Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Kalahkan 122 Peserta, Dua Siswa Smamita Sabet Gold Medal Kompetisi PPKn Nasional

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Kalahkan 122 Peserta, Dua Siswa Smamita Sabet Gold Medal Kompetisi PPKn Nasional
Luhfakhanto Akhmad Annadif dan Abror Rakha Fattahnur keduanya berhasil meraih Gold Medal dalam Kompetisi PPKn tingkat nasional. Foto: Satrio
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Tantangan mempertahankan nilai-nilai Pancasila di tengah arus globalisasi dan modernisasi menjadi salah satu isu yang mengantarkan dua siswa SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) meraih prestasi nasional. Keduanya berhasil menyabet Gold Medal dalam Kompetisi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) tingkat nasional yang diselenggarakan Program Studi PPKn Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jumat (30/10/2026).

Dua siswa berprestasi tersebut adalah Luhfakhanto Akhmad Annadif dari International Class XI-5B dan Abror Rakha Fattahnur dari Excellent Class XII-1. Keduanya berhasil meraih medali emas setelah bersaing dengan sekitar 122 peserta dari berbagai sekolah di Indonesia, mulai dari Kalimantan, Bali, Jakarta, Jawa Tengah, hingga sejumlah daerah lainnya.

Kompetisi ini tidak sekadar menguji penguasaan materi PPKn. Peserta juga ditantang memahami berbagai persoalan kebangsaan, berpikir kritis, serta menyampaikan argumentasi berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Luhfakhanto mengungkapkan, persiapan mengikuti kompetisi dilakukan dengan mempelajari berbagai materi sesuai kisi-kisi yang diberikan. Materi yang menjadi fokus pembelajarannya antara lain undang-undang, hak asasi manusia (HAM), dan Pancasila.

“Persiapan yang saya lakukan dengan mempelajari kisi-kisi materi, terutama undang-undang, HAM, dan juga Pancasila,” jelasnya.

Kompetisi berlangsung secara daring melalui Zoom. Pada tahap awal, setiap tim harus mengerjakan sekitar 110 soal pilihan ganda dalam waktu 60 menit. Setelah itu, peserta menunggu pengumuman untuk mengetahui tim yang berhasil melaju ke babak penyisihan 12 besar.

Sebanyak 12 tim terbaik kemudian mengikuti sesi diskusi dan adu argumentasi mengenai berbagai persoalan aktual. Topik yang dibahas meliputi dwifungsi militer, pelanggaran HAM, hingga tantangan mempertahankan nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi.

Pancasila Jangan Kalah oleh Individualisme

Bagi Luhfakhanto, salah satu isu menarik dalam kompetisi tersebut adalah tantangan menjaga eksistensi Pancasila di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, masuknya budaya dan ideologi dari luar dapat memengaruhi pola pikir serta perilaku masyarakat. Salah satu dampaknya adalah munculnya sikap individualistis yang berpotensi mengikis kepedulian sosial dan semangat gotong royong.

“Pancasila merupakan cita-cita dan pedoman bangsa yang harus diterapkan seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai nilai-nilai gotong royong dan kepedulian sosial semakin tergerus oleh sikap individualistis,” ungkapnya.

Ia menambahkan, modernisasi semakin mempercepat arus globalisasi. Karena itu, masyarakat perlu bersikap bijak dalam menerima berbagai perubahan agar tidak kehilangan jati diri bangsa.

Menurutnya, Pancasila sebagai ideologi terbuka memungkinkan bangsa Indonesia mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya.

“Menjaga Pancasila tidak cukup hanya dengan menghafalkan sila-silanya, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat,” tegasnya.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Latihan 110 Soal Setiap Hari

Keberhasilan Luhfakhanto dan Abror tidak terlepas dari proses pembinaan intensif yang dilakukan guru PPKn Smamita, Alifia Widianti, S.Pd., M.H.

Alifia mengakui, persiapan menuju kompetisi kali ini menghadapi sejumlah kendala. Luhfakhanto harus mengikuti program sekolah di Kampung Inggris, Pare, Kediri. Sementara itu, Abror sempat mengalami sakit tifus.

Meski menghadapi keterbatasan waktu dan kondisi kesehatan, keduanya tetap berusaha mengikuti pembinaan dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.

“Sebetulnya, saya merasa persiapan kali ini tidak terlalu optimal karena ada beberapa kendala. Namun, saat bimbingan sebelum babak penyisihan, dua anak tersebut menunjukkan kemampuan yang luar biasa. Alhamdulillah, mereka berhasil meraih Gold Medal dan mengungguli peserta dari SMA Negeri 15 Surabaya, bahkan MAN 2 Kota Malang,” jelasnya.

Untuk mempersiapkan siswa, Alifia menerapkan latihan intensif berupa drilling 110 soal setiap hari. Soal-soal tersebut disusun sendiri berdasarkan materi yang telah diajarkan di kelas.

Menurutnya, latihan rutin tidak hanya membiasakan siswa mengerjakan banyak soal dalam waktu terbatas, tetapi juga membantu mereka mengidentifikasi materi yang belum dikuasai.

“Dari latihan soal, anak-anak bisa mengetahui kelemahan mereka. Misalnya, ketika masih kesulitan memahami periodisasi demokrasi, materi tersebut akan saya jelaskan kembali sampai mereka lebih memahaminya,” terangnya.

Selain latihan soal, Alifia juga menerapkan metode recall atau mengingat kembali materi yang telah dipelajari. Siswa diminta menjelaskan kembali materi kepada teman-temannya agar pemahaman semakin kuat.

Melalui metode tersebut, siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi juga belajar menyampaikan gagasan, memahami konsep, dan membangun argumentasi secara logis.

Prestasi Luhfakhanto dan Abror menjadi kebanggaan bagi keluarga besar Smamita. Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan pentingnya pembinaan akademik yang mendorong siswa berpikir kritis dan memahami persoalan kebangsaan.

Lebih dari sekadar medali, capaian tersebut membawa pesan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam merawat nilai-nilai Pancasila. Tantangan zaman boleh terus berubah, tetapi semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan persatuan harus tetap menjadi pegangan. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 31/10/2026 07:07
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu