wartawan. Tentang AI. Dan tentang apa yang masih membuat sebuah tulisan layak dibaca.
Jawabannya mungkin sederhana. Mesin bisa membantu membuat tulisan. Tetapi cerita tetap membutuhkan manusia. Karena berita boleh dibuat cepat. Namun kepercayaan tidak pernah bisa dibuat instan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments